Demam Selfie yang Mulai Menjadi Tradisi

  • Whatsapp

Oleh: Rani Dian Sari
Mahasiswi Jurusan Sosiologi FISIP UBB

Rani Dian Sari

Selfie, mengapa jadi gejala universal? Pertanyaan ini, akhirnya menyeliuti pikiran Penulis, bahkan pikiran kita semua. Akhir-akhir ini, selfie menjadi serangkaian aktivitas yang wajib dilakukan bagi banyak masyarakat. Baik di kalangan anak-anak, remaja, bahkan orang tua selfie menjadi agenda wajib di setiap waktu. Tidak disebutkan bahwa selfie itu adalah kebiasaan salah. Namun, yang menjadi pokok perbincangan, selfie lambat laun akan menggeser nilai dan budaya yang ada di masyarakat. Berawal dari perkembangan teknologi yang menciptakan kemampuan, gadget kian sempurna dalam berbagai bidang, sebagai contoh peningkatan kualitas gambar yang diambil lewat ponsel. Hal ini, memicu seseorang untuk memiliki ponsel dengan kamera berkualitas tinggi guna mengabadikan setiap moment yang terlewatkan.
Dulu, kamera hanya digunakan untuk mengabadikan pengalaman yang bersejarah dalam hidup. Sebagai contoh, dulu orang menggunakan camera untuk mengabadikan pengalaman saat pernikahan, sunatan, ulang tahun dan agenda besar lainnya. Tidak dapat dipungkiri lagi sekarang kamera digunakan seseorang untuk mengabadikan moment setiap waktu. Bahkan, kamera digunakan sebagai alat untuk mengusir kegelisahan dengan berselfie sendirian.
Demam selfie mengakibatkan pergeseran nilai dan budaya yang ada didalam masyarakat. Pergeseran nilai dan budaya yang dimaksud adalah menjadikan selfie sebagai agenda wajib dalam beberapa waktu terakhir. Misalnya, dulu, saat ingin makan, maka orang akan berdoa terlebih dahulu. Namun, sekarang ketika hendak makan, hal yang utama yang dilakukan adalah selfie dengan menu makanan yang tersaji. Kadang, setelah selfie maka berdoa sesudah makan telah dilupakan. Jika dulu setelah selesai makan orang berdoa, bersantai atau sekedar mengobrol bersama keluarga dan teman-teman, maka kini tidak. Seseorang akan sibuk dengan ponsel dan meng-upload ke media social setiap aktivitas yang dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa selfie membuat pergeseran nilai dan budaya di masyarakat.
Kini, selfie memicu berbagai aktivitas yang berorientasi untuk diketahui orang banyak. Hal ini dapat kita lihat dari media social banyak orang yang meng-upload foto ketika ia menangis dan sebagainya. Informasi pribadi menjadi privasi bersama karena selfie. Kalau dulu saat seseorang berlibur hanya untuk menghabiskan akhir pekan tujuannya untuk bersenang-senang. Namun, kini ketika ada sebuah tempat wisata yang baru dan ramai dikunjungi, maka tujuannya bukan lagi sekedar berlibur, melainkan berselfie di tempat tersebut, agar diketahui orang banyak. Kendati demikian, banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa hal ini merupakan sebuah aktivitas yang menyebabkan pergeseran nilai dan budaya, dalam artian hilangnya kebiasaan baik yang sebelumnya dilakukan, tetapi kini tidak dilakukan lagi.
Contoh lainnya yang sekarang lagi marak di tengah-tengah masyarakat, adanya produk makanan yang kemasannya sengaja didesain untuk berselfie. Kemasan yang didesain seperti ini, tidak lain tujuannya untuk menarik konsumen dengan memanfaatkan kebiasaan berselfie yang mulai menjadi tradisi dalam kurun beberapa tahun terakhir. Jika kita berfikir sejenak, memang selfie tidak salah bila dilakukan. Akan tetapi, ada begitu banyak kasus yang menunjukkan bahwa selfie mengundang banyak masalah bagi yang tidak menggunakannya dengan baik dan bijak. Seperti halnya kasus yang terjadi beberapa bulan silam tentang seorang pemuda yang berselfie di atas kepala patung pahlawan nasional. Kondisi ini, menunjukkan bahwa selfie membuat seseorang lupa tentang etika dalam berselfie itu sendiri.
Demam selfie tidak serta-merta membawa dampak negatif saja, tetapi bisa berdampak positif. Misalnya promosi tempat wisata yang menjadi aset di berbagai daerah. Dampak positif lainnya memicu pendapatan masyarakat dengan memanfaatkan selfie untuk berkreatifitas mencipkatakan sesuatu yang unik. Lantas, bagaimana agar kita bisa mempertahankan nilai dan budaya lokal agar tetap ada didalam masyarakat? Hal ini tentunya harus mendapat perhatian dari masyarakat itu sendiri dalam memanfaatkan teknologi yang ada. Misalnya, dengan membatasi selfie saat ingin makan. Karena saat ini, selfie menjadi tradisi yang selalu dilakukan setiap ingin makan bersama keluarga dan kerabat. Sehingga sekarang, berdoa bersama sebelum makan berganti dengan agenda selfie. Kemudian, jika kebiasaan ini terus berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan selfie akan menjadi salah satu tradisi yang bersifat universal. Hingga saat ini, kebiasaan berselfie masih menjadi hobi di kalangan masyarakat, khususnya Indonesia.(****).

Related posts