Delapan Desa Masih Stunting Cukup Berbahaya

  • Whatsapp

Pola Asuh Orang Tua tidak Maksimal

TOBOALI – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana Bangka Selatan (Basel), Supriyadi menyebutkan, berdasarkan data prevalensi stunting menurut desa/kelurahan dalam kecamatan yang diedarkan pada Februari 2019, menggambarkan Basel aman dari stunting, karena berada di angka 12,9%.

“Meski begitu, terdapat delapan desa yang masih mengalami kasus stunting yang cukup berbahaya yang nilai prevalansinya mencapai 48,8%. Delapan desa tersebut adalah Desa Tepus, Sidoharjo, Pongok, Payung, Serdang, Jelutung II, Gudang dan Sebagin,” ujarnya Rabu, (9/10/2019).

Dari kedelapan desa tersebut Desa Sidoharjo merupakan desa yang kasus stuntingnya paling berbahaya yang mencapai angka prevalensi 48,8% diikuti Desa Tepus yang mencapai angka prevalensi 43,8%.

Ia menjelaskan, stunting merupakan sebuah kondisi dimana tubuh anak-anak balita kekurangan gizi sehingga anak bersangkutan akan mengalami kondisi tubuh yang pendek.

Selain mengalami kondisi tubuh yang pendek dan tidak sesuai, stunting juga dapat menyebabkan terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.

“Ada lagi dampak lainnya seperti gangguan interaksi sosial, gangguan kognitif serta penyakit tidak menular yang dirasakan oleh balita yang alami stunting,” tandasnya

Di sisi lain, ia menyayangkan masih ada desa-desa di Bangka Selatan yang nilai prevalensi stuntingnya mencapai 48,8%. Supriyadi menyebutkan, kemungkinan yang menjadi permasalahan di Desa Sidoharjo sebagai penyandang angka stunting tertinggi di Basel adalah karena pola asuh yang salah.

“Saya berspekulasi permasalahan ini terjadi karena pola asuh orang tua yang tidak maksimal, karena jika kekurangan pangan Desa Sidoharjo merupakan desa yang akses pangan cukup baik di Basel,” ujarnya.

Pola asuh yang salah menurut Supriyadi adalah kemungkinan karena orangtua yang menitipkan anaknya karena harus bekerja di sawah dan kurang memperhatikan gizii anaknya. “Atau bisa saja karena sibuk di sawah sehingga anaknya dititipkan di nenek atau saudaranya,” lanjutnya.

Jika permasalahan ini terus dibiarkan, kata dia, maka angka stunting di Basel pasti akan meningkat tajam sehingga perlunya perhatian khusus.

Sebagai upaya untuk mengatasi stunting, Supriyadi menyebutkan pihaknya akan meminta bantuan semua pihak baik perangkat desa, puskesmas maupun aparat kecamatan untuk lakukan pencarian permasalahan melalui by name dan by address.

Dengan pengecekan ini, nantinya anak-anak yang mengalami stunting akan diperiksa, apakah karena infeksi akibat makanan sehingga sakit dan sulit makan. “Jika salah pola asuh, kami berharap orangtua dapat benar-benar maksimal dalam pengasuhan anak,” pungkasnya. (raw/3)

Related posts