“Deal” Kursi Wabup Bateng di Gedung Rakyat



Oleh: Muhammad Tamimi
Wartawan Rakyat Pos/Ketua KAHMI Bateng

Muhammad Tamimi

Konstelasi politik pemilihan Calon Wakil Bupati Bangka Tengah sudah terasa sejak Ibnu Saleh, Bupati Bateng yang baru dilantik tanggal 27 Juli 2017 tempo hari menggelar pertemuan dengan sejumlah Pimpinan Partai pendukung Perisai (Erzaldi Rosman-Ibnu Saleh) tepatnya Selasa (01/08/2017) di Koba. Ibnu Saleh pun tak bisa menampik kendati masih merahasiakan topik pembahasan dalam agenda pertemuan tersebut, karena sudah jelas point utama yang dibahas adalah siapa nama-nama Cawabup yang bisa direkomendasikan enam partai pengusung itu. Penulis menilai, setidaknya ada tiga nama yang dibahas dalam pertemuan itu yang sampai hari ini masih menjadi trending topik publik.

Puncaknya, Ibnu Saleh menerima hasil rumusan pertemuan dari tiga nama yang direkomendasikan partai pengusung yang selanjutnya dikerucutkan menjadi dua nama. Dilain pihak, Ibnu Saleh berharap dua nama langsung yang dirumuskan enam partai pengusung ini, sehingga tidak perlu mencoret calon nama yang ketiga agar tidak terjadi “blunder” atau kesalahan fatal dalam berpolitik bagi Ibnu Saleh. Setelah difinalkan, dua nama yang direkomendasikan ke meja jati Ibnu Saleh inilah nantinya disampaikan ke Gedung Rakyat atau DPRD untuk dipilih. Memilih nama calon Wabup itupun penulis memperkirakan tetap memperhatikan asas manfaat dan asas kepatutan, karena apapun hasilnya tetap berpengaruh besar terhadap masa depan partai.

Menurut analisa penulis, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan Cawabup Bateng di Gedung Rakyat tersebut. Ketiganya adalah partai politik, finansial dan figur. Untuk partai politik, jumlah kursi parpol di DPRD sangat menentukan nama calon. Kita lihat, jumlah kursi parpol pendukung Perisai saat ini di DPRD Bateng berbeda-beda, PPP 3 kursi, Gerindra 2 kursi, Demokrat 1 kursi, Hanura 1 kursi, PKS 1 kursi, Nasdem 1 kursi, totalnya 9 kursi. Dari jumlah kursi, PPP yang teratas dan Gerindra Runner Up. Namun, iklim politik pemilihan nanti bisa berubah, bisa saja Gerindra yang dominan ketimbang PPP walaupun punya modal 3 kursi. Apalagi, yang digantikan itu adalah kursi Erzaldi Rosman yang merupakan kader Gerindra. Secara politik, kursi itu adalah jatah Gerindra, namun secara etika bisa saja berubah, kader yang dinobatkan calon Wabup kemungkinan berasal dari kader PPP atau partai lain.

Perjuangan Ibnu Saleh pun belumlah usai. Karena, nasib nama Cawabup Bateng yang diidolakan Ibnu Saleh ditentukan oleh DPRD yang merupakan gabungan dari seluruh partai politik atau sebanyak 25 kursi. Saat bola ini berada di Gedung Rakyat, penulis yakin tidak bisa dipungkiri akan ada biaya logistik yang terlebih dahulu ditunaikan menjelang pemilihan. Ketika bicara logistic, berarti bicara finansial yang selalu berperan dalam setiap pemilihan termasuk memilih Cawabup Bateng. Kalau mengerucut ke logistik, maka dua nama yang diusung ke Gedung Rakyat itu minimal harus mengantongi finansial untuk biaya logistik partai paling tidak. Pertama, biaya logistik untuk dukungan partai, dan kedua, logistik bagi pemilik suara. Namun, penulis hanya menawarkan bagaimana dalam pemilihan Cawabup Bateng nanti jangan sampai ada bahasa biaya logistik. Paling tidak, bisa memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Jangan sampai setiap penghelatan akbar seperti pemilihan ketua RT atau lebih besar lagi sekelas Cawabup tidak diwarnai dengan yang namanya biaya logistik. Dikhawatirkan kedepan menjadi budaya direpublik ini. Lebih berat tantangannya jika sudah mengakar.

Terakhir terkait figur. Menurut hemat penulis, figur juga sangat menentukan selain partai politik dan finansial. Pemilihan Cawabup Bateng tetap mengutamakan integritas, kualitas dan kapabilitas. Sebagai calon pemimpin, Cawabup Bateng harus mampu menjadi pemimpin bagi rakyatnya seperti yang pernah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Selain paham agama juga visioner jauh kedepan. Tidak hanya itu, Cawabup juga mampu mengayomi masyarakat secara luas untuk bersama-sama memajukan Kabupaten Bateng menjadi lebih baik lagi.

Penulis yakin di Bateng masih ada calon yang potensial untuk direkomendasi menjadi Wabup. Penulis menyarankan, dalam pemilihan Wabup di gedung rakyat nanti jangan sampai terjadi pertukaran deal politik kelas elit, dan jangan juga karena finansial yang banyak untuk biaya logistik, namun pilihlah karena kelayakan figur seorang pemimpin apa adanya, bukan karena ada apanya. Sekali lagi, tulisan ini dibuat hanya untuk memberikan pendidikan politik bukan politik pendidikan khususnya bagi masyarakat Bateng dan Babel umumnya Semoga nama Cawabup yang dipilih sesuai harapan masyarakat Bangka Tengah. (****).

 

No Response

Leave a reply "“Deal” Kursi Wabup Bateng di Gedung Rakyat"