Demi Listrik Nyala, Petugas PLN Rela Tak Tidur

  • Whatsapp
Pegawai PLN Babel saat melakukan perawatan rutin turbin di PLTU Air Anyir, Bangka, Rabu (7/8/2019).(foto: Nurul Kurniasih)

PANGKALPINANG – Bekerja sebagai pelayan masyarakat, harus siap dengan berbagai risiko yang ditanggung, termasuk kurang tidur dan tetap bekerja walaupun hari libur.

Tak jarang, para pekerja yang langsung berhubung dengan pelayanan masyarakat ini, mengabaikan waktu bersama keluarga, termasuk libur lebaran.

Hal inilah yang dialami oleh petugas PLN Unit Induk Wilayah Bangka Belitung (Babel) yang melakukan pemantauan, pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap jaringan listrik di PLTU Air Anyir Bangka dan pembangkit lainnya.

“Petugas kami standby 24 jam disini, malam hari pun mereka tetap memantau proses pengaliran listrik ke pelanggan, setiap detik,” kata General Manager PLN UIW Babel, Abdul Mukhlis, Rabu (7/8/2019).

Di PLTU Bangka, sebutnya, ada ruangan pemantau yang dipenuhi komputer dengan sistem yang terhubung ke berbagai lokasi, ruangan ini disebut-sebut sebagai kokpit-nya PLN.

“Dari ruangan ini, petugas akan melihat apakah ada kerusakan, pemadaman atau ada gangguan, jadi selalu termonitor selama 24 jam dengan 13 orang petugas yang terbagi dalam tiga shift,” jelasnya.

Bekerja sebagai petugas listrik, diakui Mukhlis memang tak mudah, karena disaat orang terlelap menikmati dinginnya ruangan AC di rumah, petugas PLN masih harus bekerja.

Saat ini, sebutnya, PLN sedang melakukan perawatan rutin terhadap satu turbin dari dua turbin yang dimiliki PLTU Air Anyir. Perawatan ini merupakan perawatan berat yang dilakukan dalam kurun waktu 2-3 tahun sekali.

“Setelah beroperasi sekitar 2-3 tahun atau 8.000 jam, pembangkit, mesin turbin ini harus dibongkar, diperbaiki, perawatan rutinlah, agar tetap terjaga kehandalannya, ini membutuhkan waktu 40 hari,” jelasnya disela peninjauan proses perawatan turbin.

Perawatan ini, sebutnya, masih menyisakan waktu 26 hari kedepan, dimana petugas yang memperbaiki adalah petugas teknis dari Jawa-Bali, yang memang betugas melakukan perawatan terhadap turbin.

“Kalau enggak dipelihara itu akan sangat berbahaya, karena dampaknya akan sangat besar, makanya kita rawat agar tidak mengalami kerusakan,” tandas Mukhlis.

Pemeliharaan dilakukan secara menyeluruh (overhaul), mulai dari turbin, boiler, generator, trafo dan alat bantu seperti pompa, pipa, kompresor dan sebagainya.

Untuk memelihara PLTU kapasitas 2×30 MW ini PLN menerjunkan 200 personil yang terdiri dari berbagai bidang keahlian. Seperti mekanik, listrik, instrumen dan tenaga-tenaga ahli lainnya.

Semua kegiatan harus dilakukan sesuai dengan standar keamanan dan keselamatan kerja (K3). Selain itu, proses masing-masing tahap harus mematuhi standart operating procedure (SOP) yang begitu ketat.

Umumnya, proses mulai dari start up hingga pembangkit masuk kembali ke dalam sistem diperlukan waktu kurang lebih delapan jam. “Mudah-mudahan berajalan lancar, kita upayakan terus dengan mengacu pda SOP yang ada” imbuhnya.

Dalam masa pemeliharaan ini ada sebagian kecil daerah yang memerlukan penghentian sementara aliran listrik di rumah pelanggan selama 2-3 jam. Adapun jadwal pemadaman, telah diumumkan di sosial media dan media cetak/radio.

Kendatj demikian, ia berharap tidak terjadi pemadaman listrik di pelanggan, jikapun ada pemadaman ini selain pemeliharaan juga dikarenakan gangguan teknis lainnya diluar prediksi.

“Mudah-mudahan enggak padam, karena yang dirawat ini 1×20 MW kita masih punya satu lagi 1×20 MW yang beroperasi, dan ditambah dengan sumber listrik lainnya, baik dari PLTD, biomas biogas, PLTG kita juga punya untuk mensuplai listrik kepada pelanggan,” bebernya.

Pada kesempatan ini, ia juga menjelaskan proses dari batubara hingga menjadi listrik yang dinikmati pelanggan setiap hari selama 24 jam.

“Listrik yang kita nikmati setiap hari itu ada di PLTU Air Anyir ini, beberapa hari ini kita sedang dipelihara, kalau sedang beroperasi disana suaranya kenceng sekali, karena sedang tidak beroperasi makanya kita melihat bagaimana proses perbaikan disana,” ulas Mukhlis.

Dari pembangkit inilah, listrik disuplai hingga ke pulau Lepar dan sebagainya. Dimana diawali dengan proses pemanasan batubara oleh air yang yang sudah difilter, di dalam boiler, baru kemudian dijadikan uap dan didorong ke dalam turbin untuk diproses.

“Dari PLTU ini, listrik harus dirubah dulu tegangannya di gardu induk, tegangan yang rendah dinaikan lagi, dari gardu induk bisa langsung ke industri dan memlaui proses lagi baru ke rumah tangga,” jelasnya.

Kondisi di Babel, sebutnya, sering terjadi petir yang menganggu sistem kelistrikan, dimana jaringan sering tersambar oleh petir, namun sejak beberapa bulan terakhir PLN memasang Isolated Ground Shield Wire (I-GSW) untuk penangkal petir.

“PLTU ini, yang menjadi catatan untuk menghidupkan ini perlu waktu lama dalam proses pemanasan air menjadi uap itu, manasin batubara dan air bisa 6-8 jam, makanya kita jaga bener agar tahapan ini berlangsung terus menerus agar pelanggan bisa menikmati listrik 24 jam,” sebutnya.

Mukhlis menyebutkan, kapasitas listrik di Babel saat ini 180 MW, dimana yang digunakan sekitar 140-150 MW, sehingga masih ada sisa daya listrik. Kendati demikian, pihaknya tetap merencanakan pembangunan jangka panjang, dengan membangun 2×30 MW PLTU lagi untuk antisipasi kebutuhan listrik 3-4 tahun ke depan.(nov/10)

Related posts