Digitalisasi Mengancam Generasi

  • Whatsapp

Oleh: Tri Melinda, S.Pd.I
Anggota Muslimah Study Club Babel

Saat ini, kita telah memasuki dunia digital yang memungkinkan banyak hal dapat dikendalikan dari segala tempat melalui jaringan internet dengan perangkat gadget/smartphone. Terutama generasi milenial, saat ini memang akrab dengan gadget dan paling suka bermain. Permainan on line atau game on line yang merebak di tengah-tengah masyarakat bisa di akses semua kalangan baik oleh remaja, orang tua bahkan anak-anak.

Permainan yang ditawarkan di dalam game on line memberikan hiburan yang luar biasa yang menjadikan para gamers terdorong untuk memainkannya lagi dan lagi. Jenis permainan di dunia maya ini, bisa di jangkau oleh semua orang di seluruh dunia tanpa batas dan waktu. Namun, di balik ‘asyiknya’ game on line timbul berbagai dampak negatif yang terjadi pada ‘pecandu’ game on line.

Seperti kata dr Kristiana Siste Kurniasanti di Jakarta “Misalnya ada orang tua yang datang kemari karena anaknya sudah mau di-DO (Drop Out) dari universitasnya di Purwokerto. Anak kecanduan game online, jam 1, 2 pagi masih online. Gak mau mandi, sampai pispot dibawa masuk ke kamar karena gak mau ke kamar mandi, dia gak mau meninggalkan gamenya, jadi dibawa kemar.” (https://www.abc.net.au, 14/06/2019).

Di Semarang 20 Orang anak terindikasi gangguan mental akibat kecanduan game yang diunduh melalui gawai. Gangguan mental yang mereka alami bervariasi mulai kehilangan fokus berjalan hingga kecenderungan mengurung diri terlalu lama di dalam rumah. “Jadi, rata-rata orang tua mengeluh adanya perubahan perilaku anak-anak di lingkungan rumah. Ketika ditegur, si anak berontak dan langsung marah tidak terkendali, ada juga prestasi di sekolah merosot drastis. Ini yang dikhawatirkan mereka,” kata Wakil Direktur RSJD Amino Gondohutomo Semarang, Erlina Rumanti. (https://today.line.me, 20/06/2019).

Psikolog Kota Medan dari Minauli Consulting, Irna Minauli mengatakan, games online, terutama PUBG sangat berbahaya, karena harus dimainkan secara terus-menerus tanpa jeda. Mereka pecandu games ini khawatir jika permainan terjeda, maka akan kehilangan kesempatan mendapatkan hadiah besar di saat-saat tertentu. Menurutnya, kecanduan bermain games ini, berpengaruh besar pada gangguan tidur, karena sudah tidak lagi mengenal waktu, seperti gangguan penglihatan, fungsi hati, menjadi hiper aktif, menurunnya konsentrasi, menunda-nunda pekerjaan, hingga menjadi pemarah serta cenderung menjauh dari hubungan sosial. (www.petaberita.com, 17/07/2019).

Pemkab Bangka merasa prihatin dan gerah lantaran banyaknya laporan pelajar yang bermain game online di warung internet (warnet) hingga larut malam. Bahkan sebagian pelajar mulai malas besekolah dan kecanduan bermain game online. Pj Sekda Bangka, Achmad Muchsin menegaskan pihaknya mengimbau agar pengelola warnet membatas jam bermain game online untuk para pelajar. “Pemkab Bangka sudah mengambil sikap dengan mengirimi surat kepada pengelola warnet untuk membatasi waktu bermain kepada pelajar daerah ini. Peran sekolah serta orang tua masing-masing juga dibutuhkan dalam mengawasi dan mengontrol keseharian kegiatan yang dilakukan anak-anak saat di rumah mau pun lingkungannya.” kata Achmad Muchsin kepada wartawan, Rabu (7/92019). (https://kumparan.com, 08/08/2019).

Selain itu, fakta membuktikan kecanduan bermain game on line juga mampu membuat anak-anak malas untuk belajar atau memahami pelajaran di sekolah. Mereka lebih peduli dengan permainan game on line di bandingkan pelajaran di sekolah. Pelajaran sekolah menjadi tidak menyenagkan lagi. Padahal dengan belajar mereka akan mendapat banyak ilmu yang membuat mereka akan menjadi generasi yang hebat. Tidak hanya itu game on line pun turut berperan membentuk karakter remaja. Kondisi remaja yang terisolasi dari interaksi dengan masyarakat menjadikan mereka tidak peduli terhadap orang lain. Para generasi milenial pun menjadi terlena dan malas untuk meraih cita-cita dan memilih untuk menenggelamkan diri dalam dunia game on line. Banyak orngtua yang prihatin dan mengeluhkan kondisi anak anak mereka karena mereka menjadi anak – anak yang sulit di atur dan kasar.

Sungguh miris, mengingat remaja adalah generasi penerus bangsa. Remaja merupakan sosok yang sangat berperan dalam proses pembangunan bangsa. Banyak harapan yang diletakan di pundak mereka. Namun kini sang ‘agent of change’ justru ditenggelamkan dalam dunia maya yang melenakan.

Hal ini wajar terjadi dalam sistem liberalisme kapitalis. Sistem ini dengan asasnya pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) telah menjadikan manfaat sebagai tolak ukur perbuatan. Sehingga tidak heran jika sistem ini menjadikan tujuan setiap tindakan hanya untuk mengejar materi semata. Sehingga tak segan-segan menjadikan apapun sebagai objek untuk meraih materi sekalipun itu bisa merusak generasi seperti halnya game on line.

Berbeda dengan Islam, keberadaan remaja sebagai generasi penerus suatu bangsa amatlah penting. Karena maju tidaknya suatu bangsa tergantung pada kualitas remaja hari ini. Islam memandang semua pihak bertanggung jawab dalam pembentukan generasi muda, baik orangtua sebagai wadah pertama dan utama di rumah, lingkungan tempat remaja tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat yang lain dan negara yang bertanggung jawab melahirkan generasi Islam sebagai bagian dari tugas negara.

Islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya pengaturan terkait dengan media baik media cetak maupun elektronik. Islam memandang media baik cetak maupun elektronik sebagai hasil kecanggihan teknologi yang secara hukum boleh di gunakan. Hanya saja media massa perlu di awasi keberadaannya karena baik buruknya pengaruh media massa terhadap masyarakat tergantung pada baik buruknya sistem yang menghadirkan.

Negara sebagai pemegang kebijakan berkewajiban untuk mengerahkan segenap potensi dana, ahli dan teknologi untuk menangkal masuknya pemikiran, ide, serta nilai yang bertentangan dengan aqidah Islam melalui media massa, serta melarang semua konten media yang merusak seperti pornografi dan kekerasan baik dengan pelaku manusia maupun kartun/animasi baik melalui media cetak maupun elektronik dan memberikan sanksi yang tegas kepada para pelakunya.

Selain itu, negara pun berkewajiban menghadirkan tontonan yang menyehatkan bagi pembentukan kepribadian masyarakat terutama kalangan remaja agar mereka memiliki pola pikir dan pola sikap Islam (Syaksiyah Islam) dengan menghadirkan keteladanan generasi sukses dalam peradaban Islam sebagai role model melalui media cetak dan elektronik, karenanya tidak ada tontonan yang melemahkan baik berupa film maupun games yang membuat kecanduan, dan meniadakan tokoh-tokoh khayalan dengan kekuatan super. Inilah gambaran bagaimana Islam menjaga generasi dari kerusakan karena media. Hanya saja ini semua akan terwujud jika Islam di terapkan secara sempurna. Karena generasi yang unggul tidak akan lahir dari sistem yang rusak. Wallahu a’lam bishshawab.(***).

Related posts