Cerpen ke-500

No comment 407 views

Karya: Rusmin

Markudut bahagia. Ditatapnya sinar mentari pagi yang menyinari dirinya dengan penuh senyuman. Segurat senyum yang amat membahagiakan. Matanya berbinar menatap alam sekitarnya. Hatinya berbunga-bunga bak bunga matahari. Jiwanya pun terang seterang sinar matahari yang selalu bersinar setiap pagi mengiringi derap langkah penghuni bumi beraktivitas.
Maklum, hari ini dia akan menyelesaikan cerpennya yang kelimaratus. Ya, sebuah langkah visioner yang akan dicapainya sebagai penulis muda. Sebuah keberhasilan besar dalam karyanya sebagai penulis fiksi. Sebuah pencapaian yang sangat besar dalam kariernya sebagai fiksianer. Sebuah prestasi yang akan tercatat dalam torehan sejarah sastra di negeri ini.
“Alhamdulillah, hari ini saya akan menyelesaikan cerpen yang kelimaratus. Semoga berhasil,” desisnya dalam hati dengan penuh optimis.
Markudut masih ingat dan sangat ingat sekali ketika pujian datang bertubi menghampiri raganya dari temannya sesama penulis cerpen. Mereka sangat bangga dengan Markudut yang akan menyelesaikan cerpen kelimaratus. Mereka para sahabatnya terus mensupport agar cerpen itu segera terealisasi.
“Kalau cerpen kelimaratusmu itu tercapai, maka engkau adalah fiksianer pertama yang mampu menembus rekor itu,” ujar temannya.
“Ya, bukan tak mungkin engkau akan dinobatkan sebagai fiksianer terbaik tahun ini,” sambung yang lain.
“Pokoknya, kamu harus menyelesaikan cerpen kelimaratus mu itu, kawan,” kata teman lain memberi semangat.
Markudut tersenyum bahagia mendengar ocehan bernada optimisme yang diberikan kawan-kawannya. Optimisme kembali mengkristal dalam jiwanya. Tekadnya untuk menyelesaikan cerita pendek kelimaratus itu tak terbendungkan.

___

Kening Markudut mulai mengkerut. Keringat deras mulai mengalir dari tubuhnya. Membasahi seluruh badannya. Otaknya serasa mati. Sudah 50 menit dia berada di depan laptop tuanya, baru 5 kalimat yang bisa dia tulis. Baru lima kalimat saja. Tak seperti biasanya, dalam waktu selama itu, setidaknya cerpennya sudah pada tahap penyelesaian. Tapi kini kok mandeg? Entah ada apa gerangan? Tiba-tiba idenya mati bak listrik PLN yang sering menggulitakan rumahnya.
Markudut meninggalkan meja laptopnya. Dibukanya jendela kamarnya. Matahari masih bersinar terang kepadanya. Diambilnya sebatang rokok. Lelaki itu lalu menghisap rokoknya. Siapa tahu dengan menghisap rokok, idenya muncul. Begitu pikir Markudut.
Dan benar saja, mood menulisnya kembali bagus. Asap rokoknya mengepul. Membubung tinggi ke langit seiring cita-citanya yang tinggi untuk menyelesaikan cerpennya yang kelimaratus sebagai sebuah karya besar dari dirinya untuk pembaca.
Tapi sudah tiga batang rokok dihabiskannya, namun tangannya belum juga menekan tuts keyboard laptop sebagai tanda untuk melanjutkan menulis cerpen. Belum ada sama sekali tanda-tanda tangannya kembali menekan laptop. Masih berkutat pada 5 kalimat tadi yang belum juga beranak pinak.
Sementara di tangannya masih terselip rokok yang terbakar. Asapnya masih terus berkobar bak ambisi para politisi yang ambisius. Matanya masih memandang ke arah matahari yang makin panas sinarnya sepanas hati Markudut yang tersiksa dengan belum selesainya cerpen yang ditulisnya.
Markudut kembali memeras otaknya. Cara apalagi yang harus dipakainya biar tangan dan otaknya segera bersinergi untuk menyelesaikan cerpen yang tertunda hingga berjam-jam ini. Penulis muda itu mulai putus asa. Ada rasa kesal yang mengalir dalam jiwanya. Ada rasa kecewa yang mengalir dalam seluruh tubuhnya.
Persendiannya mulai terasa ngilu. Otaknya mulai berwarna-warni. Diisi beragam pikiran-pikiran yang lahir dari sebuah keputusasaan yang melanda jiwanya. Markudut terkulai. Sementara laptopnya tiba-tiba mati seiring habisnya baterai.

___

Para tetangga Markudut mulai gelisah. Mareka bertanya-tanya. Ke mana lelaki muda itu berada? Sudah dua hari, lelaki muda itu tak keluar rumah. Tak menampakkan batang hidungnya. Tak bercengkrama dengan tetangga yang menjadi kebiasaannya. Rumahnya gelap gulita. Tak biasanya penulis muda itu berlakon seperti itu. Kalaupun dia meninggalkan rumah untuk jangka waktu yang lama, biasanya selalu memberi tahu kepada tetangganya.
Lagi pula Markudut dikenal sebagai warga yang ramah dengan tetangga. Suka menolong. Dan tentu saja peduli dengan kehidupan para warganya. Tak heran banyak cerpen yang ditulisnya berkisah tentang kehidupan warga di sekitar tempatnya tinggal. Sebuah kampung di kota besar yang tak pernah diperhatikan pemimpin Kota yang dipilih warganya dengan jiwa bersih, penuh sukacita dan rasa bahagia.
“Kita harus mendobrak rumahnya,” ajak seorang warga kepada beberapa warga.
“Betul sekali. Tak bisa dibiarkan. Kita harus segera mengambil langkah cepat sebelum terjadi sesuatu kepada Markudut,” sambung warga lain.
“Tapi kita tak bisa main dobrak rumah orang tanpa izin yang empunya. Jangan main dobrak saja,” sergah warga yang lain.
“Bagaimana kalau kita lapor ke Pak RT? Nah kalau sudah ada izin Pak RT, baru kita dobrak rumahnya,” usul seorang warga.
Para warga setuju. Mereka segera menemui Pak RT. Dan atas izin Pak RT, para warga disaksikan para perangkat RT, mereka pun mendobrak rumah Markudut. Alangkah terkejutnya warga, saat pintu rumah penulis itu didobrak, para warga tidak menemukan Markudut dalam rumahnya. Padahal warga dengan kekuatan penuh sudah menjelajahi seluruh sudut rumah. Tapi mereka tak menemukan apa yang dicari. Mereka tak menemukan Markudut. Targetnya tak ada. Rumahnya kosong melompong. Tak ada siapa-siapa.
Sejuta tanya menghantui para warga. Kemanakah Markudut? Ada apa dengan lelaki muda itu? Apakah…? Jangan-jangan…? Ah, pikiran rakyat kecil memang identik dengan hal-hal yang aneh dan diluar logika akal sehat. Sebuah cara berpikir yang sederhana tanpa harus menggunakan berbagai teori.
Dan atas persetujuan bersama warga, mereka secara resmi melaporkan hilangnya warga mereka yang bernama Markudut ke polisi.

___

Markudut mulai menuruni bukit dengan wajah yang berseri. Sebuah lagu dangdut tempo dulu bersenandung lewat siulannya menemani langkah kakinya menuruni bukit yang terjal itu. Kakinya seolah memiliki lem sehingga dengan enteng mampu berjalan menuruni bukit yang curam itu. Dan dalam tempo yang amat singkat, lelaki itu sudah berada di kaki bukit yang datar. Siapapun yang mendengarkan lagu yang didendangkannya lewat siulan mulutnya pasti akan merasakan sebuah kebahagian jiwa yang tiada terperikan dari pendendangnya.
Beberapa warga yang berpapasan dengan lelaki muda itu disapanya dengan senyuman. Sejuta senyuman dia tebarkan kepada siapa saja yang ditemuinya sepanjang perjalanan pulang. Ada rasa bahagia yang menyelimuti sekujur jiwa lelaki bertubuh kurus itu sepanjang perjalanannya pulang ke rumah. Rasa bahagia yang tak dapat dikonversialnnya dengan materi yang kini seolah menjadi gengsi hidup manusia. Ingin rasanya dia segera tiba di rumahnya dan membuka laptopnya untuk menulis. Sudah rindu sekali dia dengan laptopnya yang beberapa hari ini tak disentuh tangan khasnya. Setidaknya begitu tiba di rumah, cerpen kelimaratus itu akan selesai sebagai sebuah produk nuraninya sebagai penulis cerpen.
Begitu tiba di rumah, dia akan segera menyelesaikan produk sastranya yang membuatnya harus menghilang dan membuat para tetangganya kalang kabut dan diliputi rasa was-was yang amat mendalam atas kepergiannya tanpa pesan itu. Dan dia akan memberi judul pada cerpennya dengan judul Cerpen Kelimaratus. Ya, cerpen kelimaratus yang akan dipersembahkannya buat para warga kampungnya yang masih diliputi rasa kekhawatiran karena dirinya belum pulang ke rumah. (***)

No Response

Leave a reply "Cerpen ke-500"