by

Dakwah, Peksos & Kepedulian Sosial

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Pembaca yang budiman, apa yang kita lakukan saat melihat seseorang yang akan menyeberangi jalan kemudian dari arah berlawanan melaju sebuah mobil dengan kecepatan tinggi? Pertama, apakah kita akan berteriak agar orang tersebut tidak menyeberang, berlari mendekatinya sambil menarik tanggannya atau kedua justru mendorongnya agar ditabrak mobil tersebut? Orang yang mempunyai hati nurani tentu akan melakukan tindakan pertama sebagai bentuk cinta dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Bila kisah di atas dihubungkan dengan tema tulisan kali ini, pembaca akan melihat bahwa aktivitas dakwah pun merupakan bagian dari bentuk kecintaan dan kepedulian terhadap sesama manusia. Dakwah dalam bahasa Qur’an disebut dengan amar makruf nahi mungkar. “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” QS. Al Imran: 104.

Makruf dalam hal ini berarti al khoyr (kebaikan), jadi amar makruf artinya seruan untuk mengajak manusia kepada perkara- perkara yang diperintahkan Allah dalam kebaikan berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Sebaliknya, mungkar adalah setiap keyakinan/ keimanan, perbuatan dan ucapan yang diingkari oleh syariat Islam dan harus dijauhi. Dalam hal ini mungkar berarti as syarr (keburukan). Oleh karena itu, nahi mungkar artinya mencegah seseorang dari perkara-perkara yang mungkar (keburukan)/ maksiat kepada Allah Swt. Dengan demikian, syirik kepada Allah, percaya pada ramalan bintang/ dukun/ orang “pintar” dan sejenisnya adalah keyakinan yang mungkar.

Bentuk kemungkaran/ kemaksiatan kepada Allah ini beraneka ragam. Meminum minuman keras (khamr), seks bebas (zina), judi, mencuri, ghibah, berdusta, bersaksi palsu, tajassus (memata-matai) seorang muslim, korupsi, suap dan lain sebagainya termasuk tindakan mungkar/ maksiat. Pembaca yang budiman, berikut ini penulis tambahkan beberapa tindakan maksiat/ mungkar yang harus diketahui, diantaranya tunduk kepada dominasi negara-negara kapitalis/ penjajah, menelantarkan urusan rakyat, mengambil harta milik rakyat (milik umum) tanpa legalisasi syariat, menjalankan hukum/ aturan yang bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah dan sejenisnya juga termasuk kemungkaran/ kemaksiatan kepada Allah Swt.

Dakwah merupakan aktivitas atau amalan para nabi dan rosul di setiap zaman. Oleh karenanya, melakukan amar makruf nahi mungkar merupakan bagian dari ibadah dan amal sholih. Meninggalkan dakwah merupakan amal salah sebab merubah kemungkaran/ kemaksiatan adalah sebuah perintah/ kewajiban dari Allah Swt kepada setiap muslim. Mengajak orang pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sama saja kita menyelamatkan mereka dari perbuatan dosa dan siksa api neraka. Hal inilah mengapa dakwah penulis sebut sebagai bentuk kepedulian sosial.

Tata cara mengemban dakwah telah dicontohkan oleh Rosululloh Saw, “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu hendaklah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah dengan hatinya. Akan tetapi, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” HR. Muslim. Penjelasannya, jika seseorang memiliki dugaan kuat (yakni jika diubah dengan tangan akan muncul kemungkaran yang lebih besar lagi, seperti resiko akan dibunuh atau orang lain akan terbunuh karena perbuatannya), cukuplah mengubah kemungkaran itu dengan lisan, diberi nasihat, teguran dan peringatan. Jika ia merasa khawatir dengan ucapannya tersebut bisa berakibat pada resiko yang sama, cukuplah diingkari dengan hati. (An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, jilid II/ 25)

Pembaca yang budiman, bila dakwah ini dihubungkan dengan peranan pekerja sosial untuk selanjutnya disebut dengan peksos, maka ada benang merahnya yaitu pada peranan peksos sebagai pendidik (edukator). Dalam menjalankan peranan sebagai pendidik, peksos diharapkan mempunyai kemampuan menyampaikan informasi dengan baik dan benar serta mudah diterima oleh individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat yang menjadi sasaran perubahan.

Sebagai pekerja sosial muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT seyogiyanya terpanggil untuk terlibat aktif dalam upaya dakwah/ amar makruf nahi mungkar. Bentuk kontribusi peksos dalam hal ini yaitu berperan aktif dalam kampanye tolak seks bebas dan penyalahgunaan NAPZA. Peksos memberikan pemahanan, pembinaan kepada sasaran perubahan tentang bahaya dan cara membentengi diri dari seks bebas
dan penyalahgunaan NAPZA. Selain itu juga, peksos dapat berperan sebagai fasilitator dan motivator yaitu memfasilitasi dan mendorong terbentuknya lembaga swadaya masyarakat/ organisasi kepemudaan yang peduli terhadap persoalan seks bebas dan pemberantasan penyalahgunaan NAPZA.

Peran peksos lainnya yang berhubungan dengan dakwah adalah sebagai konselor yaitu memberikan konseling kepada sasaran perubahan. Dalam hal ini peksos dapat memberikan penasihatan, masukan dan pengenalan serta penanaman nilai-nilai (Islami) kepada klien yang datang untuk konseling. Kode etik pekerja sosial dalam hal ini prinsip klien berhak menentukan pilihan/ sikap perlu diperhatikan. Hal yang paling penting adalah tugas pekerja sosial hanya menyampaikan masukan/ nasihat kepada klien, perkara klien menerima atau tidak itu perkara yang lain. Contoh kasus adalah pendampingan peksos terhadap klien yang melakukan seks bebas atau HIV/AIDS, penyalahgunaan NAPZA, LGBT dan lain sebagainya.

Tugas penting peksos adalah mengembalikan keberfungsian sosial klien (sasaran perubahan). Penyalahgunaan NAPZA, seks bebas, menjadi LGBT dan melakukan tindakan amoral serta asusila lainnya mengindikasikan seseorang tidak berfungsi secara sosial. Semua hal ini bertentangan dengan norma yang ada, baik norma sosial/ masyarakat, norma hukum, norma kesusilaan dan norma agama itu sendiri. Pendampingan peksos terhadap klien di atas hanya sebatas pemberian alternatif pemecahan masalahnya, pemberian konseling (penasihatan, saran, masukan dan lain sebagainya). Dalam hal ini klienlah yang berhak memilih apakah mereka ingin keluar dari masalahnya atau tidak. “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendakinya.” QS. Al Baqoroh: 272.

Perubahan klien sangat bergantung pada klien itu sendiri. Ada kaidah yang dimiliki oleh peksos,
yaitu to help people to help them self. Artinya, pekerja sosial bertujuan untuk menolong orang agar orang tersebut dapat menolong dirinya sendiri. Pembaca yang budiman, berkenaan dengan dakwah mencegah perbuatan mungkar/ maksiat merupakan kewajiban bagi seorang muslim. Oleh karenanya, menyeru untuk meninggalkan seks bebas, penyalahgunaan NAPZA, LGBT dan lain sebagainya tidak hanya dilakukan oleh ustadz melainkan tanggung jawab kita bersama.

Penulis beranggapan bahwa dakwah yang dilakukan oleh individu, kelompok masyarakat/ ormas tidak akan berjalan efektif bila negara tidak mendukung keberlangsungan dakwah itu sendiri. Misalkan begini, Allah dan Rosul-Nya melarang mengonsumsi minuman keras (khamr), tapi negara malah melegalkan miras (dengan berbagai alasan). Hal ini menandakan negara tidak serius dalam membentengi generasi masa depan dari kerusakan moral. Padahal sudah banyak fakta dan data yang menjelaskan dampak dari miras tidak hanya merusak moral
tapi melahirkan berbagai tindak kejahatan sepeti pemerkosaan, pencabulan, pengeroyokan, pembegalan, perampokan, pembunuhan dan lain sebagainya.

Pembaca yang budiman, dari penjelasan di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa bila dakwah diemban oleh negara, potensi untuk lahirnya berbagai kemungkaran/ kemaksiatan/ tindak kejahatan/ kriminal dapat ditekan atau dicegah. Cukuplah kita mengambil pelajaran dari negara sekuler yaitu negara yang mencampakkan aturan dari Dzat Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan dan menjadikan aturan buatan manusia yang berasal dari nafsu sebagai sesembahan mereka mengalami kebangkrutan atau kehancuran.

Sebagai penutup, penulis ingin menegaskan bahwa antara dakwah, peksos dan kepedulian sosial memiliki hubungan satu sama lain, yaitu semangat untuk mengembalikan keberfungsian sosial manusia. Ketiga variabel tersebut sama-sama bertujuan agar manusia berfungsi secara sosial di tengah masyarakat. Aktivitas dakwah dan apa yang dilakukan peksos merupakan bentuk kepedulian sosial yang harus terus berlangsung. “Demi jiwaku yanng ada dalam genggamannya, kalian memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran atau Allah akan menimpakan azab atas kalian, kemudian kalian berdosa kepada-Nya lalu doa kalian tidak akan dikabulkan.”
HR. At Tarmidzi.Wallahu’alam [****].

Comment

BERITA TERBARU