by

Dibalik Euforia Pendidikan Indonesia

Oleh : Rani Dian Sari
Mahasiswi Sosiologi FISIP UBB

Rani Dian Sari

Mengawali tulisan singkat ini, Penulis membukanya dengan sebuah pernyataan bahwa Indonesia sedang bergiat mengembangkan kualitas pendidikan agar setara dengan negara-negara maju dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Para petinggi negara tidak henti-hentinya mengevaluasi sistem pendidikan Indonesia yang dianggap selalu kurang pas lalu menggantinya dengan sistem yang baru. Begitulah seterusnya. Pendidikan di nomor satukan sebagai wujud memperbaiki kualitas sumber daya manusianya. Terlebih anak-anak yang kini sangat antusias dalam menuntut ilmu, mereka belajar di kelas dari pagi hingga sore atas tuntutan kurikulum yang semakin menjadi-jadi, lalu belajar dibimbingan belajar (bimbel) untuk mengasah kemampuan intelektualitasnya. Program beasiswa juga kini tersedia dimana-mana. Kemiskinan yang semula disebut sebagai penghambat untuk mengenyam pendidikan kini tak lagi dipersoalkan.

Euforia pendidikan Indonesia tidak hanya sampai disitu saja, fasilitas penunjang akademik kini diupayakan sangat beragam, mulai dari komputer, wifi sekolah maupun kampus, buku, perpustakaan, hingga perpustakaan elektronik, dan yang pasti diikuti semangat dan rasa bahagia jika seseorang dapat mengenyam pendidikan saat ini. Rasanya lengkap sudah upaya yang terus dilakukan.

Lantas, ada apa dibalik euforia pendidikan Indonesia ? Sudah tentu, sekarang kita dipaksa menyaksikan sebuah anomali terpampang jelas pada realitas pendidikan kita. Berganti-gantinya kurikulum menandakan bahwa pendidikan kita belum berada porsi yang ideal. Kemudian jika dikaji dari sistem pendidikan, di Indonesia masih terus mencari-cari dan berganti kurikulum. Setiap pergantian Menteri atau Dirjen di suatu Kabinet, ganti pula kurikulum bahkan ganti sistem pendidikan. Mengapa demikian? Karena Indonesia tidak memiliki sistem besar yang telah established, yang telah mantap, yang telah menjadi benchmark. (Bustami 2013).

Bahkan dari awal kemerdekaan hingga sekarang, kita masih mencari-cari bahkan mengobrak-abrik sistem yang telah dibangun. Inilah kenyataan pahit pendidikan di Indonesia, pemikiran yang digunakan lebih kepada bagaimana membuat 5 tahun kepemimpinan mereka tanpa cacat dengan mengeluarkan program-program yang dapat dinikmati dalam kurun waktu singkat. Sedangkan permasalahannya adalah pendidikan hasilnya tidak dapat dituai dalam waktu singkat.

Jika kita berkaca pada 10 besar negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia, terdapat negara Finlandia, Jepang, Swedia, Norwegia, UK, Kanada, Korea Selatan, Hongkong, Singapura, dan Denmark. Pergantian pemerintahan pasti tidak dapat dilepaskan pula dari beberapa negara di atas. Pemerintahan boleh berganti, namun kebijakan pendidikan tidak akan diobrak-abrik dengan mengubah basis tujuan dan sistem yang telah dibangun.

Permasalahan pendidikan bukan hanya terletak pada orang tua yang mudah menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, bukan hanya tenaga pendidik yang kurang profesional, bukan hanya biaya pendidikan yang mahal, tetapi juga pada kualitas siswa yang masih rendah. Pembelajaran yang berlangsung dari pagi hingga sore dikelas apakah seimbang dalam membentuk kecerdasan yang meliputi intelektulitas, emosional, dan sosial ? Setiap orang mempunyai kapasitas otak yang dominan berbeda. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda, punya kreativitas yang berbeda, dan mempunyai mimpi yang berbeda pula. Jika kita amati bersama, tolak ukur seseorang menjadi jenius hanya diukur apabila nilai yang diperoleh A. Secara intelektulitas memang cerdas, lantas bagaimana dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial?

Inilah sebuah realitas yang menjelaskan bahwa pendidikan kita belum berada pada porsi yang ideal. Pendidikan yang dibangun hanya pada pandangan bagaimana nilai yang diperoleh di atas kertas itu sempurna tanpa realisasi dengan praktik yang seimbang. Untuk itu, kita perlu membangun sebuah sistem pendidikan jangka panjang agar sistem pendidikan juga tidak dengan mudah dirubah dengan basis dan tujuan yang lain. Kemudian, meningkatkan kualitas siswa dengan membiasakan dan mengembangkan minat baca agar tercitpta budaya literasi dikalangan intelektual. Serta menerapkan sistem belajar yang dapat mengasah kecerdasan intelektualitas, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. (****).

Comment

BERITA TERBARU