by

Demokrasi Era Milenial

-Opini-99 views

Oleh: Dedi Iswantoro
Guru SMPN 2 Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah

Dalam talkshow di media, diskusi di kelas maupun ramah-tamah keluarga, kita membicarakan demokrasi sebagai konsep yang kerap diterima begitu saja. Semua bermuara dari bagaimana kita mengerti demokrasi yang akan berakibat pada bagaimana kita melihat realitas politik; bagaimana kita menavigasi kehidupan sosial; dan bagaimana kita berpraktik politik. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut – sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.

Demokrasi sendiri dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu demokrasi langsung dan tidak langsung. Pada demokrasi langsung, rakyat turun tangan untuk berpastisipasi secara langsung. Sedangkan dalam demokrasi tidak langsung, rakyat diwakilkan oleh lembaga perwakilan. Demokrasi di Indonesia ada 3 macam, yaitu demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, dan demokrasi pancasila. Meski pada awalnya banyak yang meragukan pelaksanaan demokrasi di Indonesia, kenyataannya, demokrasi di Indonesia saat ini, telah berusia 10 tahun, dan akan terus berkembang. Sebagian orang pernah berpendapat bahwa demokrasi tidak akan berlangsung lama di Indonesia, karena syarakatnya belum siap dapat membuat Indonesia chaos yang dapat mengakibatkan perpecahan.

Tahun 2019 dianggap merupakan tahun yang sangat menentukan dalam perjalanan konsolidasi demokrasi di Indonesia. Untuk pertama kali, bagi “Kaum Milenial” zaman now nantinya akan mencoblos lima surat suara sekaligus di tempat pemungutan suara. Kelima surat suara itu diperuntukkan memilih anggota DPRD tingkat kabupaten/kota, anggota DPRD tingkat Provinsi, anggota DPR RI, anggota DPD RI, serta calon Presiden dan Wakil Presiden. Lantas bagaimana menyikapi demokrasi kita? Mungkin perlu kita melihat bagaimana keberpihakan masyarakat dalam pilihan afiliasi politiknya. Dinamika politik zaman now, berpusar pada bangunan personafikasi citra, dan penyusunan bangunan identitas baru dengan jargon yang sebenarnya cenderung usang oleh waktu.

Kebebasan termasuk kedalam hak asasi manusia dimana setiap individu berhak mengeluarkan pendapat dan memberi aspirasi. Di era milenial ini, kebebasan semakin berkembang didukung dengan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi mampu menembus jarak dan mampu mengubah budaya individu, baik buruknya budaya tersebut tergantung si individu. Kendati demikian, media sosial bukan tanpa tantangan. Faktanya media sosial, wadah generasi milenial “berkumpul”, menjadi tantangan tersendiri. Tren vlogger di Youtube atau yang biasa dikenal dengan Youtuber merupakan sisi positif media sosial yang menggali kreativitas generasi milenial melalui video-video yang mereka unggah.

Generasi milenial dituntut untuk menjadi pribadi berakhlak mulia dan lebih dewasa. Hal ini dikarenakan interaksi dan pengambilan sikap terhadap dunia luar, isu regional, dan nasional melalui dunia maya akan lebih cepat. Demokrasi era milenial ke depan merupakan tantangan bersama yang harus dihadapi. Di antara nilai-nilai demokrasi terdapat nilai keanekaragaman. Penggunaan media sosial untuk kampanye politik tidak bisa dihindarkan. Tidak ada pula yang salah terkait itu. Para politisi tentu juga sudah sadar bahwa media sosial telah menjadi arus utama informasi generasi milenial. Karena itu, mendekati milenial melalui media sosial juga harus dengan cara-cara yang bijak. Bukan dengan menjejali mereka dengan informasi yang tak bermutu hanya untuk meraup suara mereka semata.(***).

Comment

BERITA TERBARU