Cerpenis

No comment 284 views
Cerpenis,5 / 5 ( 1votes )

Karya: Rusmin

Sudel kaget. Hampir-hampir tak percaya sama sekali. Bak mimpi. Tak ada tanda-tanda dari alam. Tak merasakan akan mendapat perlakuan istimewa seperti ini dari publik. Mulai dari Pak Camat hingga Pak RT. Tak terkecuali dari penghuni Kampungnya.
Kini nama Sudel bak selebritis di Kampungnya. Semua orang wajib tahu siapa Sudel. Termasuk alamat rumahnya. bahkan berselfie ria dengan Sudel telah menjadi icon bagi warga. Ada kebanggaan tersendiri ketika memposting foto bersama Sudel di medsos. apakah di facebook, twitter hingga instragram.
Sudel sungguh tak menyangka. Sama sekali tak menyangka. Tak ada dalam kamus otak pensiunan ini dirinya akan menjadi seperti ini. Akan menjadi kejaran orang seKampung untuk berfoto ria. Menjadi bahan pembicaraan publik di berbagai media sosial. Sama sekali tak disangkanya.
Cerpennya yang berjudul ” Presiden, Datanglah ke Kampung Kami ” yang dimuat di sebuah harian Kota telah menjungkirbalikkan fakta hidupnya. dari cerpen itulah hiduplah bermulai. Padahal menulis cerpen dilakukannya untuk menisi masa senggangnya. ” Daripada otak buntu lebih baik menulis cerpen,” pikir Sudel. Toh dia pernah ikut pelatihan menulis cerpen saat dirinya masih bekerja di sebuah Kantor Pemerintah.
Tak lama setelah cerpen itu dimuat Presiden memang datang ke kampung mareka untuk meresmikan sebuah proyek yang sempat terbengkalai. lewat cerpen itu hidupnya terangkat ke langit. Semua orang memandangnya dengan takjub. Semua mata mempelopoti dirinya. Dari ujung kaki hingga ujung rambut. Semua orang mengaguminya. Semua orang memuji dengan kata-kata indah.
“Luarbiasa Pak Sudel. Pak Presiden datang ke kampung kita setelah membaca cerpennya yang dimuat seminggu sebelum Presiden datang,” ujar seorang warga saat para warga sedang kongkow-kongkow di warung Mang Timbul.
” Iya. Tak menyangka sama sekali Presiden bisa datang ke Kampung kita,” sela warga yang lainnya.
” Itu karena Pak Presiden membaca cerpen Pak Sudel,” ungkap warga yang lainnya.
” Hebat sekali Pak Sudel. Lewat cerpen bisa memaksa seorang Presiden datang ke Kampung ini,” lanjut warga lainnya. Senja mulai tiba. Seonggok awan hitam muncul disela awan biru yang teronggok. Burung-burung camar mulai berterbangan. Menari-nari diatas langit yang biru. Sebuah diorama alam yang terperikan.

###

Nama Sudel kembali menjadi perbincangan ketika cerpennya berjudul ” Selamat Datang Bupati Baru ” terbit di Koran minggu. Sebuah cerpen yang berkisah tentang warga Kota yang akan memiliki seorang Bupati baru. Terbukti sekali. Cerpen itu terbukti sekali. Hari rabunya lewat pilkada langsung, warga kota telah memilih Bupati baru mareka.
” Terima kasih Pak Sudel atas cerpennya. Pak Bupati terpilih ingin mengundang Bapak ke rumahnya dalam acara syukuran kemenangan beliau. Beliau ingin berterima kasih kepada Bapak,’ ungkap seorang timses Bupati terpilih kepada Sudel.
” Benar sekali Pak. Cerpen bapak telah meluluhlantakkan hasil survey yang dirilis paslon lainnya. Kami sangat berterima kasih sekali pak,” sambung timses paslon dengan wajah berseri-seri.
Sudel hanya terdiam. Tak menjawab. Bahkan terkesan bingung dengan analisa timses Bupati yang menang. dirinya dalam menulis cerpen cuma berdasarkan imajinasi. Tak pernah menggunakan kata-kata bijak dari para praktisi terkenal. Dalam menulis cerpen dirinya hanya mengandalkan intuisi.Buakn berdasarkan analisa ilmiah. Apalagi soal politik dirinya buta sama sekali. Hanya anggukan kepala yang menandakan dirinya telah menjawab ungkapan timses bupati terpilih. Malam makin melarut. Desis suara anjing hutan liar terdengar mendengus dengan keras mencari mangsanya. Sekeras jari-jari Sudel bermain diatas tuts komputer tuanya yang kadang sering error. Malam ini dirinya sedang menulis sebuah naskah cerpen yang bertemakan kematian. lancar sekali lelaki itu menulis. Tak sampai 30 menit naskah itu selesai. Dan siap dikirimkannya ke redaksi koran via email. Dan dalam hitungan detik email pun terkirim. Sudel lega. Sangat lega. Ada perasaan bahagia yang menjalari tubuhnya.

###

Kini sudel bak selebritis di Kampungnya. Orang-orang membicarakannya. Dari anak muda hingga orang Dewasa. Dari Gadis hingga janda. nama Sudel menjadi buah bibir. Bahkan Sudel kini merasakan bagaimanan nikmatnya menjadi seorang selebritis kendati tingkatnya cuma lokal. level Kampung. beberapakali ke pasar, Sudel tak boleh membayar barang beliannya.
” Sudah pak pengarang ambil saja. Yang penting bapak tidak mencerpenkan saya di koran,’ ujar seorang pedagang saat sudel membeli sebuah ember untuk keperluan istrinya mencuci.
Demikian pula ketika pada suatu pagi yang sinar mentari enggan terbangun dari mimpi panjangnya, seorang juragan Sapi menolak untuk menerima uangnya.
” Tidak usah dibayar Pak pengarang. Yang penting pak Pengarang menulis cerpen tentang harga sapi akan naik,” ujarnya sembari menolak uang pembayaran dari Sudel.
Bukan hanya sudel yang mengalami gagal bayar. sang istrinya mengalami hal yang sama. saat hendak membeli keperluan bulanan, pemilik toko menolak pembayaran uangnya. Pemilik toko cuma berpesan kepada istri Sudel untuk membuat cerpen tentang tokonya biar makin laris dan ramai dikunjungi warga.
” Tidak usah dibayar Ibu pengarang. Yang penting bilang kepada Pak pengarang untuk membuat cerpen tentang toko kami biar ramai dikunjungi pembeli,” ujar pemilik toko dengan ramah. Istri Sudel terdiam. Tak enak hati rasanya tidak membayar. Apalagi barang yang dibelinya cukup banyak. maklum untuk keperluan sebulan.

###

Malam itu cahaya purnama bercahaya dengan indahnya. kerlap kerlip kunang-kunang menambah keindahan malam itu. Sementara suara ayat-ayat suci terus mengalun dari masjid. Menambah kesakralan malam.
” Saya heran Pak. Kok orang-orang nggak mau dibayar saat saya belanja,” ungkap istri Sudel sembari mengantar kopi untuk Sudel yang sedang duduk diteras belakang rumahnya.
” Iya, Bu. Saya juga demikian. Tak ada pemilik toko yang mau menerima pembayaran saya,” jawab Sudel sembari menyeruput kopi buatan istrinya.
” Aneh,” pikir sang istri.

###

Sebuah cerpen tentang kematian telah terbit dikoran mingguan. Belum selesai warga membacanya, sebuah pengumuman datang dari arah masjid. Menggagetkan para warga. warga sangat akrab dengan nama itu. Teramat kenal dengan nama itu.
‘ Innalillahi Wainnalillah Rojiun. telah berpulang ke rahmatullah saudara kita, tetangga kita dan orang tua kita Pak Sudel dalam usia ke 64 tahun. Semoga almarhum mendapat tempat yang layak disisi Allah sesuai dengan amal kebaikkannya selama di dunia. Insya Allah penguburan jenazahnya akan dilakasanakan di TPU Umum Kampung kita selepas Zohor,” demikian bunyi penguman dari masjid.
Seketika itu pula para warga berhamburan menuju rumah Sudel. Koran mingguan yang berisikan cerpen Sudel berhamburan di jalanan rumah warga. Terinjak-injak oleh kaki warga yang berduyun-duyun ke rumah Sudel untuk untuk memberikan penghormatan terakhir bagi pengarang itu. Langit makin cerah. Sinar mentari bercahaya dengan terangnya. Seterang jiwa Sudel yang akan bertemu dengan sang Maha Pencipta.

No Response

Leave a reply "Cerpenis"