Dilema Guru Honorer di Era Covid-19

  • Whatsapp
Eqi Fitri Marehan
Anggota ATPUSI Kabupaten Bangka, Babel

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak henti-hentinya mengingatkan bahwa pandemi global Coronavirus disease 2019 atau lebih dikenal dengan Covid-19, terus menunjukkan trend yang meningkat di seluruh belahan dunia. Di Indonesia, dampak penularannya bukan saja mengguncang sektor kesehatan, tetapi sektor-sektor lain juga mengalami pukulan berat.

Sejak wabah pandemi Covid-19 terjadi hingga saat ini, banyak sektor mengalami perubahan yang signifikan. Tidak hanya para pekerja harian di sektor informal saja yang sangat terdampak wabah Covid-19 secara perekonomian, para pendidik dengan status honorer pun turut merasakannya.

Read More

Di sektor pendidikan, sejumlah guru honorer yang berpenghasilan rendah mulai gundah-gulana. Apalagi pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pembatasan jarak sosial (social distancing atau psycal distancing) untuk menekan penyebaran penularan virus corona.

Banyak guru yang harus terpaksa dirumahkan atau mengalami penurunan pendapatan, beralih profesi menjadi tukang parkir, pemulung, dan lain-lain sekadar menyambung hidup. Hal ini menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah.

Setelah adanya imbauan untuk tidak berkegiatan di luar rumah, mayoritas sekolah-sekolah diliburkan. Penyaluran bantuan operasional sekolah pun turut terhambat. Alhasil, para guru honorer yang biasanya mendapatkan tunjangan dari dana ini pun otomatis tidak mendapatkan haknya. Terlebih, banyak dari mereka yang diupah berdasarkan dari kehadiran dalam sebulan.

Selama pandemi Covid-19, jutaan guru honorer menghadapi situasi sulit dengan pendapatan yang tidak jelas. Mereka tidak lagi hadir di ruang-ruang kelas. Padahal selama ini, mereka digaji per jam sesuai dengan jam pengajaran mereka. Lebih parahnya, guru-guru di sekolah swasta mengalami nasib yang jauh lebih parah. Mengapa? Karena anak didik dan orang tua anak didik enggan membayar uang sekolah selama masa belajar di rumah.

Metode pembelajaran dalam jaringan atau daring (online learning) yaitu pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan perangkat komputer, ada gadget, diterapkan untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut. Penerapan kebijakan pembelajaran daring memang mengalami sejumlah kendala, terutama bagi sekolah-sekolah yang ada di pedesaan. Pada tingkat teknis operasional tidak semua guru dan siswa siap mengoperasikan sistem pembelajaran jarak jauh termasuk mempersiapkan bahan ajar secara digital.

Related posts