Dengan Buku Kita Hidup

  • Whatsapp

Oleh: Meri Andini
Siswa Kelas Beasiswa PT. TIMAH Tbk SMAN 1 Pemali

“ Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.” (Joseph Bordsky)

Buku adalah jendela ilmu, dengan menulis dan membacanya maka akan banyak ilmu
yang dapat kita peroleh. Faktanya, kebanyakan orang yang berilmu membagikan ilmu
yang mereka miliki serta ilmu yang mereka kuasai pada bidang tertentu, yaitu dengan cara
menuliskannya dalam bentuk suatu karya berupa buku. Agar karya yang mereka miliki tak
lupus oleh waktu dan tak lekang termakan zaman. Dengan bermaksud bisa di baca dari
generasi ke generasi, baik generasi yang lalu, generasi yang sekarang maupun generasi yang
akan datang, guna menambah wawasan diri sendiri maupun khalayak ramai.

Faktanya, dari membaca bukulah kita akan tahu ilmu apa saja yang telah dibagikan
seorang penulis kepada si pembaca. Semakin banyak buku yang telah kita baca, maka
semakin luas ilmu pengetahuan yang kita dapatkan. Dari buku juga, kita dapat mengambil
pelajaran penting ataupun hikmah dari karya-karya, yang telah dituliskan seseorang. Agar
hikmah dan pengajaran dari buku tersebut mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Terutama bagi generasi milenial yang sekarang, mereka lebih suka membaca buku yang
dianggap menarik serta ada pengajaran yang bermanfaat di dalamnya. Agar pengajaran baik
tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi mereka masing-masing. Jadi, apabila isi
tulisan si penulis dapat mencerahkan bagi seorang pembaca, tentunya seorang pembaca akan
terhanyut dan terbuai dengan apa saja yang telah disajikan oleh penulis tersebut. Tanpa
disadari bahwa pembaca telah menjadi follower dari penulis buku tersebut.
Di Indonesia begitu banyak buku, baik di toko-toko buku maupun di perpustakaan
yang telah tersedia. Dari sekian banyak buku yang ada, pasti ada judul buku
yang mampu menarik perhatian kita dan membuat kita menjadi penasaran akan isi yang
disajikan buku tersebut. Kita pun sebagai reader ataupun sebagai calon pembeli buku
berusaha mencari buku yang dapat memikat hati dan sesuai dengan kebutuhan kita pada saat
itu. Namun, biasanya kita akan dihadapkan pada keputusan dalam membeli buku yang kita
inginkan, terutama pastinya kita akan menyesuaikan dengan isi kantong (budget) yang kita
miliki. Terkadang ingin rasanya membeli semua buku bagus yang berada di depan mata.
Terutama yang telah menjadi buku best seller di toko buku tersebut. Namun, kondisi
keuangan yang tidak memungkinkan biasanya seringkali membuat kita hanya bisa mengintip
sedikit isi cerita dari buku-buku best seller itu.

Sehingga konsekuensinya adalah kita menjadi berlama-lama membaca di toko buku
tersebut. Namun, apabila pelayan tokonya ramah dan mengerti bahwa kita sedang
memerlukan buku tersebut, maka dia akan dengan ramah mempersilahkan kita membaca
buku yang dijualnya di toko tersebut. Namun, penulis berasumsi bahwa di Indonesia
sendiri sudah banyak tersedia toko buku yang berkualitas, serta perpustakaan yang keren-
keren pun juga tersedia di Indonesia contohnya perpustakaan di Universitas Indonesia (UI)
dan perpustakaan lainnya. Buku-buku yang disajikan pun sangat bagus dan bervariasi. Baik
dari buku kuliner, cara memasak, cara berfashion, cara bermain alat musik, lagu-lagu daerah,
ilmu pengetahuan, semuannya telah tersedia dengan lengkap di toko buku dan di
perpustakaan Indonesia. Kecuali, ada beberapa buku sejarah mengenai Indonesia tidak bisa
kita baca karena buku tersebut di Negara Belanda, kecuali kita berkunjung ke perpustakaan
yang ada di Belanda, barulah kita dapat membaca buku tersebut.

Penulis juga beropini dengan banyaknya toko buku dan perpustakaan yang telah
tersedia di Indonesia, seharusnya para generasi bangsa harus memanfaatkan fasilitas tersebut
dengan sebaik mungkin. Namun berbeda halnya dengan beberapa daerah terpencil yang ada
di Indonesia, salah satu contohnya yaitu daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), di daerah Nusa
Tenggara atau yang sering kita katakan (NTB) pemasokan buku di daerah tersebut sangat
minim. Jangankan membaca buku-buku Novel, fiksi, cerita anak, dan lainnya sedangkan
buku pelajaranpun sulit mereka dapatkan. Akibatnya terdapat 417.991 warganya mengalami
buta aksara (https://student.cnnindonesia.com).

Maka dari itu pemerintah harus segera
bertindak tegas dan cepat mengenai kasus ini. Karena menurut penulis, ini bukanlah kasus
yang bisa dianggap sepele, namun ini sangat bedampak bagi keberlangsungan hidup Bangsa
Indonesia ke depannya. Bagaimana generasi Indonesia dapat memajukan bangsanya, apabila
mereka tidak bisa membaca atau bisa dikatakan buta aksara. Yang ada generasi bangsa kita
ini akan mudah di tipu dan di berdaya orang-orang asing, dan hal yang ditakutkan terulang
kembali seperti yang pernah terjadi ratusan tahun silam, saat kita seperti menjadi pembantu di
negara kita sendiri.

Menurut Penulis lebih lanjut, salah satu cara lain agar dapat meminimalisasi buta
aksara tersebut, kita sebagai generasi penerus bangsa harus berkontribusi langsung baik
mengumpulkan buku satu bulan sekali ataupun bisa juga terjun langsung ke daerah-daerah
terpencil yang dianggap fasilitas baca di daerah tersebut kurang ataupun bahkan tidak
memadai, dengan cara sebagai tutor/pengajar bagi orang-orang yang menderita buta aksara.
Maka dari itu juga, pemerintah dan rakyat-rakyat pun harus memiliki rasa peduli serta
kesadaran yang tinggi dalam mengentaskan kasus-kasus yang seperti ini. Karena saat kita
membaca buku dan mendapatkan pengetahuan, itulah sebuah kekuatan. Sangat mudah
menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, jika memang engkau ingin menghancurkan
suatu bangsa dan peradabannya, maka hancurkanlah buku-bukunya niscya bangsa itu akan
musnah. Maka dari itu kita sebagai pejuang bangsa seharusnya haus akan ilmu, karena
dengan semakin banyak membaca, maka dunia telah engkau genggam. Maka teruslah
membaca, dan tunjukkan pada dunia bahwa kita generasi bangsa Indonesia akan menaklukan
dunia. (***).

Related posts