Darurat Covid-19 dan Eskalasi Kriminalitas

  • Whatsapp
Ruth Syarma Apriani Sirait
Mahasiswi FH UBB

Masih ingatkah kita beberapa bulan yang lalu, saat Covid-19 seolah-olah menjelma menjadi malaikat maut dan mengacaukan kondisi sosial negara China dan Italia? Tentunya masih sangat lekat pada ingatan kita tentang kondisi darurat China dan Italia pada waktu itu. Covid-19 atau saat ini disebut juga Coronavirus Disease 2019 adalah salah satu virus baru, yang muncul pada kurun waktu beberapa tahun belakangan, selain beberapa virus sebelumnya seperti MERS, Flu Babi(H1N1), Flu Burung(H5N1) dan lain sebagainya. Covid-19 adalah virus yang menyerang sistem pernapasan dan jika sudah terinfeksi dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan seperti flu, sesak napas, batuk dan dapat menyebabkan kematian. Gejala-gejala yang ringan yang disebutkan sebelumnya tentunya adalah gejala yang umum kita temui dalam keseharian kita, dan sulit untuk dapat di diagnosa secara langsung, penularan virus ini sendiri terlihat sepele, tidak jauh berbeda dengan penularan flu.

Melihat sangat besarnya kemungkinan Covid-19 yang dapat menimbulkan efek hingga kematian, seperti yang kita lihat pada China dan Italia, maka petinggi masing-masing negara tentunya tidak dapat menganggap enteng penanganan penyebaran virus ini. Saat ini, pandemi virus ini telah meluas hingga ke berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Berbagai macam kebijakan darurat juga telah dikeluarkan oleh masing-masing otoritas negara di dunia, dan saat ini yang sering santer dapat kita dengar adalah kebijakan “Lockdown” sebagai salah satu cara menekan jumlah penyebaran pandemi Covid-19. Pemerintah Indonesia sendiri juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan darurat terkait peraturan untuk menekan jumlah penyebaran virus Covid-19 serta penanganan tepat untuk yang telah tertular virus ini. Namun, ada beberapa pandangan yang berbeda di Indonesia, terkait kebijakan yang dikeluarkan dalam menangani penyebaran virus ini, pembebasan napi selama masa darurat Covid-19 adalah salah satunya.

Read More

Kebijakan ini muncul akibat banyaknya Lembaga Permasyarakatan (Lapas) di Indonesia yang melebihi kapasitas,  ditakutkan bila penyebaran juga terjadi di lapas tersebut, maka penanganan yang dilakukan tidak akan mudah. Pandangan ini mungkin berlaku untuk sebagian orang yang tidak percaya dengan istilah “Mencegah lebih baik daripada mengobati” masuk akal bukan? Muncul berbagai stigma terkait kebijakan pembebasan napi ini. Kemunculan stigma ini sendiri muncul dikarenakan manusia memiliki kecenderungan ketakutan terhadap sesuatu apa pun itu. Ketakutan terhadap kejahatan duniawi atau tindak kriminal saat ini adalah salah satu ketakutan yang paling umum khususnya Indonesia, di tambah lagi dengan efek ketakutan berantai dari situasi pandemi darurat Covid-19. Dipastikan kriminalitas tidak mengenal batasan-batasan tertentu, eskalasi kriminal mungkin saja dapat terjadi dikarenakan kebijakan pembebasan napi.

Related posts