Calon Petani Resah, MoU Kebun Plasma Kelapa Sawit PT SWP Dipertanyakan

  • Whatsapp
Kebun milik masyarakat Desa Buding di Kabupaten Belitung Timur yang sudah ditanami kelapa sawit, dan membuat calon petani plasma resah karena belum ada MoU dengan pihak perusahaan. (Foto: Bastiar Riyanto)

RAKYATPOS.COM, KELAPA KAMPIT – Pembukaan lahan untuk perkebunan plasma kelapa sawit PT. Stalindo Wahana Perkasa (PT. SWP) di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung menuai pertanyaan di kalangan pemilik lahan.

Pasalnya, lahan seluas 45,7 ha atas nama 25 orang warga desa sudah ditanami kelapa sawit meski belum ada MoU dengan calon petani plasma. Mirisnya, sebagian lahan adalah rawa yang berfungsi menampung air.

Seorang warga desa pemilik lahan yang minta namanya tidak ditulis mengaku, belum mau menandatangani dokumen tanah untuk sertifikat terkait hal ini. Dia beralasan antara perusahaan dengan calon petani plasma pun belum ada MoU.

Lahan itu, kata dia adalah eks kebun masyarakat yang diterbitkan Surat Keterangan Tanah (SKT) hingga sertifikat tanah yang pembuatannya diurus oleh perusahaan PT. SWP.

Baca Lainnya

“Semestinya dibuat kesepakatan terlebih dahulu dengan calon petani sebelum pembukaan lahan” kata dia, Senin (22/06/2020).

Salah seorang calon petani plasma yang sekaligus adalah pemilik lahan tersebut mengkhawatirkan, nantinya dalam kesepakatan antara petani plasma dengan pihak perusahaan ternyata ada hal-hal yang merugikan pihak petani plasma.

“Bagaimana nantinya kalau calon petani plasma dengan perusahaan ternyata tidak sepakat, sementara lahan sudah ditanami?” tanya dia.

Seorang pengawas lapangan pihak perusahaan, Yulizar menuturkan, memang lahan yang dibuka untuk kebun plasma kelapa sawit adalah eks kebun warga dan saat ini masih menunggu sertifikat tanah yang belum terbit.

“Semua biaya pembuatan sertifikat ditanggung perusahaan dan sertifikat akan dipegang perusahaan, dengan sistem bagi hasil setelah dipotong biaya pengeluaran,” terang Yulizar.

Setelah selesai penanaman oleh perusahaan, pengelolaannya akan diserahkan kepada koperasi yang bermitra dengan perusahaan.

Diketahui, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Desa Buding ini dikerjakan oleh Koperasi Subur Makmur. Selanjutnya setelah penanaman selesai perkebunan akan diambil alih oleh Koperasi Jasa Usaha Mandiri yang bermitra dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Parit Sembada yang merupakan salah satu anggota grup PT. SWP.

Sementara itu, Sekretaris Desa Buding, Edi Purlita tak menyangkal adanya pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di desanya. Namun, pihak Pemdes dikatakan tidak terlibat terkait dengan pembukaan lahan calon kebun plasma kelapa sawit PT. SWP. 

Menurutnya, masyarakat langsung yang berurusan dengan perusahaan. Pemdes Buding hanya menerbitkan SKT.

“Pemdes sudah terbitkan 45,7 hektar SKT atas nama warga,” sebut Edi. 

Ketika dilakukan konfirmasi, Senin, (22/06/2020), Senior Manager Humas PT. SWP, Ir. Bambang Suharsono mengatakan lahan di Desa Buding adalah baru calon kebun plasma PT SWP. Lahan itu diakui milik masyarakat yang ingin bermitra dengan perusahaan. 

Versinya, lahan itu tidak dibutuhkan surat keterangan calon petani calon lahan (CPCL) karena lahan tersebut sudah ada pemiliknya.

“Kita membangun plasma dari masyarakat,” ungkapnya.

Terkait suntikan dana dari perusahaan untuk pembukaan lahan dan biaya penerbitan sertifikat tanah seperti disebutkan pengawas lapangan, Bambang membantahnya.

“Biaya pembukaan lahan dan pengurusan sertifikat berasal dari pemilik lahan masing-masing,” tukasnya.

Bambang menambahkan, untuk bermitra dengan perusahaan PT. SWP dibutuhkan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya lahan berada di luar kawasan dan menggunakan bibit unggul.

“Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, dibuat draf perjanjian antara perusahaan dengan koperasi yang mewadahi masyarakat pemilik lahan dan petani. Pemda jadi wasitnya,” papar Bambang yang menyebutkan sejak tahun 2008 pihaknya sudah memiliki 15 ribu hektar kebun plasma. Jumlah ini melebihi lahan inti ber-HGU yang dimiliki PT. SWP seluas 13 ribu hektar.  (yan

Related posts