COVID-19, Edukasi dan Wajah Pembelajaran

  • Whatsapp
Jumani
Kepala SMA Negeri 1 Namang, Bangka Tengah, Babel

Saat ini, wajah pembelajaran kita (Indonesia) dikejutkan dengan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Tak terbayangkan pembelajaran daring (dalam jaringan) akan menjadi primadona dan pilihan utama. Yang populer selama ini, adalah “gojek” dan “grab” di media tranportasi. Pembelajaran konvensional, pembelajaran dengan tatap muka langsung bersama peserta didik, untuk sementara dialihkan dengan dunia maya dan virtual.

Hari ini, otak kita dipaksa untuk berpikir tentang pengelolaan pendidikan berbasis daring. Hal ini terjadi karena pandemi COVID-19 yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebuah peristiwa yang tak terpikirkan dan terbayangkan sebelumnya. Pandemi COVID-19 telah mengubah wajah dunia pendidikan. COVID-19 telah “memaksa” pendidik dan peserta didik untuk membuka kembali pelajaran Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pernah menjadi bagian kurikulum pendidikan. Selanjutnya, membumikan kembali pembelajaran TIK yang dipelajari dan diperoleh selama ini. COVID-19 telah membuka cakrawala kita bahwa pembelajaran berbasis daring sebuah keniscayaan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Hal ini berkaitan dengan telah menyebarnya virus ini ke lebih dari 100 negara di dunia, termasuk Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pandemi adalah wabah yang berjangkit di mana-mana atau meliputi geografi yang luas. Dampak yang cukup dirasakan dari pandemi COVID-19 ini, salah satunya sektor pendidikan. Kegiatan pembelajaran tatap muka yang selama ini belum tergantikan, seketika harus diubah dengan kegiatan daring. Pemanfaatan media daring dalam pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan dan langkah maju. Teknologi yang selama ini hanya dimanfaatkan untuk kegiatan yang tidak banyak berkaitan dengan dunia pendidikan seperti facebook, instagram, twitter, game online, tiktok, youtobe, whatsapp, sampai like, hari ini telah mengubah wajahnya.

Dengan COVID-19, aplikasi-aplikasi tersebut, dioptimalisasikan untuk kemashlahatan pembelajaran. Namun, pemanfaatan aplikasi tersebut harus dibarengi dan diimbangi dengan pengawasan dan pembinaan dari para pendidik. Kalau hal tersebut tidak terfilter, hanya akan menjadi beban masa depan anak-anak. Pendidik harus memastikan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan kerangka pembelajaran yang telah di desain. Pendidik harus memaksimalkan media daring seefektif mungkin. Hal ini berkaitan dengan belajar dari rumah yang mesti dilakukan.

Baca Lainnya

Belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh seyogyanya memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan Pelaksanaan Belajar Dari Rumah, yang selanjutnya disingkat BDR mesti diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Prinsip-prinsip tersebut antara lain keselamatan dan kesehatan lahir batin peserta didik, pendidik, kepala satuan pendidikan menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan BDR. Selanjutnya, melalui BDR peserta didik mendapatkan pengalaman belajar bermakna tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum. Selain itu, belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai COVID -19.

Aktivitas dan tugas pembelajaran dari rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Hasil belajar dibeikan umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif serta mengedepankan pola interaksi serta komunikasi yang positif antara guru dengan orang tua/wali. Penyelenggaran pembelajaran dari rumah yang dilaksanakan saat ini, tentu tidak akan masif jika tidak ada peristiwa yang luar biasa seperti sekarang. COVID-19 telah membuka mata semua stakeholder dan pelaksana pendidikan bahwa penyelenggaraan BDR dalam masa darurat adalah sebuah keniscayaan. Hal ini juga merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana serta Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19. Merujuk SE Nomor 4 Tahun 2020 tujuan BDR adalah (1) untuk memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat COVID-19; (2) untuk melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk COVID-19; (3) untuk mencegah penyebaran dan penularan COVID-19 di satuan pendidikan; dan (4) untuk memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali.

Pelakskanaan BDR dapat dilaksanakan dengan pembelajaran jarak jauh dalam jaringan dan pembelajaran jarak jauh luar jaringan (luring). Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran menyesuaikan dengan ketersediaan, kesiapan sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah. Pembelajaran BDR secara daring dapat memanfaatkan gawai, atau laptop melalui beberapa portal dan aplikasi pembelajaran daring, sedangkan pembelajaran luring dapat dilaksanakan dengan menggunakan media buku, modul, dan bahan ajar dari lingkungan sekitar serta menggunakan televisi atau radio.

Pembelajaran dengan media daring sebenarnya bukan tanpa masalah. Harus diakui, keterbatasan penguasaan teknologi (tidak semua guru melek teknologi), menjadi salah satu kendala. Terkhusus untuk guru generasi yang lahir 1980 ke bawah, yang pada masa mereka penggunaan teknologi belum begitu masif. Walaupun hal tersebut tidak dapat dijadikan justifikasi, pendidik tidak dapat menggunakan teknologi secara optimal. Seorang pendidik adalah pembelajar yang harus selalu siap menghadapi perubahan zaman sekaligus mengikuti perkembangan.

Kondisi serupa berbanding lurus dengan peserta didik. Tidak semua peserta didik paham teknologi. Banyak peserta didik yang masih gaptek teknologi terutama di daerah-daerah “pingggiran”. Hal ini terutama bagi peserta didik yang tidak memiliki gawai. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana merupakan masalah klasik yang sering digaungkan. Kepemilikan perangkat pendukung teknologi yang terbatas, menyebabkan keterbatasan peningkatan kualitas pembelajaran. Bahkan, kalaupun peserta didik memiliki fasilitas, tidak digunakan untuk pendukung pembelajaran. Hal ini diperkuat dengan ketidaktahuan orang tua dalam membimbing anaknya untuk pemanfaatan teknologi. Selanjutnya, proses pembelajaran daring tidak akan terlaksana tanpa dukungan kemudahan akses terhadap internet dan listrik. Masalahnya, tidak semua daerah sudah terkoneksi dengan internet. Bahkan, di sekolah pun banyak sekolah yang tidak memiliki jaringan internet. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler, terkadang jaringan yang tidak stabil. Hal ini berkaitan dengan letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Masalah klasik lainnya yang muncul adalah masalah biaya. Jaringan internet yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran daring menjadi masalah tersendiri bagi pendidik dan peserta didik. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak di antara pendidik dan orang tua peserta didik yang tidak siap menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.

Dibalik semua keterbatasan tersebut, perkembangan zaman pasti menuntut perubahan peradaban. Imbasnya akan berdampak pada dunia pendidikan khususnya proses pembelajaran. Bisa jadi, pembelajaran daring akan menjadi formula utama dibandingkan pembelajaran tatap muka langsung mengingat efektivitas transfer ilmu pengetahuan yang sangat baik, cepat, dan mudah. Namun, pembelajaran daring yang memanfaatkan teknologi ini, memang seperti dua mata pisau. Di satu sisi, memberikan nilai positif. Sementara, di sisi lain memberikan nilai negatif. Berkaitan dengan hal tersebut, literasi teknolgi sangat penting diketahui dan dipahami oleh seluruh stakeholder pendidikan, mulai dari pendidik, peserta didik, orang tua, dan masyarakat khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatannya sebagai media pembelajaran daring. Sejatinya, peran orang tua dalam memberikan edukasi kepada putra-putrinya sangat diutamakan karena pendidikan anak adalah tanggung jawab mutlak orang tua. Orang tua akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat atas anak mereka masing-masing. Orang tua diharapkan terlibat langsung dengan mendampingi kegiatan belajar putra-putrinya. Pengalaman ini akan menumbuhkan kesadaran para orang tua bahwa mendidik anak itu diperlukan ilmu dan kesabaran yang luar biasa. Rumah sebagai tempat pertama dan utama dalam mendidik putra-putrinya akan berjalan fungsinya. BDR memberikan pengalaman bahwa rumah dapat berfungsi sebagai sekolah; orang tua harus belajar memberikan ilmu pengetahuan kepada putra-putrinya. Diharapkan fungsi guru sebagai fasilitator terealisasikan.

Peran yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran daring adalah pendidik. Pendidik harus menyadari bahwa peran saat ini, sebagai pentransfer ilmu pengetahuan, suatu saat akan tergantikan oleh mesin. Media untuk memperoleh ilmu pengetahuan sudah sangat mudah diakses. Bahkan, saat ini banyak media yang sudah berperan sebagai guru. Secara gamblang, pengetahuan teraktual dengan cepat didapat melalui informasi internet. Internet telah menembus ruang dan waktu dengan cepat. Jika pendidik hanya memposisikan diri sebagai pentransfer ilmu pengetahuan, pasti akan tertinggal dengan media internet. Pendidk harus terus berinovasi. Seyogyanya, pendidk memiliki peran yang luar biasa dibandingkan internet yaitu sebagai pemberi nilai, rasa, dan karsa. Selanjutnya, sekolah sebagai institusi penyelenggara pendidikan sudah menjadi keniscayaan untuk terus mengantisipasi setiap perubahan dan perkembangan dunia pendidikan. Perubahan aktivitas manusia yang memiliki kecendrungan untuk tidak dapat melepaskan diri dari teknologi mesti disikapi dengan cepat oleh sekolah. COVID-19 telah memberikan pelajaran berharga dan sangat penting bagi sekolah bahwa peran sentralisasi sekolah seolah-olah tak berbekas.

Program-program pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dulu dianggap sangat penting karena berpengaruh terhadap kualitas pendidikan, kini kehilangan marwahnya. Misalnya, Pemerintah membatalkan Ujian Nasional (UN) dan program-program lain berkaitan dengan kegiatan pengumpulan massa. Kegiatan-kegiatan tersebut diganti dengan aktivitas yang dilakukan secara daring, walaupun tidak diwajibkan. Formula ini, menggambarkan bahwa kegiatan daring saat ini, menjadi sebuah sinyalisasi proses awal perubahan paradigma pelaksanaan pembelajaran. Oleh karena itu, sekolah yang tidak dapat mengikuti arus perubahan akan termarginalkan. Sekolah harus mulai memikirkan sarana penunjang pembelajaran daring. Bisa jadi suatu saat kelak sekolah tinggal menjadi situs dan tempat bersejarah karena sudah berubah fungsi. Belajar tidak perlu lagi datang ke sekolah. Cukup di rumah dengan fasilitas yang dimiliki. Gambaran hari ini, COVID-19, telah mengamini hal tersebut. Ini menjadi tantangan tersendiri. Merujuk hal-hal di atas, peran pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pendidikan nasional ke depan sangatlah penting. Kebijakan berkaitan pembelajaran, konvensional maupun daring mesti segera dibuatkan regulasi yang matang. Kemajuan teknologi sangat memungkinkan pelaksanaan pembelajaran secara daring. Pemerintah mesti menyiapkan sarana pendukung untuk mendukung pembelajaran yang berkualitas. Semoga COVID-19 ini merupakan cara Yang Maha Kuasa menjadikan wajah pendidikan kita sederajat dengan negara-negara maju. (***).

Related posts