Cerdas Mengelola Pangan

  • Whatsapp

Oleh: IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kecukupan konsumsi pangan. Namun di berbagai media diberitakan bahwa Indonesia yang dikenal sejak dulu sebagai salah satu negara agraris, tetapi masih berkutat mengatasi masalah dasar yaitu kecukupan pangan. Sementara hampir seluruh negara di belahan dunia lainnya telah berpikir bagaimana memenuhi target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), bahkan saling bersinergi dan berkompetisi untuk beradaptasi dengan instrumen ekonomi baru melalui revolusi industri 4.0.

Sejak era reformasi, permasalahan pangan ini selalu menjadi arus utama dalam setiap agenda pembangunan pada era pemerintahan manapun. Jika persoalan bangsa yang mendasar dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan belum juga terselesaikan, maka sulit untuk bicara lebih jauh tentang agenda strategis pembangunan lainnya, misalkan perbaikan kualitas layanan publik di aspek-aspek penting kehidupan bernegara. Karena, ketersediaan pangan yang berkualitas merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas dari sumber daya manusia (SDM). Sayangnya, di berbagai media telah kita dengar, masih begitu banyak kasus anak yang kekurangan gizi, sampai dengan permasalahan krusial pertumbuhan anak yang menjadi materi debat Pilpres beberapa waktu lalu yaitu kasus stunting (tumbuh kerdil pada anak).

Dikutip dari data statistik yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI, bahwa Prevalensi stunting bayi berusia di bawah lima tahun (balita) Indonesia pada 2015 sebesar 36,4%. Artinya, sekitar sepertiga atau lebih kurang hampir 9 juta balita mengalami masalah gizi, dimana tinggi badannya di bawah standar sesuai usianya. Stunting tersebut berada di atas ambang yang ditetapkan WHO yaitu paling besar 20%. Salah satu faktor yang menyebabkan permasalahan pangan yang belum juga selesai menerpa bangsa ini adalah instabilitas harga pangan yang berkontribusi secara nyata dan signifikan terhadap kemampuan masyarakat dalam mengupayakan akses pangan yang berkualitas.

Ironisnya, variabel harga pangan ini justru berkontribusi besar terhadap inflasi di berbagai daerah dan secara nasional. Dikutip dari halaman jpp.go.id, bahwa Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI menyampaikan, inflasi pada Januari 2019 disumbang oleh kelompok bahan makanan sebesar 0,92% yang memberi andil terhadap inflasi sebesar 0,18%. Adapun beberapa komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi diantaranya ikan segar, beras, dan sayur-sayuran. Selanjutnya yang menarik untuk dicermati dari rilis data statistik yang diterbitkan BPS adalah sekitar 70 persen penghasilan dari 40 persen masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah habis digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan saja. Ini berarti setiap terjadi lonjakan dan gejolak harga pangan (volatile food), maka hal ini akan sangat mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan 40 persen terbawah tadi. Tidak hanya mempengaruhi daya beli masyarakat secara umum, namun juga daya beli petani sebagai produsen pangan, yang juga berstatus sebagai konsumen.

Dilema memang, upaya menurunkan harga pangan, jika tidak dilakukan dengan hati-hati, di sisi lain akan memaksa petani untuk menjual murah hasil panennya yang kadang jauh di bawah biaya produksi. Jika insentif ekonomi di bidang pertanian semakin kecil, maka produktivitas sektor pertanian juga berpotensi menurun. Menyelami uraian di atas, maka formulasi stabilitas harga pangan sebenarnya cukup jelas, yaitu keseimbangan antara penawaran (ketersediaan pangan) dan permintaan (kebutuhan pangan). Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dicukupi oleh setiap individu, sehingga sifat permintaan terhadap komoditas ini bisa dipastikan inelastis (jumlah permintaan tidak berpengaruh signifikan terhadap harga), karena setiap manusia dimanapun harus mencukupi kebutuhan konsumsi pangannya. Ini berarti, jumlah permintaan dapat dikalkulasikan dengan tepat sesuai dengan pertambahan atau pengurangan jumlah penduduk di suatu daerah atau negara. Secara sederhana, bisa kita katakan faktor yang menentukan keberhasilan upaya menstabilkan harga pangan sangat jelas, yaitu ketersediaan pasokan (stock) dan upaya diversifikasi pangan.

Jika kita telaah lebih lanjut upaya menstabilkan harga pangan, maka bisa kita lihat dari proses awal yaitu produksi. Artinya, kebijakan untuk meningkatkan produktivitas pangan merupakan salah satu cara utama yang harus ditempuh, sebelum buru-buru memutuskan membuka keran impor untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan. Rumus standar untuk meningkatkan produktivitas juga secara umum telah sangat dipahami oleh publik, khususnya pengambil kebijakan, yaitu bagaimana mengefisiensikan faktor input (biaya produksi) sekaligus meningkatkan insentif ekonomi di bidang pertanian melalui intervensi dari harga output komoditas pangan tersebut.

Catatan pembangunan di Indonesia ini, memperlihatkan bahwa telah terjadi secara periodik alih fungsi lahan pertanian ke pusat-pusat aktivitas ekonomi dan sosial baru, misalnya alih fungsi menjadi lahan pemukiman, perkantoran, pabrik dan industri, serta pusat perbelanjaan yang mengakibatkan munculnya situasi tidak terelakkan lagi yaitu lahan pertanian menjadi semakin sempit. Meskipun jika kita tilik catatan sejarah, bangsa ini sebenarnya pernah mencapai swasembada pangan, sehingga upaya untuk merebut kembali kejayaan masa lalu di sektor pertanian dengan keterbatasan lahan ini bisa kita upayakan melalui efektivitas dan efisiensi dalam siklus produksi dan distribusi hasil pertanian, yaitu misalnya melaui penyaluran subsidi benih dan pupuk secara tepat sasaran, penyuluh pertanian yang agresif, pemenuhan infrastruktur irigasi yang memadai, sampai dengan rekayasa kelembagaan melalui koperasi dan BUMD atau BUMDes, sehingga swasembada pangan bisa diraih kembali.

Kita berharap ke depan kita lebih cerdas lagi mengelola permasalahan kecukupan pangan dan memastikan stabilitas harga pangan bisa segera diselesaikan, sehingga tujuan bernegara untuk menciptakan masyarakat yang makmur dan sejahtera bisa tercapai. Aamiiin.(***).

Related posts