Dampak Buruk Sosialita Bagi Generasi Muda

Tidak ada komentar 232 views

Oleh: Niesa Almeira Syahda
Siswa Kelas XI Bahasa dan Budaya SMAN 1 Koba

Niesa Almeira Syahda

Pada era globalisasi ini, marak terjadi penyimpangan mulai dari segi sosial hingga ekonomi. Seperti pada topik yang akan penulis bahas saat ini, mengenai penyimpangan di bidang ekonomi. Mengapa dapat dikatakan demikian? Karena pada era modernisasi seperti saat ini, banyak kaum wanita lebih mengutamakan tren ketimbang dari manfaat barang tersebut. Selain itu juga para kaum wanita sering membuat kelompok untuk menyalurkan hasrat kekayaannya itu, kemudian memamerkannya kepada tiap anggota kelompok. Itu terbukti dari paparan Veven Wardhana seorang pengamat budaya yang mengatakan bahwa kegiatan sosialita di Indonesia lebih cenderung kepada kelompok arisan, barang mewah, rumpi, faktor kekayaan dan pekerjaan mentereng atau keren (Indrietta, 2013).

Selain itu juga, gaya hidup sosialita yang dilakoni kaum wanita yang biasanya berumur 25 tahun ke atas, kini dilakoni juga oleh anak muda zaman sekarang. Ini semua tidak terlepas dari sangkut paut orang tua mereka. Apalagi jika orang tua mereka seorang sosialita. Gaya hidup sosialita ini, memang dinilai negatif, karena para kaum sosialita, lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka dari pada lingkungan meraka.

Gaya hidup seperti ini, dapat kita jumpai dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari kita,tak lagi dari kaum wanita yang berumur 25 tahun ke atas, tapi juga anak muda. Apalagi di daerah perkotaan dapat kita jumpai lebih banyak para sosialita muda.Mengapa di daerah perkotaan itu kaum sosialitanya lebih banyak? Karena di daerah perkotaan arus modernisasinya lebih kencang dantingkat teknologinya lebih canggih. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kaum sosialita berada di perkotaan.

Selain itu, gaya hidup sosialita juga membutuhkan modal yang tidak sedikit apalagi bagi anak muda zaman sekarang. Bagi anak muda yang bermodalkan pas- pasan, mereka akan memaksakan keadaan untuk membeli barang yang palsu hanya untuk pamer atau bergaya saja. Tetapi, tidak sedikit juga dari anak muda yang membeli barang asli bermerk dengan menggunakan kartu kredit yang sudah di sediakan oleh orang tuanya.

Bagaimana cara kita sebagai generasi muda menyikapi masalah tersebut? Apakah kita akan mengikuti tren gaya hidup tersebut, atau kita bahkan memeranginya? Kita sebagai generasi muda sebaiknya memerangi hal tersebut, karena apa? Gaya hidup sosialita itu memang banyak sisi negatifnya. Selain itu, gaya hidup seperti itu hanya diperuntukan bagi kalangan atas saja. Banyak anak muda yang terbilang bukan kalangan atas mencoba untuk mengikuti gaya hidup sosialita ini. Mereka memandang hal ini sebagai pergaulan bergengsi. Mereka mengikuti gaya hidup ini dengan meminjam barang milik orang tuanya hanya untuk pergi jalan jalan. Ada pula barang milik orang tuanya itu bukanlah barang yang asli melainkan barang yang palsu. Tetapi, mereka tidak ambil pusing yang penting mereka bisa menggunakan barang tersebut untuk memamerkan kepada temannya.

Sebenarnya bukan asli atau palsunya barang yang menjadi masalahnya, tetapi perilaku yang dilakukan mereka tidak seharusnya. Hanya gara-gara ingin keliatan keren dan modern, mereka rela meminjam barang orang tuanya. Selain itu juga, pola hidup sosialita ini berimbas pada tekanan diri sendiri. Mereka rela melakukan apa saja agar bisa keliatan keren. Seseorang yang terlalu memaksakan kehendak seperti ini justru akan membuat tekanan pada diri sendiri. Hasrat untuk selalu mengikuti gaya hidup orang lain terus menerus akan menjadi bumerang untuk diri sendiri, keluarga, bahkan keturunannya sendiri. Semakin mengejar apa yang orang lain punya maka hidup mau tidak mau akan selalu dihantui rasa keinginan yang berlebihan. Hingga seringkali harus melakukan hal-hal yang berlebihan.(Omah Tentrem,2016).

Gaya hidup sosialita memang tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah, karena dinilai biasa saja dan wajar saja. Karena gaya hidup seperti ini dinilai dapat dilakukan oleh siapa saja, padahal hanya kalangan atas saja yang mampu. Tetapi sekarang, generasi muda tidak memandang kalangan atas atau bawah, menurut mereka semua kalangan bisa menjadi kaum sosialita.

Salah satu kalangan atas bernama Audrey Tay (Singapura), seorang selebgram dengan pengikut mencapai 11 ribu, dalam instagramnya acap kali memamerkan para sosialita Singapura. Selain itu, Aundrey banyak mengunggah tas yang yang mahal dari merek ternama seperti Dior. Selain itu Audrey juga memiliki kecanduan yang tidak ramah untuk semua kalangan yaitu mengoleksi mobil mewah.

Selanjutnya, ada seorang lelaki yang berumur 23 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Meski penghasilan tiap bulannya tidak mencukupi tetapi dia tetap aktif untuk pergi ke kelab malam untuk berpesta setiap akhir pekan. Gaya hidup inilah yang membuat laki-laki ini memiliki hutang yang banyak (Feedme.id, Jakarta).

Kedua orang tersebut, memiliki perbedaan yang sangat nyata, karena yang satu memang seorang sosialita dengan penghasilan yang mampu menyalurkan hasratnya untuk membeli barang branded, dan yang satunya lagi ingin gaya hidup sosialita dan punya barang bermerek dengan rela berutang.

Dari cerita di atas, jika seandainya seluruh generasi muda Indonesia melakukan hal tersebut, maka yang akan terjadi hilangnya moral generasi muda. Jika moralnya sudah hilang bagaimana kedepannya? Apa mereka akan tetap jadi kaum sosialita? Apa cukup dengan berhutang mereka mampu memenuhi hasratnya? Jawabannya tentu tidak, hal tersebut membuat Indonesia memiliki hutang yang bertambah.

Tidak juga generasi muda, bahkan anak yang baru lahir pun sudah menjadi sosialita. Rafathar Maliq Ahmad, bayi dari pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini sejak kelahiran pertamanya telah ditayangkan secara langsung di televisi. Selain itu juga, Rafathar memiliki kereta bayi yang harganya mencapai 31 juta. Hingga umurnya sekarang ini, Rafathar telah memiliki banyak barang bermerek ternama.(Brilio.net)

Selanjutnya, gaya hidup sosialita membuat kaumnya menjadi orang lain. Mereka yang awalnya tidak suka arisan dapat berubah menjadi hobi arisan. Dari awalnya jarang menggunakan make-up menjadi kecanduan bermake-up, dari belanjanya biasa saja jadi belanja barang yang bermerek.(https://gayahidupmu.com/2016).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya hidup sosialita itu memang tidak baik. Ada beberapa keuntungan gaya hidup demikian, tetapi itu pun hanya dapat dinikmati oleh diri sendiri dan tidak untuk orang lain. Gaya hidup sosialita akan melunturkan indentitas bangsa kita.

Selain itu, jika kita bukan kalangan atas dan kita ingin melakoni hidup tersebut sebaiknya jangan dilakukan sebab gaya hidup seperti itu akan mendorong kita untuk melakukan apa saja agar keinginan kita terpenuhi. Jikalau kita memang berasal dari kalangan atas, tidak menjadi salah kalau ingin jadi seorang sosialita asalkan tidak pamer berlebihan atas apa yang dimiliki. Dan bagi kita generasi muda, sebaiknya jangan ikut gaya hidup seperti itu karena gaya hidup tersebut membuat kita menjadi orang lain bukan diri kita sendiri. Hiduplah sewajarnya saja agar identitas kita tetap dikenal.

Gaya hidup sosialita memang berdampak buruk bagi generasi muda kedepannya, jadi kita generasi muda lebih baik menyiapkan bekal pengetahuan agar dapat mencapai cita-cita yang diinginkan.(****).

 

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dampak Buruk Sosialita Bagi Generasi Muda"