Caleg Gerindra Diadukan ke Polda

  • Whatsapp


Posting Dugaan Ujaran Kebencian di Medsos

SEMENTARA ITU, Calon anggota legeslatif (Caleg) DPRD Kabupaten Bangka Tengah Dapil I Koba-Lubuk Besar, Nolita Suradi dilaporkan ke Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel) atas dugaan ujaran kebencian atau hate speech beberapa waktu lalu.

Caleg asal Partai Gerindra dengan nomor urut 6 ini, memposting di akun Facebook miliknya bahwa telah terjadi penggelembungan suara dalam Pemilu 2019.

“Bangka Belitung juga terjadi kecurangan penggelembungan suara .. dak tahu maluuu,” tulisnya.
Nolita pun mendoakan terduga penggelembungan suara dalam pemilu kelak mati menjadi hantu.

“Apa g takut akan azab Allah. Matipun ku doakan jadi mencaden (hantu), saat dimakamkan kuburannya penuh dengan air yg berbau busuk, jasadmu akan menggelembung, liang kuburmu tidak akan muat dimasukkan jenazahmu,” pintanya.

Akun Nolita Suradi mendoakan pula agar terduga pelaku kecurangan mendapatkan azab dari Allah.

“Itulah azab yg sepantasnya kalian terima wahai pelaku kecurangan. Seandaiatnya ada kerabat, sahabat atau teman dalam golongan ini..turunkan azabmMu atas merka juga ya Allah biar menjadi contoh utk yg lainnya,” harapnya.

Menanggapi laporan dugaan ujaran kebencian ini, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Babel, AKBP Indra Krismayadi membenarkan ada.

“Memang benar, yang bersangkutan postingan tentang dugaan ujaran kebencian di media sosial, kemudian kita buat surat perintah penyelidikan. Yang bersangkutan, Ibu No juga telah kita periksa pada hari itu juga,” ungkap Dirreskrimsus ditemui Rakyat Pos, Senin (29/4/2019) sore.

Menurutnya, terlapor dugaan ujaran kebencian ini datang secara kooperatif ke Polda Babel, guna menjalani pemeriksaan.
“Yang bersangkutan kita panggil ke sini (Polda Babel) dan kooperatif datang jam setengah lima. Setelah diperiksa, kita lihat belum memenuhi unsur,” bebernya.

Indra menyebutkan bahwa laporan dugaan ujaran kebencian ini masih dalam proses penyelidikan.
“Jadi, kita buat surat pernyataan bahwa yang bersangkutan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut,” katanya.
Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar jangan mudah mengeluarkan pernyataan atau komentar di media sosial (medsos).

“Kita sebagai masyarakat awam tidak mengetahui apakah yang kita posting itu melanggar privasi orang lain, mengandung unsur pidana atau tidak. Ketika itu dilakukan individu, otomatis penyidik bisa melakukan penyelidikan terhadap perkara tersebut,” tegasnya.
Lebih jauh Indra menegaskan, pelaku ujaran kebencian akan dijerat dengan Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Jadikan, orang kan sangat awan terhadap hukum. Padahal, ketika dia nemprovokasi orang, mengagitasi, mengajak, isinya memenuhi unsur SARA, memprovokasi untuk melakukan konflik itu bisa dikenakan Undang-Undang ITE,” pungkasnya. (bis/6)

Related posts