by

Cerdaskan Intelektual, Moral, dan Spiritual Anak Bangsa

Oleh: Nurjanah
Mahasiswi Jurusan Tarbiyah, Prodi PAI IAIN SAS BABEL

Nurjanah

Perkembangan zaman memang membius para anak bangsa. Indonesia menjadi salah satu korban kecerdasan teknologi, terutama remaja. Dimana pada era globalisasi yang terus berkembang. Baik dari segi kemajuan elektronik, budaya, bahasa, serta model gaya hidup yang meraja lela, membuat para remaja semakin bebas untuk bereksprolasi. Misalnya dari kemajuan elektronik, anak-anak sudah disuguhkan oleh gadget, yang membuat mereka tak kenal waktu dan asik bermain dengan gadget tersebut. Hal ini dapat menyebabkan para anak kehilangan masa kecil bermain bersama teman sebaya mereka dan berinteraksi dengan teman-temannya. Bukan hanya kehilangan masa bermain yang seharusnya mereka rasakan pada saat itu, kesehatan pun akan terganggu diakibatkan oleh sinar dari layar gadget itu sendiri. Tidak hanya anak-anak yang terhipnotis oleh alat-alat tersebut, tapi kaum muda dan manula pun juga merasakan atau mengalami akan asiknya gadget pada saat ini. Kalau disuruh memilih pasti lebih memilih kelupa dompet daripada kelupa gadget. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perkembangan elektronik di era globalisasi sangat signifikan.
Adapun dari segi budaya, bahasa serta model gaya hidup yang diterapkan pada saat ini, sangat tidak sesuai. Tidak sedikit anak zaman sekarang yang meniru gaya budaya barat yang tak sepatutnya mereka tiru. Dari cara berpakaian yang mini serta gaya bahasanya. Sikap dan tingkah laku yang mereka lakukan terkadang sudah di luar batas, rasa hormat dan santun terhadap orang tua tidak terlalu diperdulikan lagi. Padahal, sebagai seorang yang lebih muda sudah sepatutnya menghormati kepada yang lebih tua. Etitud anak zaman sekarang memang sangat minim, berkata kasar dan melawan kepada orang tua bukanlah hal yang tak asing lagi dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang diberitakan seorang anak membunuh orang tua kandungnya sendiri. Kejadian tersebut terjadi karena adanya beberapa keinginan yang tidak terpenuhi oleh orang tua, sehingga anak sendiri nekad membunuh orang tuanya sendiri dan terlalu mengikuti hawa nafsu yang berlebihan.
Keadaan ekonomi yang tidak stabil juga menjadi pemicu terjadinya pembunuhan, pencurian, kesejahteraan, kesenjangan sosial dan lain sebagainya. Pengangguran yang banyak serta lowongan kerja yang sempit membuat mereka berpikir sempit pula. Mengambil jalan keluar yang salah dengan cara mencuri, maupun jual diri. Hal ini dapat menyebabkan kesejahteraan hidup semakin melemah. Pola pikir yang rendah membuat mereka melakukan hal yang tak layak mereka lakukan.
Penulis berharap kita semua dapat perpikir kritis terhadap apa yang telah menimpa anak bangsa pada saat ini. Sementara itu, pendidikan yang seharusnya mereka rasakan di sekolah sangat penting, sebab merekalah aset bangsa Indonesia. Para pemuda yang produktif, inovatif, dan kreatif merupakan anak bangsa yang diharapkan untuk memajukan Indonesia, yang tidak terbius oleh perkembangan zaman yang berdampak negatif. Didikan moral yang diajarkan di sekolah maupun di rumah harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya berada pada saat bersama teman sebaya saja, tetapi orang yang lebih tua juga. Pendidkan yang diterima anak bangsa tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan intektual saja, tetapi juga diharapkan cerdas secara emosional dan spiritual. Agar tidak timpang ketiganya harus berjalan beriringan. Percuma kalau hanya cerdas secara intelektual saja, tetapi akhlaknya tidak baik. Untuk itu, semuanya harus adil.
Adapaun orang yang akan menjadi peran utama dari hal ini adalah yang pertama orang tua dan yang kedua guru. Orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Harus mampu menanamkan nilai-nilai positif kepada mereka, agar anak tidak lepas kendali, serta memilih memilah kepada siapa anak bergaul agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak diiginkan. Seperti menerapkan nilai spiritual pada anak, bahwa setiap gerak-gerik mereka ada yang mengawasi yaitu Allah SWT. Agar anak dapat jujur terutama kepada dirinya sendiri dan orang lain. Kedua yaitu guru, merupakan orang tua kedua bagi anak ketika di sekolah. Tugas guru bukan hanya mengajar atau mentransfer ilmu pengetahuan saja, tetapi juga mendidik, menegur, dan mengayomi anak didik menjadi pribadi yang baik dan santun.
Generasi muda tidak boleh terpengaruh oleh perkembangan zaman yang akan merusak akhlak serta moralnya, gunakanlah kemajuan teknologi dengan sebaik mungkin untuk hal-hal yang positif. Tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual saja, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai spiritual dan moral agar dapat menjadi penerus bangsa yang diharapkan, baik cakap dalam akademik maupun nonakademik agar menjadi masyarakat yang cerdas bagi bangsa dan agama. Untuk itu, bagi para orang tua dan guru, harus mampu membatasi pemakaian gadget pada anak, dan memberikan penanaman akhlak yang baik dari sejak dini agar anak mampu membiasakan perbuatan baik dan santun.(***).

Comment

BERITA TERBARU