Dampak Penyebaran Virus Corona Terhadap Pembelajaran di Sekolah

  • Whatsapp

Oleh: Yuli Hendarti, S. Pd
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kab. Bangka, Bangka Belitung

SEKOLAH adalah tempat terjadinya proses belajar mengajar di dalam kelas. Di sana tempat siswa – siswi memperoleh ilmu pengetahuan. Proses pembelajaran akan lebih berhasil bila bahan pembelajaran tersebut dikemas sedemikian baik, sehingga dapat menarik perhatian semua siswa. Selama ini sekolah adalah rumah kedua bagi siswa, dimana guru adalah orang tua yang kedua bagi semua murid.

Read More

Sekolah adalah lembaga yang kita tahu tempat yang bersih, ramah lingkungan, dan nyaman bagi semua siswa. Tapi siapa sangka sekolah yang tadinya adalah rumah kedua bagi siswa, tempat yang nyaman tetapi sekarang dianggap tidak aman lagi bagi seluruh warga sekolah.

Hal ini disebabkan karena Virus Corona yang semakin menyebar. Dampak buruk penyebaran yang diakibatkan Virus Corona, ternyata tidak hanya dirasakan oleh negara China, Italia, Korea Selatan, Singapura, dan lain-lain. Indonesia juga termasuk negara yang terkena dampak buruk dari Virus Corona.

Hal ini membuat sebagian warga menjadi khawatir, dan aktivitas diluar rumah pun terpaksa dibatasi. Hal tersebut sesuai dengan perintah dari pemerintah pusat Republik Indonesia, yang mana tujuannya untuk mengantisipasi persebaran Virus Corona, semua warga harus mengurangi aktivitas diluar rumah akibat dampak yang ditimbulkan persebaran Virus Corona. Penyebaran Virus Corona juga menyebabkan aktivitas pembelajaran di sekolah (di dalam kelas) dan di kampus sebagian wilayah Indonesia terpaksa dihentikan selama beberapa hari ke depan. Para siswa-siswi dan juga Mahasiswa dirumahkan untuk belajar mandiri (belajar secara online).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mendukung kebijakan pemerintah daerah (Pemda) yang meliburkan sekolah dan menunda pelaksanaan ujian Nasional (UN). Hal itu sebagai langkah mencegah penyebaran virus corona atau coronavirus disease 2019 (Covid-19). “Dampak penyebaran Covid-19 akan berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Kami siap dukung kebijakan yang diambil Pemda. Keamanan dan keselamatan peserta didik serta guru dan tenaga kependidikan itu yang utama,” kata Nadiem dalam keterangan tertulis, Minggu. (Kompasia 15/03/2020).

Kebijakan pemerintah pusat yang mendukung pemerintah daerah untuk merumahkan siswa beberapa hari ke depan untuk belajar dirumah, disambut baik oleh pemerintah daerah, seperti halnya yang dilaksanakan di daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dari tingkat SD dan SMP juga merumahkan siswa dari tingkat SD- SMP. Meskipun kegiatan pembelajaran tidak dilaksanakan secara tatap muka di dalam kelas, harapannya seluruh siswa dapat belajar mandiri di rumah secara online, agar selama dirumahkan seluruh siswa tidak ketinggalan pelajaran. Kebijakan ini tentunya diharapkan agar tidak terjadi penyebaran Virus Corona di daerah Bangka Belitung.

Keamanan dan keselamatan peserta didik serta guru dan tenaga kependidikan itu yang lebih utama. Nadiem juga mengapresiasi langkah proaktif yang dilakukan di semua lini pemerintahan daerah serta mitra di kalangan swasta dalam menerapkan metode belajar online atau dalam jaringan (daring). “Kemendikbud siap dengan semua skenario termasuk penerapan bekerja bersama-sama untuk mendorong pembelajaran secara daring untuk para siswa,” ujar Mendikbud.

Untuk mendukung itu semua, Kemendikbud telah mengembangkan aplikasi pembelajaran jarak jauh berbasis portal dan android bernama Rumah Belajar. Portal Rumah Belajar dapat diakses di belajar.kemdikbud.go.id. Beberapa fitur unggulan yang dapat diakses oleh peserta didik dan guru diantaranya Sumber Belajar, Kelas Digital, Laboratorium Maya, dan Bank Soal. Rumah Belajar dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sederajat.

Kemendikbud mengimbau tiap unit satuan pendidikan untuk melaporkan ke dinas pendidikan, dinas kesehatan ataupun Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi bilamana terjadi ketidakhadiran secara massal para siswa. Lalu berkonsultasi dengan dinas pendidikan atau LL Dikti jika tingkat ketidakhadiran mengganggu proses belajar mengajar. Sehingga akan dicari cara penyelesaiannya.

Pihak sekolah juga harus tanggap bilamana ada suatu satuan pendidikan menyediakan makanan bagi para siswanya, maka sudah sepatutnya untuk memasaknya secara matang guna mencegah penyebaran virus Corona dari daging. Diharapkan suatu pendidikan ini menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan lain di satuan pendidikan. Seperti melakukan kunjungan atau studi wisata, perkemahan dan juga bagaimana membatasi tamu.

Dalam surat edaran tersebut menjelaskan mekanisme bagi siswa maupun orang tua siswa yang berpergian di negara-negara yang terjangkit, maka diminta untuk meliburkan diri selama beberapa hari kedepan. Selama dirumahkan beberapa hari ke depan para siswa-siswi wajib untuk setiap saat memantau kondisi kesehatannya di rumah, tapi aktif juga mendeteksi kesehatan dirinya, baik ke dokter atau ke pusat layanan kesehatan. Jadi, tidak hanya di rumah, namun aktif memeriksakan kesehatan.

Untuk mengantisipasi penyebaran Virus Corona di semua sekolah, diimbau untuk mengaktifkan peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) atau unit layanan kesehatan di perguruan tinggi dengan cara berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan setempat dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Usaha kecil yang dapat dilakukan sekolah adalah agar meningkatkan kebersihan lingkungan sekolah, semua warga sekolah mencuci tangan lebih sering, tidak kontak langsung dengan sesama siswa misalnya bersalaman, berpelukan, dan lain-lain. Bila ada yang terindikasi terkena Virus Covid-19 agar segera melakukan komunikasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan/atau Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi setempat untuk mengetahui apakah Dinas Kesehatan telah memiliki semacam rencana atau persiapan dalam menghadapi Covid-19. Selain itu, pihak sekolah juga harus memastikan ketersediaan sarana untuk cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan alat pembersih sekali pakai (tisu) di berbagai lokasi strategis di satuan pendidikan. Selain itu, pastikan warga satuan pendidikan menggunakan saranan CTPS (minimal 20 detik) dan pengering tangan sekali pakai sebagaimana mestinya, dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) lainnya tetap harus konsisten dilaksanakan. (***)

Related posts