Dampak Teknologi Terhadap Pendidikan

  • Whatsapp

Oleh: Yudi Septiawan
Dosen STISIPOL Pahlawan 12 Bangka/KAHMI Institute Babel

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat sekarang, secara tidak langsung memang membawa arus perubahan dalam bidang perdagangan, pemerintahan hingga pendidikan. Seiring dengan itu, tidak bisa dipungkiri bahwa sistem interaksi sosial di masyarakat mulai tergerus karena teknologi mempermudah masyarakat dalam melakukan aktivitas. Tentunya, perkembangan teknologi dan informasi masa kini menawarkan banyak kemudahan.

Dalam bidang pendidikan, hal tersebut tentu sangat menunjang. Penerapan teknologi komunikasi dan informasi di dunia pendidikan menjadi suatu hal yang diwajibkan dewasa ini. Pasalnya, hampir setiap sekolah maupun civitas akademi lainnya telah menggunakan teknologi sebagai penunjang kegiatannya. Bahasa luwesnya adalah pendidikan berbasis digital.

Pendidikan berbasis digital ini, sebenarnya bukan merupakan hal baru. Hanya saja, isu ini baru bergulir kencang setelah beberapa tahun silam muncul gagasan untuk mengganti format ujian tertulis menjadi format ujian berbasis digital, atau istilah kerennya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Tentu, tujuan awal dari UNBK adalah untuk meminimalisir kecurangan dalam ujian. Namun, tanpa disadari, ini juga seolah mendukung kampanye besar untuk menggemakan pendidikan berbasis digital.

Munculnya Metode Pembelajaran Digital
Di Indonesia, sistem pendidikan konvensional masih banyak diterapkan dalam civitas akademi, khususnya daerah yang masih tergolong pedesaan. Di luar negeri, seperti Perancis, sistem pendidikan yang digunakan sudah menggunakan layanan pendidikan online yang sekaligus menjadi bukti pergeseran arah dunia pendidikan. Apalagi zaman sekarang yang menuntut perubahan besar dalam dunia pendidikan dimana pendidikan dijadikan patokan dalam bermasyarakat.

Tentu, ini semua merupakan dampak dari globalisasi dibidang teknologi yang telah merasuki generasi masa kini. Globalisasi juga yang menyebabkan pergeseran dalam dunia pendidikan. Contoh, model pembelajaran yang dulunya menggunakan metode konvensional (tatap muka), dengan hadirnya pendidikan berbasis digital memungkinkan dunia pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) melalui sambungan internet.

Salah satu model pembelajaran yang telah diterapkan oleh beberapa masyarakat adalah model e-Learning. E- learning merupakan bentuk model pembelajaran yang difasilitasi dan didukung oleh pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Istilah E-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah tranformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani teknologi internet. (Munir, 2009:169).

Tentu, karena metode ini lebih efektif dan efisien bagi sebagian masyarakat, maka pendidikan e -learning ini dijadikan pilihan alternatif yang menarik. E- learning ini memungkinkan pembelajaran antara guru dan murid yang berada tidak dalam satu tempat atau hubungan jarak jauh (distance learning). Selanjutnya, dari metode E-learning ini jugalah kemudian muncul kemudahan-kemudahan lain yang bisa kita rasakan untuk mengakses dunia pendidikan misalnya dengan munculnya aplikasi e-journal, e-library, dan sebagainya. Artinya, pendidikan berbasis digital memberikan pilihan yang menarik bagi para pemelajar yang secara waktu dan tempat tidak memungkinkan untuk hadir di kelas secara langsung.

Pergeseran Nilai Ketimuran
Teknologi yang berkembang pesat sekarang, secara tidak langsung sebenarnya memberikan efek terhadap nilai-nilai sosial budaya kita. Banyak orang berpandangan bahwasannya telah terjadi pergeseran nilai-nilai sosial ketimuran karena lebih terbuka pemikiran dengan mengadopsi nilai-nilai sosial daerah barat yang lebih modern lewat internet. Memang benar, hal tersebut juga telihat jelas dalam kehidupan kita. Banyak remaja yang mulai bergaya layaknya orang barat, sehingga kehidupan sosial mereka semakin tergerus. Di sekolah misalnya, banyak gaya berpakaian siswa mencontoh tren gaya pakaian siswa-siswa luar negeri. Begitu juga anak kuliahan yang semakin kesini gayanya ketika ke kampus semakin ‘fashionable’.

Selain itu, hubungan komunikasi jarak jauh yang hanya dihubungan oleh media dan internet membuat komunikasi jarak dekat atau komunikasi langsung semakin jarang dilakukan. Sehingga, nilai sosial yang berlangsung dalam komunikasi tersebut semakin pudar. Remaja rentan saling berbicara secara langsung mereka memilih menggunakan media internet sebagai jalannya komunikasi. Jika hal ini semakin gencar dilakukan lambat laun dunia nyata dalam hal interaksi akan pudar. Kecakapan dalam berkomunikasi pun mungkin tidak akan sebaik mereka yang secara intens sering bertatapan secara langsung. Perkara kecil ini memang terkadang luput dari pandangan kita. Namun, hal ini sangat penting mengingat kita adalah bangsa yang memegang erat budaya ketimuran.

Perubahan Pola Pikir
Pernah suatu ketika Penulis menanyakan kepada peserta didik tentang cita-cita mereka kelak. Jawaban yang di dapat sungguh di luar perkiraan. Sebagian besar mereka menjawab ingin menjadi youtuber profesional, menjadi seorang gamer profesional, menjadi dropshipper online shop yang sukses dan profesi-profesi lain yang berkaitan dengan kemajuan teknologi saat ini, dimana profesi-profesi tersebut belum ada sewaktu Penulis seusia mereka. Profesi-profesi tadi tentu sebagai dampak dari saking akrabnya anak-anak zaman sekarang dengan ponsel. Sebagian besar dari kita mungkin berasumsi negatif ketika mendengar kata ‘game’, dimana kegiatan tersebut adalah sebuah kegiatan yang tidak berguna dan cenderung membuat seseorang menjadi malas.

Melihat kenyataan yang ada saat ini, menjadi seorang gamer ataupun menjadi seorang youtuber akan menjadikan mereka menjadi seorang yang sukses seperti idola-idola mereka saat ini, seperti sosok seorang Reza Arab (Reza Oktovian) yang dapat menghasilkan pendapatan sekitar 5,6 milliar per tahun dari youtube dan game. Hal inilah yang menjadikan idola baru bagi anak muda milenial, ataupun menjadi seorang seperti Atta Halilintar yang sukses dengan saluran youtube-nya yang menjadi nomor satu terbanyak subscriber-nya di Asia dengan pendapatan yang sangat fantastis. Profesi-profesi seperti inilah yang menjadi impian anak-anak zaman ‘now’, sama seperti zaman dahulu kita bercita-cita menjadi seorang dokter, menjadi seorang pilot dan lain sebagainya.
Uniknya, baru-baru ini ada beberapa instansi di Indonesia yang sudah menyediakan jurusan atau program studi yang relevan dengan dunia games. Dikutip dari laman Instagram Ristekdikti, Politeknik Elektronik Negeri Surabaya menyediakan Program Studi Teknologi Game. Begitu juga dengan kampus di Semarang, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang menyediakan jurusan E-Sport. Ada lagi kampus Universitas Negeri Malang yang membuka program studi Game Animasi. Bagi siswa yang suka sekali bermain game, ini tentu kabar baik karena hobi mereka bermain game setidaknya bisa tersalurkan pada program studi yang tepat.
Desakan Revolusi Industri 4.0
Kemajuan penggunaan teknologi digital disegala bidang diyakini merupakan dampak hebat dari Revolusi Industri 4.0 yang diprediksi akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan karena digantikan sistem komputerisasi atau digital. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute pada 46 negara di seluruh dunia, ditemukan bahwa lebih dari 800 juta pekerjaan akan tergantikan oleh adanya automasi. Hal ini menjadi tantangan dari para generasi muda dan lembaga pendidikan ke depannya. Karena itulah dari sistem pendidikan juga harus mampu menyesuaikan dengan kondisi ini. Pola pendidikan jadul kini menjadi kurang relevan untuk diterapkan pada generasi zaman ‘now’ yang terkena dampak langsung oleh Revolusi Industri 4.0. Oleh karena itu, seorang pendidik harus menjadi ‘manusia pembelajar’, harus menerima, beradaptasi, dan mengikuti perubahan zaman.

Tuntutan agar para pendidik mampu melahirkan peserta didik yang terus menjadi ‘manusia pembelajar’ atau long life learner merupakan amanah besar yang harus diemban. Indonesia adalah negara besar, luas, kaya akan hasil alam dan laut. Namun, yang perlu di ingat di era ini adalah bukan seberapa luas wilayah sebuah negara tetapi seberapa kreatif dan inovatifnya kita agar mampu bertahan dari gempuran-gempuran zaman.
Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, kita tidak boleh menutup mata dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, dalam rangka menyiapkan generasi milenial yang berdaya saing, majunya teknologi yang sekarang merambah pendidikan harus disikapi dengan bijak karena mau tidak mau, kita akan berhadapan dengan kemajuan ini. Rumusnya cuma dua, beradaptasi, berkolaborasi, berinovasi dan berkreasi, atau sebaliknya, tergerus zaman dengan mempertahankan gaya lama sampai akhirnya mati gaya.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal juga harus menerapkan program-program yang sekiranya dapat menunjang keterampilan abad 21 dan era Industri 4.0. Seperti halnya memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk belajar, berlatih, berkreasi, berinovasi, berimajinasi, untuk membuat karya, metode, ataupun produk-produk unggulan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kearifan lokal setempat. Ini semua dilakukan untuk menghadapai dunia yang semakin maju dan sebagai konsekuensi majunya teknologi khususnya dibidang pendidikan. (***).

Related posts