by

Cinta Palsu Berbalut Nafsu

-Opini-60 views

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Valentine’s day merupakan budaya yang berasal dari barat. Budaya ini mulai masuk secara massif di Indonesia dan dirayakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama oleh pemuda dan pemudinya. Sebagian orang beranggapan bahwa valentine’s day adalah hari kasih sayang. Namun, pertanyaannya, mengapa saling berkasih sayang diidentikkan dengan tanggal 14 Februari? Padahal sejatinya, kasih sayang dapat diberikan kepada siapapun dan kapanpun selama itu masih dalam koridor ajaran agama (baca: Islam). Peristiwa apa yang melatarbelakangi hal tersebut?

Pembaca yang budiman, banyak versi yang membahas tentang sejarah valentine’s day. Berikut ini penulis sajikan sejarah singkat lahirnya valentine’s day dari berbagai sumber.
Dahulu, ada seorang pemimpin katolik bernama Valentine bersama rekannya Marius secara diam-diam menentang kebijakan pemerintahan Kaisar Claudius II (268-270 M).
Claudius II dikenal sebagai penguasa yang ambisius. Peperangan yang diikutinya melibatkan tentara muda terbaik. Sang kaisar membuat kebijakan melarang pemuda untuk menikah (baca: melakukan aktivitas seks). Kaisar beranggapan bahwa pemuda (baca: prajurit) yang belum berkeluarga memiliki fisik yang kuat untuk berperang melawan musuh.

Valentine tidak setuju, diam-diam ia tetap menikahkan setiap pasangan muda-mudi tanpa sepengetahuan kaisar. Oleh karenanya, muncul kebijakan melarang bala tentaranya untuk menikah. Lambat laun, aksi Valentine menikahkan secara rahasia tentaranya “tercium” oleh Claudius II. Valentine kemudian dijebloskan ke penjara dan diancam hukuman mati. Pasangan yang telah ia nikahkan secara diam-diam mengunjungi selnya dan memberikan bunga dan surat sebagai bentuk ucapan terimakasi mereka.

Di dalam penjara, Valentine jatuh hati kepada anak gadis seorang sipir (penjaga penjara). Sebelum ajal Valentine tiba, ia meninggalkan surat untuk gadis tersebut (from your Valentine). Gayung bersambut, valentine’s day memiliki hubungan yang erat dengan kepercayaan peradaban Romawi. Pembaca yang budiman, pernahkah pembaca melihat lambang bayi mungil tampan bersayap yang memegang busur dan anak panah sebagai lambang valentine’s day?
Pernahkah kita mencari tahu apa maksud lambang tersebut?

Menurut kepercayaan orang Roma, bayi tampan tersebut bernama Cupid. Ia adalah anak dari Lupercus yang dikenal sebagai Dewa Pan (Namrudz) dan Dewi Aphrodite. Cupid ketika muda dikenal sangat ganteng dan gagah perkasa. Banyak perempuan yang tergila-gila (baca: nafsu birahi mereka bangkit) padanya termasuk ibunya sendiri tertarik kepada ketampanan anaknya tersebut dan kemudian cupid dan ibunya berzina.

Cupid dikenal sebagai Dewa Cinta dari Romawi. Cupid berasal dari kata cupere artinya nafsu birahi. Panah yang dipakainya sejatinya bukan hanya perlambang ia memanah asmara, tapi memanah nafsu birahi. Diceritakan bahwa Cupid dan ibunya tobat pada tanggal 15 Februari. bulan Februari menurut kepercayaan mereka berasal dari kata “februa” artinya pensucian jiwa.
Dalam peradaban Romawi dikenal perayaan lupercalia (gambaran lupercus yaitu laki-laki setengah telanjang berpakaian kulit kambing). Perayaan ini diawali dengan mengurbankan hewan, kemudian diikuti dengan ritual cambuk yang dilakukan terhadap perempuan muda sebagai simbol permohonan kesuburan. Malam tanggal 14 Februari para pemudanya mengundi nama gadis secara acak. Gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan objek hiburan (baca: pesta seks).

Pembaca yang budiman, setelah Kristen masuk ke Romawi, perayaan lupercalia diadopsi oleh gereja dan ditetapkan tanggal 14 Februari sebagai hari Valentine. Saat itu, budaya pagan Roma dalam merayakan lupercalia mengakar kuat dan sulit dihapus total. Oleh karenanya Paus Gelasius meresmikan hari Valentine menjadi Kalender Gereja pada tahun 496 M sebagai bentuk asimilasi budaya. Sejak saat itu, valentine’s day menjadi tradisi remaja hingga saat ini
di berbagai negeri termasuk Indonesia.

Sesungguhnya cinta dan nafsu birahi merupakan fitrah yang ada pada diri setiap manusia. Tinggal bagaimana kita menyalurkan hasrat tersebut pada “rel” yang telah diatur oleh agama (bada: Islam). Sejatinya valentine’s day bermakna pergaulan bebas dan supaya terlihat menarik dibungkuslah dengan hal-hal yang berkaitan dengan cinta. Supaya tidak kaku, pesta seks dalam valentine’s day dibungkus dengan berbagai pesta dan hiburan termasuk di dalamnya saling memberi bunga, coklat, boneka dan lain sebagainya.

Saat ini, remaja, pemuda dan pemudi di negeri ini dan di negeri lainnya dibuat hilang “kewarasannya” dalam memaknai cinta hakiki. Kata “I Love You” ditafsirkan “I Wanna Sex with You.” Perayaan valentine’s day selalu diikuti dengan aktivitas pacaran (mojok, pergi berdua, makan, nonton berdua, pegangan tangan, pelukan, ciuman dan berujung pada seks). Padahal pacaran itu sendiri mendekatkan pada pergaulan bebas dan ini dilarang oleh Dzat pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. “Dan janganlah kamui mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” Qs. Al Isra’: 32.

Sebagai orang timur dan juga negeri yang penduduknya mayoritas muslim, valentine’s day seyogiyanya tidak dirayakan. Praktik perayaan budaya ini identik dengan seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan kegiatan maksiat lainnya. Penulis pernah menjumpai fakta bahwa pada hari valentine’s day ditemukan coklat yang digandeng dengan kondom dijual di beberapa toko. Hal ini tentu mengandung maksud terselubung agar pada hari itu dilakukan aktivitas seks pada pasangannya.

Di sejumlah daerah di Indonesia, penulis mendapatkan informasi bahwa mulai muncul kesadaran dari pejabat/ instansi terkait yang mengeluarkan surat edaran untuk tidak merayakan valentine’s day. Mereka menyadari bahwa budaya tersebut berpotensi merusak akhlak pemuda dan pemudi di daerahnya. Upaya ini cukup berani dan patut menjadi contoh bagi daerah lain, mengingat hari ini seks bebas cenderung menjadi tren dan valentine’s day dapat menjadi wasilah yang mendorong pemuda dan pemudi untuk melakukan seks bebas dan berbagai maksiat lainnya.

Maraknya sebagian muslim yang merayakan valentine’s day telah digambarkan oleh Rasululullah Saw, “..kalian pasti akan mengikuti tuntunan, cara hidup, jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan kalau seandainya mereka memasuki lubang biawak sekalipun, pasti kalian akan memasukinya.” HR. Bukhori. Dalam riwayat yang lain, Rosululloh Saw bersabda, “..kalau sekiranya mereka melakukan persetubuhan (baca: zina/ hubungan senggama suami istri) di jalan pun, pasti kalian akan mengikuti mereka.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi budaya barat yang merusak termasuk
di dalamnya valentine’s day ini? Setidaknya penulis memandang bahwa ada lima elemen yang harus dimaksimalkan peranannya. Pertama, keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pendidikan anak diharapkan untuk lebih maksimal lagi dalam menanamkan nilai-nilai Islami kepada para anaknya. Dengan demikian peran orang tua dituntut untuk lebih maksimal dalam memahami ajaran agamanya (baca: Islam) sehingga dapat menjadi tauladan bagi anak-anaknya.

Kedua peran sekolah sebagai institusi formal yang berfungsi memadukan semua aspek pendidikan diharapkan dapat menjadi benteng kedua dalam pengondisian peserta didik agar tidak terjebak pada budaya barat yang merusak. Ketiga memaksimalkan peran masyarakat dalam mengontrol dan menyaring budaya asing di daerahnya masing-masing.

Keempat, peran partai politik dalam mengedukasi masyarakat terutama remaja untuk membentengi generasi dari budaya barat yang merusak. Kelima, peran pejabat publik dalam membuat kebijakan untuk melarang masuk dan diterapkannya praktik budaya barat yang merusak di negeri ini.

Selain itu yang paling penting adalah mencampakkan sekulerisme (paham yang memisahkan ajaran agama daripada kehidupan). Paham ini mendoktrin manusia agar bebas bersikap dan berprilaku (termasuk seks bebas dan valentine’s day) serta pragmatis dalam menjalani kehidupan. Paham ini mendikte manusia untuk tidak lagi menjadikan standar halal dan haram, pahala dan dosa sebagai standar dalam bersikap dan berprilaku.

Pembaca yang budiman, sebagai seorang muslim kita dilarang untuk mengikuti tuntunan, cara hidup, jalan hidup, gaya hidup, budaya dan peradaban di luar Islam. “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam kaum itu.” Oleh karena itu, mari kita kembali kepada hakikat Allah Swt menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Tidak ada sesuatu apa pun yang dibiarkan begitu saja, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah Swt di yaumil akhir kelak. Wallahu’alam. [****].

Comment

BERITA TERBARU