Cerita Akhir Desember

  • Whatsapp

Oleh : Abrillioga SMAN 1 TOBOALI

Aku berdiri pada sebuah jembatan yang membawaku bergamang di tengah lautan yang dicumbui lukisan senja pada sore hari kala itu. Menatap nan jauh dari hulu-hilir pelopak mata, menyaksikan paradigma insan-insan yang berlabuh layar dengan gagahnya dalam hal memenuhi kebutuhan keluarga kecil mereka tercinta, sungguh seorang ayah yang bertanggung jawab kata ku dalam hati. Namun ketika sore itu, bukan itu yang aku permasalahkan, tetapi aku sedang menanggung beban sebuah rasa yang begitu menyesakkan dada, ya rasa sering disebut oleh kebanyakan remaja seperti kami yaiturasa “ cinta “ .
Mahligai cinta memang hebat, dia adalah sebuah pikatan hati yang terjawab dengan bahasa rasa. Cinta yang lahir dari sebuah sanubari dan bersemayam kalbu dalam jiwa. Sungguh saat itu aku sedang tergila-gila pada seseorang. Seseorang yang telah begitu mudah menghancurkan kebekuan hati setelah sekian lama aku pendam dengan sendirinya. Entah mengapa mengenai dirinya aku terlalu bodoh, tetapi aku tidak peduli dengan hal itu, terserah mungkin kalian mengatakan aku bodoh namun aku memang benar-benar menyukai dirinya.
Segenap asa dan jiwaku telah kuberikan separuhnya kepada dia yang memikat hati ini. Oleh karenanya, bahkan aku sanggup melawan badai sekaligus meski itu mungkin begitu sulit untuk dilakukan. Menurutku lukisan alampun merasa iri dengan keelokan parasnya yang dimiliki sang pujaan itu. Aku tidak tau apakah aku terlalu berlebihan perihal mengenai dirinya, tetapi jujur saja fakta memang begitu. Coba saja kalian tanya pada angin senja yang berhembus nan lembut itu, apakah aku berbohong atau tidak?. Tanya pada gelombang laut dengan dimensinya yang memecahkan kesunyian yang terbelenggu dengan sarat makna. Tiada kata yang mampu menggambarkan keelokan parasnya. Sudah dulu, sampai disini prologku, nanti kalian akan tau sendiri dan berlanjut dalam penantian senja di langit Januari.
***
Kalender menunjukkan tanggal 26 Desember 2018 saat aku menyingkap lembaran kalender yang tergantung dalam kamarku. “ Yeay liburan akhir tahun bakalan segera tiba, mau rencana kemana liburan tahun ini ? “ teriakku sambil menghempaskan badan diatas kasur bermotif Manchester United warna merah hitam kesukaanku. Terkesan aneh sih menurut teman-temanku, sebab aku cewek kok suka yang bermotif khas anak laki-laki kayak gitu. Tapi ah aku tak peduli, yang penting aku menikmatinya. Saat itu sekolah telah libur berjalan 4 hari setelah pembagian rapor semester ganjil pada tanggal 23 Desember 2018 kemarin.
Aku mencoba mencari ponsel ku yang terselip dibawa kasur dan “ hap “ dapat, langsung saja aku mencari nomor temanku dan ketemu. Segera ku hubungi, dengan nada sambung telepon khas milik Keyna “ tulalit oh oh tulalit “ milik pamor lagu artis berdarah Eurasia yaitu Cinta Laura.
“ Hallo Key “ sapa ku.
“ Yah, hallo juga Nai. Ada apa? “
“ Entar sore kita ketemuan yuk di pantai batu perahu, dah lama kita gak bersantai di sana. Aku kangen senja sore hari sambil nikmati sunset“ kata ku penuh gairah.
“ Wah ide yang bagus tuh, okeh kita ketemu pukul 4 sore yah di sana “
“ Oke sip, see you ! “
“ See you too “

***
Dari kejauhan, aku sudah tampak sesosok sahabatku yang mudah sekali aku kenali dengan gaya khasnya yang selalu uptudatedi setiap waktu dan tempat dengan satu buah kamera mini kesayangannya,
“ Key, udah lama datang? Sorry aku sedikit telat. “
“ Gak ah, aku juga barusan datengnya. Palingan sekitar 10 menit yang lalu “
“ Key, liburan akhir tahun nih kita bakalan ngapain yah? Kamu ada rencana gak? “
“ Udah Nai, gampang gak usah repot segala. Kita bakar-bakar seafood aja di depan rumah loh, terus main petasan. Kan asik banget tuh. Lalu besoknya tanggal 1 Januari kita berlibur ke pantai atau tempat wisata lainnya. Ngapain juga harus jauh-jauh keluar kota sedangkan tempat wisata di daerah kita Bangka Selatan pun boleh diandalkan sebagai tempat reakreasi. “ celoteh Key dengan gaya khasnya sambil ngedipin mata sebelah.
“ Hmmmm? Iyah yah. Kau benar key “ kata ku sambil minum air kelapa segar yang sudah di pesan oleh Key sebelum aku datang tadi.
“ Key, aku mau curhat sesuatu dong “
“ Iyah apa? “ tanpa melirik ke arahku dengan satu buah kamera di tangannya dengan memperlihatkan hasil jepretan fotonya sendiri dengannya.
“ Key, aku tuh sedang mengagumi seseorang. Tapi dia gak tau kalo aku mengaguminya sebab aku malu. Gak mungkin kan aku bilang ke cowok itu kalo aku mengaguminya, duh ku rasa gak etis banget apalagi aku cewek . “
‘ Hah ? so what?. Serius loh Nai, siapa- siapa. Kok kamu gak pernah cerita ke aku ?“ Dengan sesegera meletakkan kamera mininya yang dari tadi terus dipeganginya. Lepas juga tuh kamera akhirnya pikirku dengan tersenyum geli.
“ Iyah Key, dah lama banget aku menyukainya. Sudah hampir 4 Tahunan lebih semenjak SMP sampai SMA sekarang “
“ Busyet, tahan banget loh ! oh ini ternyata alasan kamu jomblo sepanjang masa, karena dia toh. Emang siapa namanya ?
“ Namanya Ravel Key, dia sudah tamat SMA tahun kemarin. Dia tuh seorang pembalap motor yang biasa latihan di laut Nek Aji tuh “
“ Waduh, kenapa gak pernah cerita ? “
Itulah yang aku suka dari sahabatku ini, dia selalu merespon setiap kali aku curhat. Mungkin responnya berlebihan, tapi aku menyukainya. Serasa seperti dihargai menurutku ketika kita curhat dengan seseorang.
“ Aku malu Key. Entahlah saat ini aku ingin mencoba melupakannya. Mencintai sepihak tak lah menyenangkan. Mengenai dirinya aku terlalu bodoh “ kata ku sambil menatap jauh ke lautan lepas dengan dicumbui gemerlapnya mentari sore yang indah dengan diiringi hembusan angin laut yang seakan turut mendengarkan kisah cinta ku yang ku pendam selama ini.
“ Dicoba dulu Nai, siapa tau berhasil “
“ Ah, gak mungkin Key. Sudahlah lagian juga dia punya pacar. Mungkin sih, gak tau bener gak “.
Aku langsung berdiri dari kursi dan segera menepi ke pesisir pantai dengan menyaksikan senja yang indah itu, Nai mengikuti ku dengan wajahnya yang masih bingung dengan penuh tanda tanya.

***
Malam di Bulan Desember
Sudahkah kau sadari?
Membangunkanmmu dalam pekatnya mimpi
Hingga dewi malam yang sedang bersolekpun
Tak kau acuhkan sama sekali!
Lihatlah !
Malam yang begitu pekat
Dengan awan kelabu yang meronta-ronta
Dinginnya malam yang menusuk kedalam kalbu
Dan bersemayam dalam hati yang rapuh
Memberi isyarat jika aku harus pergi dan tak usah kembali ( dia )
Ingatlah !
Malam yang pekat di bulan Desember adalah kedustaan bagi mereka yang pura-pura tertawa saat dipeluk rasa sedih dalam lara~
26 Desember 2018
Saat aku merasa ketika dinding-dinding kamarku mulai kehabisan topik yang selalu membicarakan tentang “ Dia “, di situlah aku selalu meluapkan segala emosi perasaan ke dalam bentuk sebuah syair. Banyak sekali syair-syair atau puisi yang aku buat meski selalu tentang dirinya. Entahlah malam ini aku merasa kembali terjebak dalam pikiranku sendiri. Aku tak tau harus apa yang aku lakukan. Ingin segera aku tertidur dan berkelana dalam khayalan mimpi, mungkin aku hanya bisa merasa bersamanya ketika aku sedang bermimpi. Meski terkadang raja siang pun memberikan aku kesempatan bermimpi mengenai dirinya tetapi tak sehebat raja malam. Itulah aku yang terlalu dramatis dan melankolis.

***
Hari berlalu begitu cepatnya setelah aku berani mengatakan kepada senja dan sahabatku Keyna mengenai perasaanku yang selama ini tertutup rapat dan tak pernah seorang pun yang mengetahuinya. Sekarang dunia tau dan sedang menjadi saksi serta drama dalam panggungku, mungkin panggung sandiwara cinta.
31 Desember 2018
Yaps tepat sekali, hari ini adalah hari akhir di tahun 2018. Orang-orang pada sibuk dengan liburan mereka. Teman-teman sekolahku sudah banyak yang pergi berlibur. Seperti janji aku dan Keyna tempo hari dulu mau bikin acara manggang-manggang. Kami sudah mempersiapkan segalanya di rumahku. Keyna pagi-pagi juga sudah ada di rumahku.
“ Key entar malem, habis kita manggang-manggang. Kita ke pantai Nek Aji yuk. Ada acara key. Aku mau lihat pas malam pergantian tahun dengan acara penerbangan lampion. Kayaknya seru deh bisa lihat lampion terbang dimana-mana menghiasi lautan malam di akhir 2018 itu. “ kata ku
“ Wow, yuks ! ide yang bagus “
“ Sip. Eh petasannya dah kamu siapin belum key ? “
“ Udah, semuanya beres. Tinggal nunggu malemnya aja. Lalu kita bakalan ngerayain malam tahun baru ini dengan harapan baru tentunya “ kata Keyna dengan semangatnya
“ Asyikkkkkkkkkk…” teriakku
Yah begitulah aku dan Keyna, meskipun hanya kami berdua dalam perayaan nanti malam, tetapi itu tidak menjadi masalah. Sebab ketika 1000 temanmu berusaha menjatuhkanmu maka akan hanya ada 1 orang sahabat yang berusaha kembali membangkitkanmu. Itulah yang aku pikirkan saat itu. Sahabat adalah segalanya, tetapi bukan berarti kita mau bermusuhan dengan teman-teman yang lain. Itu hanya sebuah kata-kata saja.
Tetapi ketika malam itu, Alam ternyata tidak berpihak kepada kami atau mungkin kepada siapapun yang sudah bersusah payah menyiapkan segala persiapan untuk perayaan malam tahun baru, sebab dikarenakan hujan yang datang tanpa di undang. Yah itulah kuasa Tuhan kita, tidak bisa menggugahnya. ,
“ Yah gagal dong rencana manggang-manggang kita Key, hujan nih. “ kataku tak semangat
“ Aduh iya yah, gimana dong? Kita mau ngapain malem ini? Gak asik kalo cuma di rumah nonton TV “ gerugutu Key
“ Gimana kalo kita nyantai aja di kafe ? kan hujannya gak lebat lagi cuma gerimis doang.” Kata ku yang berusaha kembali mencairkan suasana supaya sahabatku ini kembali bersemangat.
“ Boleh-boleh ayo! Daripada di rumah gini bosen “
Lalu kami pergi ke kafe dengan menggunakan motor milik Key, sembari menyusuri jalan bertol itu, menjamah setiap barisan bangunan, barangkali ada memori yang terekam kala aku bisa melihatnya dari jauh meski tak dalam dekapannya. Itulah dialog yang ada dalam pikiranku, tak mau Key tau apa yang sedang aku pikirkan. Ah selalu tentang dirinya rutukku dalam hati. Sekarang dimana dia berada? Apakah dia pergi berlibur seperti kebanyakan orang keluar kota? Atau hanya dirumah berkumpul bersama dengan keluarganya. Duh kenapa aku jadi mikiran dia. Oh shit!!!!.
Sesampainya di sebuah kafe, aku dan Key segera mencari tempat duduk yang kosong.
“ Cukup ramai Key “ kata ku
“ Iyah Nai. Asik banyak cowok lagi hihihi “ centil Keyna kepada ku.
“ Ih… apaan sih Key. Malu tau, jaga image !“ kata ku kepada Keyna. Soalnya sahabatku satu ini orangnya suka heboh dan centil banget apalagi ada cowok.
Tetapi tak bisa dipungkiri, aku pun juga merasa sedikit centil sih, mata ku dengan liarnya berusaha untuk mencari sesosok pujaan yang selama ini aku kagumi. Dan ternyata dia tepat ada di depan mataku, lebih tepatnya lagi di belakang Keyna sahabatku. Ya ampun, entah saat itu juga seketika waktu seakan berhenti berputar. Serasa dunia bungkam seribu bahasa dan enggan berkata. Dunia yang tadinya menjadi panggung sandiwara cinta sekarang berubah menjadi panggung yang penuh aksi yang mengerikan. Mendadak aku keringat dingin, bisa dilihat aku mulai kehilangan kendali, aku benar-benar merasa gugup. Jantungku berdegup dengan kencang dan tak berirama. Mata ku dan matanya saling berpandangan, aku bisa melihat bola matanya yang teduh, dengan rahang wajahnya yang keras. Memang menampakkan sesosok wajah yang nan rupawan. Dengan segera aku menepis dan mengalihkan pandangan. Jangan sampai dia merasa aneh mengapa aku menatap dirinya dengan mata yang melotot. Tanpa ku sadari 5-6 detik ketika pandangan kami tadi barusan bertemu, ternyata Keyna sahabatku sudah berteriak sambil menengadah tangannya ke wajah ku.
“ Hei, Nai kamu kenapa. Kok bengong gitu. Dari tadi aku tanya mau pesen apa? Lagi ngeliatin siapa sih? Sambil menoleh ke belakang? “
Memang Keyna tidak tau orang yang ku kagumi selama ini, dia hanya tau namanya saja ketika tempo hari aku mengatakannya. Aku pun enggan mengatakannya. Bisa-bisa saja nanti Keyna bertingkah gelagapan dengan gayanya yang sok centil kepada tuh cowok. Aku tau Keyna hanya mau membantuku untuk bisa berkenalan dengan dia. Tetapi aku memilih diam dan tak mau mengatakannya.
“ Oh, enggak Key. Enggak lihat apa-apa. Cuma nikmatin udara malem aja di akhir tahun nih. Kayaknya seru banget deh orang bisa pergi liburan keluar kota yah, apalagi bersama keluarga lebih-lebih bersama pacar hahaha “ canda ku kepada Key supaya dia tidak curiga. Sesekali aku masih mencuri perhatian kepada Ravel.
“ Oh, udahlah. Moga-moga besok gak hujan, jadi kita bisa ke pantai Tanjung Kerasak. Kita bisa happy-happydi sana. “
“ Aamiin “ kataku dengan tetap melihat sosok Ravel
“ Jadi kamu mau pesen apa? “
“ Sama aja dengan kamu Key “
“ Oke “
Mbak !!!segera pelayan datang dan mengambil catatan yang kami pesan.
Kami pun berbincang-bincang,aku pun selalu melirik ke arah Ravel dan Ravel pun sebaliknya, tetapi tanpa sepengetahuan Keyna. Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Memang sih khusus anak sekolah gak wajar ada di luar rumah apalagi sudah larut malam. Akan tetapi kami sudah dapat izin dari orangtua kami tuk merayakan malam pergantian tahun, dan juga orang masih ramai di jalanan.
“ Key, cabut yuk ! kita lihat pesta lampion di pantai Nek Aji. Bentar lagi mau pergantian tahun “ ajakku pada Keyna
Ternyata Ravel beserta dengan kawan-kawannya juga mau pada pergi juga dari kafe. Duh kenapa mesti barengan gitu sih ?pikirku
“ Yuk ! aku tunggu di parkiran “ kata Keyna
Aku pergi ke kasir tuk membayar pesanan kami, setelah membayar aku langsung berbalik ke belakang dan “ bruk “ aku tertabrak dengan dengan dada seorang laki-laki yang bidang di hadapanku dan membuat dompet ku terjatuh. Sesegera aku mengambil dompetku dan melihat siapa gerangan orang yang ku tabrak barusan. Astaga aku terkejut, darahku mengalir deras. Serasa ubun-ubun dalam otakku ingin meledak, jantungku kembali berdegup lebih kencang dua kalinya setelah pandangan kami bertemu tadi. Tiba-tiba saja tungkai ku melemah dan hampir aku mau merosot ke lantai. Namun aku tetap bertahan dengan keringat yang mulai mengalir dari pelipis ku.
“ Ups, sorry. Aku gak lihat. Tadi mau buru-buru “ kataku
“ Gak apa-apa kok, kau baik-baik saja kan? “ kata Ravel kepadaku
Sungguh aku tak percaya, apakah aku bermimpi atau tidak malam itu. Ingin saja aku berlari dan berteriak kepada dunia dan dewi malam yang sedang bersolek dibalik gumpalan awan hitam itu bahwa aku sangat bahagia dan sungguh tak percaya apa yang barusan terjadi. Namun aku tidak melakukakannya.
“ Iyah , aku baik-baik aja “ jawabku dengan nada yang kubuat berusaha agar tetap tenang.
“ Kenalin, gue Ravel. Nama kamu siapa ? “
“ Aku Naira “ jawabku
Baiklah aku harus pergi, jangan sampai Ravel melihat keanehan yang terjadi padaku. Dan aku mengucapkan permisi dan Ravel tetap diam bergeming dengan tetap melihat kepadaku.
“Key ayo !” kataku
“ ayo ! “
Lalu kami pergi ke pantai Nek Aji dan menyaksikan panorama penerbangan lampion di penghujung malam tahun 2018. Dan akhirnya tahun baru 2019 telah tiba. Tentunya dengan harapan baru dan semangat baru. Tentu saja kejadian malam di akhir tahun 2018 itu tetap membekas dalam ingatanku dan tak akan pernah aku lupakan. Itu akan menjadi malam yang bersejarah bagiku.

***
1 Januari 2019
Seperti yang sudah direncanakan aku dan Keyna. Kami pergi pergi berlibur ke pantai Tanjung kerasak. Seharian penuh kami bermain bersama gelombang laut dan keindahan panorama alamnya. Hingga penantian ku akan senja di awal tahun 2019 pun tiba. Dengan kembali mengungkapkan sebuah puisi jikalau aku sedang teringat mengenai dirinya
Kemilau Senja di Langit Januari
Ada sesuatu yang rasanya mulai hilang
Entah mengapa?
Angin yang berhembus membelai lembut seakan ingin mengatakan sesuatu
Dan semburat cahaya di balik gulungan awan itu terukir cerminan hati dalam biasnya
Tampak dalam pelupuk mata nan jauh
Berdiri sang pujangga yang berdiri di tepi pantai
Dia pun berteriak dengan lantang supaya dunia tau
Jikalau dia sedang menunggu kedatangan seseorang yang mungkin tak kunjung datang
Dalam penantian kemilau senja di langit Januari~
1 Januari 2019

Related posts