by

Cahaya Itu Masih Milik Dia

-NEWS-480 views

Karya: Rusmin

Siang itu sinar mentari memancarkan cahayanya dengan terang. Menerangi alam raya dengan ikhlas tanpa pamrih dilakoni matahari. Disaat rembulan mulai kembali ke pangkuan untuk bermimpi, matahari datang dengan membawa cahaya terangnya kepada penghuni bumi. Ditengah terangnya matahari, seorang lelaki setengah tua tampak sumringah memandang sinar yang datang ke arahnya.
“Akhirnya cahaya itu datang,” desisnya dengan wajah penuh kesumringahan.
Entah bagaimana lelaki setengah tua itu mengekpresikan kebahagiannya hari itu seiiring datangnya sinar matahari yang menyapanya dengan kata-kata. Toh dia bukan sastrawan yang bisa memainkan diksi indah. Entah bagaimana lelaki tua itu bisa menyemburkan kebahagiannya lewat tulisan. Toh dia bukan penulis atau kompasianer yang bisa memainkan kata dan kalimat hingga merangkainya menjadi narasi indah yang sangat dirindukan pembacanya.
Lelaki itu hanya bisa mengungkapkan perasaan bahagia dengan suara yang melengking ke angkasa hingga menembus dinding-dinding rumah penduduk kota. Lengkingan suara yang amat akrab dengan penduduk. Suara khas yang mengagetkan jantung penghuni kota yang sedang tertegun menatap nasib.
“Ha! Pak Korup mau nyalon lagi?” tanya warga kota kepada rekannya yang sedang asik dengan rokok kretek murahnya.
“Kamu kan udah denger sendiri. Pak Korup mau nyalon lagi,” jawab temannya dengan nada tak peduli.
“Lagipula nyalon sebagai legislator itu hak pribadinya Pak Korup. Kita sebagai masyarakat kere tak bisa melarangnya,” lanjut yang lain.
“Tapi…,” sergah temannya.
“Udah enggak usah banyak komentar. Kita ini orang kere. Terima apa adanya. Ntar kamu juga kalau ditraktir Pak Korup ngopi juga ngikut. Malah nambah minta bonus rokok lagi,” kata temannya sembari diikuti gelak tawa kawan-kawan mereka lainnya.
——
Berita bakal kembalinya Pak Korup ke gelanggang politik, menjadi bahasan para penduduk kota. Tua muda, lelaki perempuan, politisi hingga aktivis menjadikan diksi Pak Korup kembali ke belantika politik kota trending topik. Semua orang membicarakan tentang niat Pak Korup kembali mencalonkan diri sebagai legislator. Semua penduduk seolah bahagia dengan cerita tentang Pak Korup yang pernah mendekam di penjara karena korupsi kembali ke belantara politik di kota mereka.
“Apakah masih ada yang percaya dengan beliau?” tanya seorang pengurus parpol penuh selidik.
“Kepercayaan kan bisa dibeli dengan ini,” jawab pengurus Parpol yang lain sembari memainkan jari jempol dan telunjuknya.
“Duit Bung. Duit akan membuat Pak Korup terpilih kembali,” lanjutnya sembari menghirup kopi.
Sinar matahari yang panas memasuki sebuah kantor parpol kota. Cahayanya yang panas menembus ruangan rapat pengurus parpol terasa sangat panas. Padahal ruangan rapat yang luas dan megah itu sudah sarat dengan pendingin. Tetap saja tak mampu melepaskan rasa hawa panas para peserta rapat.
“Sebagai ketua parpol, saya sangat tidak setuju kalau Pak Korup memakai parpol kita sebagai kendaraan politiknya dalam pemilihan legislator. Mau ditaruh dimana martabat parpol kita ini?” kata ketua parpol dengan nada tinggi yang membuat para pengurus parpol lainnya tersengat.
“Apa yang mesti kita katakan kepada masyarakat, kalau beliau menggunkan parpol kita?” lanjutnya.
“Tapi Pak Ketua. Bagaimana dengan pendanaan parpol kita yang senin kamis ini? Kalau ada Pak Korup tentunya pendanaan parpol kita akan tertanggulangi,” ujar pengurus parpol lainnya.
“Pak Ketua. Kita tidak usah munafik. Kita perlu dana besar untuk memenangkan pertarungan legislatif. Hanya mereka yang bermodallah yang mampu memenangi pertarungan politik. Jadi tidak ada salahnya kita manfaatkan Pak Korup yang masih menyimpan dana banyak sebagai kader kita,” saran pengurus lainnya.
Ketua Parpol hanya terdiam. Membisu. Tatapan matanya menatap keluar jendela. Angin bertiup dengan sepoinya. Senja akan tiba.
“Kita harus mengkampanyekan ke masyarakat bahwa mereka jangan memilih calon legislator yang koruptor secara massiv dan terorganisir. Kita harus lawan,” seru seorang aktivis anti korupsi.
“Setuju Bung. Kita harus lawan,” jawab kawannya yang lain.
—–
Di sudut-sudut jalan utama kota, baliho Pak Korup mulai terlihat mata warga. Senyum Pak Korup dalam baliho itu seolah mengambarkan bahwa lelaki itu bahagia dan siap membahagiakan warga kota sebagaimana tagline yang ada di bawah foto dalam baliho yang kini mulai menjadi ornamen kota. “Bahagia Bersama Rakyat dan Siap Membahagiakan Rakyat.” (***)

Comment

BERITA TERBARU