Covid-19 dan Ekonomi Masyarakat Bawah

  • Whatsapp

Namun yang paling rentan tentunya adalah pekerja sektor informal tadi. Kita sudah bisa merasakan sekarang, corona memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perekonomian. Beberapa sektor industri seperti perikanan dan perkebunan sudah mulai menutup usahanya. Kepiting rajungan misalnya, sekarang mulai tidak laku, sehingga masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan saat ini kesulitan untuk menjual hasil tangkapannya. Padahal banyak sekali masyarakat nelayan yang menggantungkan hidupnya dari menangkap kepiting. Di sektor perkebunan juga demikian, karet misalnya. Sekarang beberapa perusahaan sudah mulai menutup pabrik dan menghentikan produksinya sementara waktu sampai batas waktu yang tidak diketahui sehingga berdampak pada turunnya harga karet. Beberapa petani karet yang penulis temui juga sudah mulai resah dan was-was dengan kondisi ini. Tak hanya karet, sawit, timah dan komoditas-komoditas lain juga mulai terpukul.

Curhatan beberapa petani dan nelayan yang penulis temui tadi menggambarkan betapa seriusnya persoalan ekonomi yang mereka hadapi di tengah wabah corona saat ini. Yang lebih ironis lagi, di saat untuk makan saja sulit, sebagian masih harus membayar cicilan leasing ataupun bank yang sudah jatuh tempo. Padahal pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan penangguhan pembayaran cicilan bagi yang terdampak wabah Covid-19. Namun dilapangan kadang tidak sesuai dengan kebijakan yang ada, dan itu sudah biasa. Masih ada saja leasing-leasing yang tidak berempati kepada nasabahnya meskipun kita tahu dalam kondisi wabah corona semua aktivitas ekonomi tidak lagi berjalan lancar dan normal sehingga menggerus pendapatan.

Read More

Ironi tapi terjadi, inilah yang dihadapi oleh masyarakat pekerja sektor informal yang masuk dalam kategori rentan. Masyarakat rentan secara ekonomi jumlahnya sangat banyak. Kita bisa lihat data jumlah masyarakat yang bekerja di sektor informal di Indonesia pada 2019 berjumlah kurang lebih 73 juta orang masih lebih tinggi dari pekerja di sektor formal 56 juta jiwa. Masyarakat rentan tidak bisa bekerja dari rumah memandangi laptop dan computer, namun tetap menerima transferan gaji dan tunjangan dinamis yang tetap setiap bulannya. Mereka harus keluar mencari makan, otherwise mereka akan kelaparan. Atau tinggal di rumah mengikuti anjuran pemerintah untuk menghindari Covid-19, tapi kebutuhan pangannya dijamin oleh pemerintah. Begitulah kerangka logisnya. Tidak banyak pilihan yang mereka punya.

Related posts