Caleg Millenial, Narasi atau Solusi untuk Bangka Belitung?

  • Whatsapp

Oleh: Rizky Redha, S.P
Ketua Bidang kebijakan Publik KAMMI daerah Bangka Belitung

Pesta demokrasi, sebutan untuk pesta rakyat bernama Pemilu yang paling besar di negeri ini. Diselenggarakan 5 tahun sekali dalam pemilihan manusia – manusia agung yang menjadi perwakilan masyarakat. Entah semeriah apa masyarakat merayakannya, yang jelas tanda pesta ini akan dimulai dengan bertaburnya wajah – wajah dipinggir jalan untuk “mengemis dukungan” kepada mata yang melihat.

Berbagai macam cara dilakukan untuk meletakkan spanduk mereka agar pose wajah, gaya rambut, senyuman bisa menyentuh siapapun yang melihatnya. Tidak heran jika mereka rela merogoh saku begitu dalam sedalam yang mereka punya agar terpilih menjadi wakil rakyat di kursi rakyat tersebut. Mulai dari gang – gang kecil, pinggiran jalan, rumah – rumah, bahkan pepohonan dan tanah pemerintah pun menjadi tempat sasaran untuk menancapkan spanduk dan balehonya.

Wajah-wajah baru bermunculan, bahkan tidak pernah kita kenal siapa dia. Wajah lama pun juga tidak mau kalah dalam beradu pose sambil berkata dengan wajah penuh sombongnya, “saya adalah orang lama dan pasti menang”. Kesombongan yang terkadang tidak seharusnya ada didalam wajah seorang pemimpin dan wakil rakyat, karena mereka dipilih oleh rakyat.

Tetapi, hampir lima tahun berjalan mereka yang duduk pun begitu banyak persoalan dan masalah, mulai dari pemenuhan janji yang tidak kunjung terealisasi, menjadi tersangka korupsi, hingga menjadi buronan istri sendiri lantaran bermain dengan api perselingkuhan. Entah sejauh mana publik merasakan kinerja mereka, yang jelas mereka yang menjadi wakil rakyat sudah seharusnya mengutamakan kepentingan rakyat.

Begitu juga dengan wakil rakyat yang ada di seluruh lapisan daerah Bangka Belitung, baik anggota dewan tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Hampir lima tahun kebelakang ini, menjadi sorotan dan bahkan cacian publik karena masih banyak masalah Bangka Belitung yang tidak kunjung rampung. Antara lain, Hutan Tanam Industri (HTI) yang sampai saat ini masih menjadi polemik dan juga keluh kesah masyarakat. Harga komoditas perkebunan seperti lada, sawit dan karet yang tidak kunjung stabil dan bahkan jatuh. Kemudian infrastruktur pendidikan baik sarana maupaun prasarana, jalan hingga tempat wisata yang masih menjadi carut – marut dikarenakan telah banyak menjadi milik pribadi. Ditambah lagi masalah penataan wilayah akan daerah tambang, wisata dan pertanian yang masih menjadi polemik membuat gambaran belum suksesnya lima tahun kebelakang masa jabatan mereka.

Berbagai macam maslah tersebut bahkan hingga saat ini hanya menjadi tulisan dan laporan pertanggung jawaban saja tanpa diselesaikan dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat – singkatnya. Bahkan menjadi bahan kampanye selanjutnya yang ingin digaungkan kembali kepada masyarakat seakan seperti pahlawan yang siap memperjuangkannya.

Caleg millennial
Menjadi seorang wakil rakyat memang tidaklah mudah. Seseorang harus mempunyai team yang kuat untuk mempertahankan argument dan idenya agar aspirasi dari rakyat bisa tersampaikan dan dilaksanakan dengan segera. Namun hal tersebut akan jadi sia – sia, karena tidak ada dukungannya dari anggota yang lain, tidak disetujui dan disepakati dengan usulan tersebut. Lantas bagaimana dengan keberadaan caleg – caleg muda yang hadir di pemilu tahun ini?

Fenomena caleg millennial ini, menjadi bahan jualan baru partai – partai politik yang hadir sebagai peserta pada pemilu kali ini. Kehadiran anak – anak muda yang mengatasnamakan kaum millennial ini bahkan masih dipertanyakan kualitas dan kuantitasnya. Jika disandingkan dengan beberapa pernyataan di atas, begitu banyak polemik yang terjadi, maka pantaslah pertanyaan apakah mampu caleg millennial menjawab kebutuhan masyarakat tersebut.

Kita ketahui, caleg millennial merupakan anak – anak muda yang idealis namun memiliki kematangan finansial yang masih sangat diragukan. Tidak hanya itu, caleg millennial bahkan dianggap tidak mampu mengatasi permasalahan dan carut – marut yang dirasakan masyarakat dikarenakan kapasitas mereka yang masih minim pengalaman.

Kehadiran caleg millennial ini, entah menjadi salah satu loncatan besar dalam sejarah demokrasi negeri ini atau bahkan sebuah kemunduran. Sampai sekarang ini pun caleg millennial belum terlihat sama sekali apa yang akan mereka bawa dan tawarkan kepada masyarakat. Semua nampaknya cenderung hanya ikut – ikutan dan bahkan dipandang tidak serius dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Kehadiran caleg millennial yang bahkan umurnya masih tergolong muda seharusnya mampu memberikan angin optimisme dalam membangun sebuah daerah. Anak – anak muda yang masih fresh ingatan dan fikirannya merupakan asset yang sangat berharga bangsa ini, di tengah bonus demografi yang melanda negeri kita. Tetapi, jika pemuda – pemuda ini tidak memiliki persiapan yang matang serta strategi dan juga ide yang bagus maka hasilnya sudah bisa diprediksi, mereka akan hanya menjadi narasi saja bukan sebuah solusi.

Kematangan dalam berfikir dan juga pengalaman dalam mengatasi masalah seharusnya wajib dimiliki oleh caleg – caleg milllenial ini. Sehingga mereka yang hadir mewarnai pesta demokrasi pada tahun 2019 ini, bukan menjadi pilihan, karena pecukupan kuota partai saja. Tetapi, mereka yang ada dibarisan caleg tersebut, murni karena kualitas mereka yang begitu besar sehingga bisa menjadi harapan baru masyarakat.
Bagaimana dengan Bangka Belitung? Provinsi Bangka Belitung pun memiliki daftar caleg muda dari berbagai daerah di kabupaten/kota hingga provinsi. Wajah – wajah penuh aura ini cukup memberikan warna baru dalam pesta demokrasi di Bangka Belitung. Hal ini patut diapresiasi atas keberanian mereka untuk keluar dari zona nyaman mereka untuk memilih zona yang lebih menantang. Keberadaan caleg muda ini pun sontak menjadi perhatian dari kalangan muda sendiri. Permasalahan yang dipertanyakan kepada mereka pun nampaknya tetap sama, apa yang akan kalian lakukan.

Di tengah semrawutnya aturan baik segi pariwisata, pertambangan, perkebunan, harga – harga dan berbagai macam tuntunan masyarakat lainnya, menjadi persoalan yang entah mampu atau tidaknya mereka mengatasi dan memberikan jawaban akan pertanyaan tersebut. Caleg muda ini bahkan harus menyadari bahwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan berbagai macam kultur serta karakter masyarakat yang harus cepat terselesaikan, masalahnya mesti diberikan sebuah ide dan gagasan terbaru. Jika hanya dengan modal semangat saja untuk mencalokan diri, nampaknya tidaklah cukup untuk meraup suara dan hati masyarakat.

Terobosan dan juga inovasi arah gerak yang tidak biasa nampaknya harus dimaikan oleh para caleg – caleg millennial ini. Jika orang – orang lama banyak bermain di sebuah isu yang aman – aman saja atau bahkan isu yang biasa – biasa saja, maka caleg millennial harus mampu menawarkan produk terbaru yang tidak bisa ditiru oleh siapapun. Jika difikirkan, maka ini mungkin dianggap berat oleh caleg – caleg millennial tersebut. Namun inilah yang harus mereka lakukan dan tawarkan agar dapat menguatkan posisi mereka, bahwasannya mereka bukanlah sekedar narasi, melainkan solusi yang baru untuk ditawarkan didunia politik Bangka Belitung dan juga Indonesia pada umumnya.

Seperti halnya di Negara – Negara maju dan berkembang seperti Malaysia, Turki, mereka telah mempu mencetak pemimpin – pemimpin muda yang berbakat dengan berbagai latar belakang. Hal ini karena bukan saja mereka diberikan kepercayaan, tetapi mereka berani menawarkan terobosan baru untuk memajukan Negara dan daerah mereka masing – masing dengan cara dan inovasi yang tidak biasanya.

Jika Bangka Belitung dihiasi dengan berbagai caleg millennial di tahun politik ini, maka tantangan terbesar yang harus mereka hadapi adalah bagaimana mengurangi karakter pragmatisme masyarakat Bangka Belitung yang selama ini telah tercemar karena pemilu dan pilkada yang telah lalu. Ini merupakan PR luar biasa yang harus mereka atasi di tengah keterbatasan pengalaman, dan juga jaringan dalam mencari dukungan suara didaerah dapilnya masing – masing. Pragmatisme yang telah menjadi budaya akan sulit sekali disentuh jika tidak ada keseriusan dan ketangguhan dalam diri caleg millennial tersebut. Jika caleg millennial tidak memiliki keseriusan dan ketangguhan dalam menghadapi karakter ini, maka mereka akan tenggelam dengan perolehan suara yang bahkan terhitung jari.

Apa Saja yang Harus Dimiliki Caleg Millenial?
Kemampuan caleg millennial tidak bisa disetarakan dengan caleg tua ataupun pemain lama. Dari segi finansial pasti mereka akan kalah jumlah dan bahkan jaringan finansial yang tidak sedikit, sehingga ini merupakan persoalan akan pengalaman pribadi seorang caleg. Namun, caleg millennial mampu menandingi caleg tua dan bahkan pemain lama sekalipun dengan menawarakan beberapa hal seperti: Pertama, Inovasi gagasan. Sebagai seorang pemuda sudah selakyaknya memiliki cita – cita dan target yang akan dituju dan dicapai dalam karirnya. Begitu juga dengan caleg millennial, mereka harus memiliki gagasan apa yang akan mereka buat baik dari segi iklan, kampanye maupun program kerja sehingga mereka tidak kalah dengan pemain lama. Terkhusus di Bangka Belitung, caleg millennial harus membuktikan gagasan yang mampu berpihak kepada masyarakat secara langsung dan terukur.

Kedua, Jangan bergantung kepada medsos. Kebanyakan caleg millennial hari ini, terlalu bergantung kepada medsos. Hal ini akan mempersulit mereka mendapatkan suara dikarenakan masyakarat pada umumnya ingin bertemu langsung dan didengarkan segala permasalahan yang sedang mereka hadapi sehingga ada ikatan emosional antara caleg dan juga pemilih tersebut. Perbanyak silaturrahmi dari gang – gang kecil dan juga komunitas daerah setempat. Ketiga, Memperluas Pergaulan. Bonus demografi memberikan keuntungan kepada caleg millennial untuk menyentuh generasi muda yang telah memilih dan menggunakan hak pilihnya. Caleg millennial berpotensi meraup suara mereka jika mampu mengumpulkan komunitas ini dan menjadikan mereka sebagai team yang siap memasarkan nama caleg tersebut. Keempat, Memaksimalkan finansial. Ini merupakan hal yang tidak dapat dilewati dan disepelekan. Tetapi finansial tidak menjadi ukuran yang berarti jika dibandingkan dengan kegigihan serta keseriusan dalam memasarkan ide serta gagasan yang tepat kepada masyarakat. Sehingga selain berkampanye, setidaknya caleg millennial mampu merubah persepsi masyarakat akan pragmatismenya. Dalam memenuhi kebutuhan finansial, caleg milenial yang berfinansial minim harus mengatur keefektifitasan dan keefisiensi dari penggunaan anggarannya dalam berkampanye, sehingga dana yang dikelurkan tepat guna dan tepat sasaran.

Semoga dengan adanya caleg millennial yang berkualitas mampu memberikan warna bagi perpolitikan Bangka Belitung yang semakin hari semakin menampakkan karekter pragmatisemenya. Kita sadar bahwasannya Bangka Belitung harus berbenah dari krisis kepemimpinan serta inovasi dan gagasan dalam keberlangsungan pembangunan provinsi yang kita cintai ini. Sehingga, dengan hadirnya caleg milllenial tidak sekedar sebuah narasi, namun sebuah solusi, yaitu mampu memberikan wajah baru Bangka Belitung yang semakin membaik dan juga dihargai dimata nasional maupun internasional. (***).

Related posts