Deputi Pencegahan BNN Paparkan Dampak Buruk akibat Legalisasi Ganja

  • Whatsapp

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG – Dilatari semakin berkembangnya opini legalisasi ganja, Deputi Bidang Pencegahan BNN berinisiatif untuk memberikan pencerahan, sekaligus menyerap aspirasi generasi muda dengan menggelar acara talkshow yang disajikan dalam Webinar dengan tema “Generasi Muda Melawan Legalisasi Ganja”.

Kegiatan yang dilaksanakan Rabu (3/6/2020) di ruang Social Media Center BNN ini dihadiri pembicara Deputi Pencegahan BNN Irjen Drs. Anjan Pramuka Putra, SH, MHum, Direktur Informasi dan Edukasi BNN Brigjen Drs. Purwo Cahyoko, M.Si. dan Praktisi Ahli Farmasi, Brigjen Pol. (Purn) Drs. Mufti Jusnir juga sebagai anggota Pok Ahli BNN.

Deputi Pencegahan BNN memaparkan alasan utama penolakan legalisasi ganja ini sebagai upaya penyelamatan generasi muda.

“Berbagai dampak buruk yang nyata diakibatkan oleh legalisasi ganja di berbagai belahan dunia, ini tentunya menjadi pelajaran berharga buat kita,’ ujar Irjen Drs. Anjan Pramuka Putra dalam rilis yang diterima rakyatpos.com, Rabu (3/6/2020) malam.

Baca Lainnya

Ia juga menjelaskan bahwa dari beberapa negara yang telah menjalankan legalisasi, beberapa mulai mempertanyakan efektifitas strategi ini.

“Alasan ekonomi, tidak sepenuhnya benar. Yang tadinya mengharapkan adanya pemasukan dari sektor pajak, ternyata tidak segampang dalam teori. Hal ini karena sindikat narkoba juga masih tetap bermain bahkan di era legalisasi,” beber Anjan.

Di sisi lain, Jenderal Bintang Dua ini menegaskan bahwa dampak ekonomi terkait peningkatan biaya medis akibat penggunaan ganja yang berdampak kecelakaan maupun perawatan medis dan rehabilitasi.

Senada juga disampaikan oleh Farmakolog, Mufti Jusnir bahwa euphoria maupun paranoid merupakan dampak dari THC (Tetrahidrokanabinol) adalah psikotropika yang merupakan senyawa utama dari ganja dapat mengkibatkan berbagai gangguan mulai dari persepsi, motorik, memori maupun hal lainnya dan pada titik tertentu dapat berakibat kecelakaan maupun dampak buruk lain.

Dari perspektif hukum, Brigjen Pol Purwo Cahyoko menyoroti sistem hukum yang masih menggolongkan ganja sebagai golongan narkotika.

“Proses penggolongan tentunya melalui mekanisme sistem hukum kita. Ratifikasi dan adopsi ke dalam sistem hukum nasional kita,” paparnya.

Purwo menjelaskan, revisi atau perubahan peraturan telah beberapa kali terjadi, namun belum adanya perubahaan penggolongan ini.

“Status ganja dapat diartikan bahwa mekanisme pembentuk hukum kita masih melihat betapa ganja masih berbahaya dan karenanya harus dilakukan perlindungan maksimal untuk masyarakat kita dari bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap ganja,” urainya.

Perihal ganja yang cukup menarik di kalangan mahasiswa yang menjadi peserta Webinar ini, cukup aktif menanyakan perihal isu yang berkembang di media maya. Hal ini juga menjadi perhatian Brigjen Pol (Purn) Mufti Djusnir yang menerangkan secara gamblang bagaimana ganja mempunyai efek yang merugikan cukup besar dibandingkan manfaatnya.

Dijelaskannya, jenis ganja yang tumbuh di Indonesia, adalah bukanlah jenis ganja untuk pengobatan, karena kandungan THC-nya jauh lebih besar daripada kandungan CBD-nya.

Dari kalangan mahasiswa memang belakangan ini sering terdengar opini untuk legalisasi ganja. Hal ini didukung pula oleh kencangnya berita dan opini yang dikampanyekan lewat media online dan sosial.

“Ini yang kita khawatirkan, generasi muda kita terpapar opini yang tidak benar lewat dunia online. Itu sebabnya kita juga melakukan edukasi lewat dunia online untuk dapat mencakup lebih banyak generasi muda dan millenial kita,” tandas Anjan sembari menutup Webinar yang cukup menarik perhatian mahasiswa ini.

Dari Webinar ini yang didukung oleh kalangan muda dan mahasiswa ini sangat tegas BNN menolak berbagai upaya legalisasi ganja, dan diharapkan berbagai kalangan masyarakat dapat memahami lebih dalam lagi berbagai bentuk penyalahgunaan narkoba. (bis)

Related posts