Cerita di Penghujung Senja

No comment 214 views

Karya: Musda Quraitul Aini
Penulis adalah Siswa SMP Negeri 2 Tukak Sadai, binaan Rusmin Cerpenis Rakyat Pos.

Hari menjelang sore, lembayung senja mulai terlihat di ufuk barat. Matahari pun perlahan mulai meninggalkan permukaan bumi untuk kembali ke peraduannya. Suasana di desa itu sama seperti hari-hari sebelumnya, sangat ramai. Beberapa orang terlihat baru pulang dari kebun. Dengan menaiki sepeda motor butut, mereka biasa melintasi jalan utama desa untuk pulang ke rumah masing-masing, setelah seharian memanen hasil kebun. Tampak karung-karung berisikan hasil panen yang ditumpangkan di atas motor mereka. Mayoritas warga di desa ini memang mengantungkan hidupnya dengan cara bertani lada. Saat ini, tanaman itu menjadi primadona bagi warga. Hampir semua warga yang bermukim di sana mempunyai kebun yang ditanami lada.
Di sudut lain, terlihat para pemuda lagi asyik bermain bola voli. Sementara beberapa anak kecil sedang bermain sepak bola. Mereka tampak kegirangan berlarian, memperebutkan bola di kakinya. Para pemuda di desa ini memang menyukai olahraga. Hal ini terlihat dengan adanya lapangan bola voli yang dibangun berseberangan dengan lapangan bola.
Tiba-tiba, samar-samar dari arah kejauhan terdengar suara ambulan mendekat. Suara itu semakin lama kian jelas. Warga desa merasa keheranan, saling bertanya satu sama lain. Perlahan ambulan melewati lapangan voli, kemudian berhenti di salah satu rumah warga.
“Itu kan rumah Pak Wisnu,” kata seorang warga.
“Kenapa dengan beliau?” tanya warga lain.
“Ayo kita lihat!” ajak salah satu warga.

Para pemuda lalu bergegas ke rumah Pak Wisnu. Diikuti oleh beberapa orang warga yang juga merasa penasaran. Salah satu perawat turun dari ambulan, lalu menuju ke rumah Pak Wisnu dengan membawa sebuah tandu.
Pak Wisnu merupakan warga baru di desa tersebut. Baru sekitar satu tahun lalu, ia menetap di desa ini. Dan tinggal seorang diri di rumah itu. Warga sekitar mengenal sosok Wisnu sebagai seorang yang pendiam dan tertutup. Ia jarang sekali keluar dari rumahnya. Jika keluar hanya pada saat bekerja. Kesehariannya pun lebih banyak dihabiskan di dalam rumah.

Tapi seketika rumah Wisnu telah dikerumuni para warga yang penasaran, ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam rumah terlihat seorang pria berbadan kurus tinggi sedang tergeletak lemah tak berdaya di atas kasur tipis berwarna biru muda. Ia tak sadarkan diri. Matanya terbelalak, badannya terasa kejang dan berkeringat dingin. Mulutnya menganga terbuka. Di sekitar tubuh Pak Wisnu terlihat sebuah gelas bekas air mineral yang berisikan air berwarna merah. Dari mulut Wisnu, sesekali terdengar suara “eeeee…eeee…eeee” seperti orang bergumam.
Salah satu warga bertanya kepada Pak Ansori, tetangga dekat Wisnu sekaligus orang yang dituakan di desa itu. Karena tinggal seorang diri, Pak Ansori lah yang merawat Wisnu selama ia sakit bergantian dengan sang istri. Warga menanyakan penyakit yang diderita Wisnu. Pak Ansori pun tak terlalu banyak mengetahui penyakit yang diderita Wisnu. Ia hanya tahu, bahwa Wisnu sering batuk dan mengeluarkan darah. Pernah beberapa kali Pak Ansori mengantarkan Wisnu ke rumah sakit. Namun, dirinya tidak ikut masuk menemani Wisnu menemui dokter.
Beberapa orang mencoba untuk membangunkan Pak Wisnu. Ada yang memanggil namanya, memijit kakinya, dan ada pula yang berusaha memberikan minum untuknya. Namun, tak ada seorang pun yang berhasil menyadarkannya.

Suasana semakin mencekam, ketika Pak Wisnu tiba-tiba batuk lalu mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Menyaksikan peristiwa itu, sebagian warga ada yang terkejut, sebagian lagi menangis. Salah satunya Bu Diana. Rekan guru di sekolah yang sama dengan Wisnu. Terlihat beberapa rekan guru lainnya di sebelah Bu Diana.
Memang sore itu, Bu Diana bersama guru lainnya ingin menjenguk Wisnu karena sudah beberapa hari ia tak mengajar karena sakit. Tampak rasa iba yang begitu mendalam menyelimuti raut wajah mereka. Para guru tak menyangka penyakit yang diderita Wisnu akan separah ini.
Perawat kemudian masuk dengan membawa tandu. Beberapa warga mengangkat tubuh Wisnu dan meletakkannya di tandu tersebut. Perawat membawanya ke ambulan. Ambulan pun bergegas ke rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan jiwa Wisnu. Suara ambulan perlahan-lahan terdengar menjauh dari rumah Wisnu.
****

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah delapan. Namun suasana sekolah masih terasa sepi. Hanya beberapa guru yang terlihat di ruang guru. Cuaca yang gelap disertai rerintikan hujan mengawali hari itu. Matahari pun seakan malu-malu untuk menampakkan pesonanya. Dedaunan basah akibat diguyur hujan sejak subuh tadi. Air hujan masih terlihat menggenang di beberapa sudut halaman sekolah. Sebagian anak-anak berlarian di sekitar lorong kelas, jejak kakinya menempel pada lantai yang baru saja dibersihkan. Seketika saja petugas piket meradang melihat hal itu. Ada juga yang saling bersenda gurau menceritakan berbagai hal menarik, mulai dari film kesukaan, teman yang baru dikenal di media sosialnya, bahkan ada yang bercerita tentang mimpi indahnya di malam tadi. Sebagian lagi terlihat di dalam kelas mengerjakan PR yang sudah seminggu yang lalu diberikan.

Satu persatu guru mulai berdatangan. Terlihat Bu Husna membunyikan bel sekolah. “Teng… Teng… Teng,” terdengar bunyi bel tiga kali yang menandakan pelajaran akan segera dimulai. Para guru bersiap untuk memasuki ruangan kelas. Satu per satu guru perlahan-lahan meninggalkan ruang guru.
“Assalamualaikum, Bu. Ibu Diananya ada?” tanya seorang siswi kepada Bu Husna.
“Wa’alaikumussalam, Bu Diananya belum datang, mungkin sebentar lagi,” jelas Bu Husna.
“Pak Wisnu, ada?” tanyanya lagi.
“Beliau tak ada, sedang sakit,” kata Bu Husna.
“Ambil saja buku di mejanya, kemudian catat saja materi yang belum diajarkan,” imbuhnya.

Tak lama berselang terlihat Bu Diana memasuki pintu ruang guru. Dengan helm yang masih dikenakan, seperangkat jas hujan masih menempel di tubuhnya. Serta tangannya yang menggenggam satu kresek besar berisikan barang-barang titipan staf TU, persis astronot yang hendak ke bulan. Setelah meletakkan segala barang yang dibawanya, ia bergegas menuju ruangan kelas.

“Pagi, anak-anak. Hari ini Ibu akan menjelaskan materi terakhir buat ulangan besok,” kata Diana mengawali pelajaran.
“Apa Bu, ulangan?” kata seorang siswa yang duduk di pojok kelas.
“Ulangan terus ibu ini, baru seminggu yang lalu ulangan. Besok sudah ulangan lagi,” ucap siswa lain.
Siswa lain pun bersorak, “Ulangan terus, huuuuuuuuu.” Seketika itu pula ruangan kelas dipenuhi oleh kegaduhan.
“Sudah-sudah… Diam,” sergah Bu Diana. Ia kemudian mulai menjelaskan materi pelajaran.

Disela Bu Diana menjelaskan materi, salah seorang siswa mengangkat tangannya. Ia menanyakan Pak Wisnu yang sudah beberapa hari ini tak terlihat di sekolah. Bu Diana menjelaskan Pak Wisnu sedang sakit. Dan ia masih dirawat di rumah sakit daerah.
“Kalo kalian mau, usai pulang sekolah kita sama-sama menjenguk Pak Wisnu,” usul Bu Diana. Para siswa pun sepakat untuk menjenguk Pak Wisnu sepulang sekolah nanti.
****
Sudah seminggu lamanya Pak Wisnu tak sadarkan diri. Dan telah seminggu pula Bu Diana menjaganya. Setiap hari ia selalu pergi ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Wisnu. Terkadang setelah sepulang sekolah ia langsung menuju rumah sakit. Kedekatan Bu Diana dan Wisnu lah yang menyebabkan Diana melakukan semua ini. Dilihatnya tubuh Wisnu yang masih tergeletak lemas tak berdaya di atas kasur rumah sakit. Di hidungnya terpasang selang yang terhubung dengan tabung oksigen di samping tempat tidur. Di tangan kirinya terpasang selang infus.
“Entah sudah beberapa banyak botol infus yang ia habiskan selama di sini,” pikirnya dalam hati.
Anak-anak lalu meminta izin kepada Bu Diana untuk pamit pulang karena hari sudah sore. “Kami pulang ya, Bu,” kKata salah satu siswa. “Terimakasih ya, hati-hati,” jawab Bu Diana.

Bu Diana mengamati wajah Pak Wisnu. Seketika saja air matanya menetes bila teringat keceriaan yang sering dibuat Pak Wisnu ketika di sekolah. Seseorang yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang ceria, saat ini sedang tergeletak tak berdaya bertaruh nyawa memperjuangkan hidupnya di kasur rumah sakit.
Perawat memasuki ruangan, Bu Diana dengan cepat menyeka air mata yang menetes di pipinya. Sekitar tiga kali dalam sehari, perawat selalu memberikan suntikan obat untuk Pak Wisnu. Setelah memberikan suntikan, perawat lalu meninggalkan ruangan. Bu Diana lalu menghampiri Pak Wisnu yang terbaring tak berdaya. Tangannya menggenggam erat tangan Pak Wisnu.
“Cepat sembuh Wisnu, cepat kembali seperti dulu,” doanya dalam hati.

Tak terasa terdengar adzan Magrib di luar jendela. Dilihatnya arloji yang berada di tangan kanan. Jarum jam menunjukan pukul enam sore. Bu Diana bergegas melaksanakan shalat Magrib. Namun, belum sempat beranjak dari tempat duduknya, ia melihat jari tangan Wisnu bergerak kemudian sayup-sayup terdengar suara memanggil namanya. Rupanya suara itu berasal dari Wisnu. Perlahan-lahan mata Wisnu mulai terbuka. Bu Diana merasa terkejut, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ia pun bergegas untuk memanggil dokter. Namun ketika baru sampai di pintu ruangan, tubuh Wisnu mendadak kejang, digenggamnya kembali tangan Wisnu. Terasa panas di sekujur tubuhnya. Bu Diana merasa khawatir, ia berteriak memanggil dokter yang lalu memeriksa tubuh Wisnu.
Perawat mengantarkan Bu Diana ke luar kamar. Setelah beberapa lama memeriksa, tim dokter pun menemui Bu Diana. Dokter mengatakan bahwa dirinya telah mencoba semaksimal mungkin namun…. Belum sempat dokter melanjutkan perkataannya, Bu Diana lalu memasuki ruang kamar. Dipanggilnya nama Wisnu berkali-kali. Selanjutnya ia jatuh pingsan.

Sayup-sayup terdengar suara memanggil Diana, semakin lama suara itu semakin jelas. Diana terbangun dari tidurnya. Dilihatnya seorang yang menepuk nepuk tangannya. Rupanya ia Wisnu.
“Cepat bangun, mau sampai kapan kamu tidur di sana,” kata Wisnu.
Dilihatnya ke luar jendela hari sudah semakin gelap. Arloji di tangannya telah menunjukkan pukul enam sore. Suara adzan magrib berkumandang di luar sana. Diperhatikan mejanya telah berantakan dengan kertas-kertas ulangan para siswanya. Diana teringat bahwa dirinya tadi tengah mengoreksi hasil ulangan siswa, namun karena kelelahan ia tertidur di kursi kerjanya.
“Kamu tak apa-apa?” tanya Wisnu.
“Tak apa,” jawab Diana singkat.
“Mimpi buruk ya/” tanyanya lagi.
Diana hanya mengangguk. “Ahahaha… makanya kalau sore itu jangan tidur,” kata Wisnu menggoda Diana. “Ayo kita pulang, hari sudah semakin gelap. Biar aku yang mengantarkanmu,” tambahnya menawarkan.

Diana lalu bersiap-siap untuk pulang. Wisnu telah menunggunya di luar. Ketika ingin menaiki sepeda motor, karena penasaran dengan Diana yang memanggil namanya ketika tertidur tadi, Wisnu menanyakan kembali mimpi Diana. Namun Diana hanya menjawab tak apa sembari menepuk pundak Wisnu. Pipinya seketika menjadi merah, matanya berkaca-kaca ketika teringat mimpi yang dialaminya hampir seperti peristiwa beberapa bulan lalu. Tapi kini ia merasa lebih lega karena itu semua hanya mimpi dan nyatanya Wisnu telah kembali sehat. Wisnu pun lalu mengantarkan Diana pulang ke rumahnya.(**)
Sadai, 6 November 2017.

 

No Response

Leave a reply "Cerita di Penghujung Senja"