by

Bupati Belitung Dihadang Penambang Bersajam

-NEWS-2,374 views
Bupati Belitung, Sahani Saleh membawa golok saat mendatangi kembali lokasi tambang ilegal di kawasan hutan produksi Membalong. Sehari sebelumnya, bupati dan personil Pol PP dihadang penambang dengan senjata tajam. (Foto: Dodi Irawan)

Saat Tertibkan Tambang Ilegal di Hutan Produksi
Bersitegang, Anggota Pol PP Nyaris Ditikam

TANJUNGPANDAN – Tindakan pemerintah daerah dengan personil Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) dalam menertibkan tambang ilegal tanpa melibatkan pihak kepolisian, dinilai melampaui kewenangan dan membahayakan. Hal ini terbukti di Kabupaten Belitung.

Bupati Belitung H Sahani Saleh yang ikut melakukan penertiban tambang illegal di Hutan Produksi (HP) Dusun Illir, Desa Bantan, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung bersama personil Pol PP, dihadang para penambang dengan senjata tajam.

Kejadian ini diungkapkan Sekretaris Satpol PP Kabupaten Belitung, Alkar kepada Rakyat Pos, Senin (10/12/2018). Dari kejadian itu, Pol PP Belitung menyatakan tidak ada ampun bagi penambang timah illegal. Terlebih, salah satu anggota Satpol PP, nyaris menjadi korban saat melakukan razia bersama Bupati Belitung di Sungai Berang, Membalong, pekan lalu.

Menurutnya, waktu itu, anggota Pol PP diperintahkan Bupati Belitung H Sahani Saleh untuk ikut melakukan penertiban tambang illegal di Hutan Produksi Dusun Illir, Desa Bantan.

“Setiba di lokasi, bupati dan belasan anggota kita disambut penambang dengan senjata tajam. Seperti parang dan pisau. Pada saat bupati usai mencabut kunci excavator, ada anggota Pol PP Kabupaten Belitung bersitegang. Hingga akhirnya anggota memilih untuk kabur. Namun, salah satu dari anggota yang tak sempat melarikan diri, mau ditusuk. Beruntung anggota lain, datang menolong. Hingga selamatlah nyawa anggota tersebut. Hampir saja anggota kami menjadi korban keganasan penambang-penambangan timah illegal tersebut,” ungkap Alkar.

Dia menjelaskan, para penambang yang berada di Sungai Berang ini diketahui bukan warga Membalong ataupun Belitong asli. Melainkan, pendatang yang mayoritas dari Lampung dan sekitarnya.

“Kami sudah melakukan pengecekan. Kata warga Membalong, mereka adalah pendatang. Bahkan, warga sekitarpun mengaku takut dengan para penambang itu,” ujarnya.

Karena penertiban mendapat perlawanan dari penambang menggunakan senjata tajam, sehari setelah peristiwa tersebut kata Alkar, jajaran Pol PP Kabupaten Belitung dan sejumlah instansi lain mendatangi lagi lokasi tambang. Namun sayangnya, tidak ada aktivitas apapun yang ada di Sungai Berang.

“Kedepan kita akan terus memantau. Jika masih ada yang melakukan aktivitas pertambangan di lokasi, kami akan bakar,” tegasnya.

Tambang Matras Dibongkar

Masih tentang tambang ilegal, penertiban juga dilakukan Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Babel bersama Polres Bangka dan Polsek Sungailiat di lokasi Hutan Lindung Pantai Matras, Senin (10/12/2018). Razia yang juga didukung Dinas Lingkungan Hidup Babel ini dilakukan karena penambang merajalela merambah bibir pantai sebagai objek wisata dan wilayah tangkap nelayan.

Saat petugas datang, para pekerja terlihat sedang beraktivitas namun langsung berhenti setelah mengetahui didatangi tim yang berjumlah puluhan personil. Para penambang lalu diminta membongkar peralatan tambang dan dalam waktu 3 hari lokasi yang dikeluhkan nelayan serta Pemuda Peduli Wisata ini harus steril dari aktivitas tambang.

“Kegiatan ini setelah menindaklanjuti informasi masyarakat adanya penambangan liar di daerah Matras. Kita melakukan pengecekan, penyelidikan ke TKP ternyata masuk Hutan Lindung Pantai (HLP). Jadi otomatis kita tertibkan,” kata Kasubdit Tipidter Dirkrimsus Polda Babel, AKBP Wayan Riko di sela-sela penertiban.

Karena para penambang mayoritas masyarakat kecil, menurut Wayan maka penertiban dilakukan secara persuasif dengan meminta penambang membongkar sendiri peralatannya. Apabila para penambang tidak melakukannya, maka akan dilakukan upaya paksa untuk penertiban oleh tim.

“Kita beri waktu tiga hari karena banyaknya peralatan ini, yang penting dari mereka sudah ada niat untuk membongkar,” tukas Wayan.

Lokasi yang diduga sudah cukup lama beraktivitas penambangan ini belum diketahui siapa mengkoordinirnya. Namun disebut-sebut penambang lancar beraktivitas ilegal karena ada bekingan dari oknum aparat dari kesatuan tertentu.
Dalam pantauan wartawan, sedikitnya ada 11 ponton di lokasi pertambangan pertama yang ditertibkan petugas dan sekitar 8 ponton pada lokasi sebelahnya. Wayan sempat mempertanyakan warga yang mengaku sebagai pemilik lahan tambang ilegal ini.

“Penertiban ini kita lakukan sesuai instruksi Kapolda yang melarang aktivitas tambang di hutan lindung maupun hutan konservasi. Tambang berada di kawasan hutan lindung rata-rata ada di tiap kabupaten namun skala besaran yang berbeda. Yang cukup marak ada di Sungailiat karena banyak laporan dari warga ke kita,” tukasnya.

Kabid Humas Polda Babel, AKBP A. Maladi menuturkan, kegiatan penertiban penambangan ilegal kali ini diterjunkan sebanyak 10 personel Ditreskrimsus Polda yang memback-up 50 personel Polres Bangka.

“Polisi mendatangi lokasi penambangan dan tidak ditemukan pekerja atau penambang yang melakukan aktivitas penambangan. Namun, ditemukan ponton dan mesin TI apung yang masih berada di lokasi tambang,” ungkapnya kepada awak media, tadi malam.

Ia menyebutkan, ponton yang diamankan di dua titik lokasi di kawasan Pantai Matras berjumlah belasan unit.

“Sebanyak 11 ponton dititik lokasi satu dan titik lokasi dua sebanyak 8 ponton, yang mana jarak lokasi ponton TI apung tersebut berjarak sekitar 25 meter dari bibir pantai,” urainya.

Pihaknya juga melakukan ploting terhadap lokasi tambang yang berada di kawasan Hutan Lindung Matras dengan titik koordinat X : 622094 dan Y : 9802934.

“Jadi, untuk saat ini kami memberikan himbauan agar tidak melakukan kegiatan penambangan kembali di lokasi tersebut. Kami juga minta para penambang untuk melakukan pembongkaran sendiri mesin maupun ponton TI apung,” pungkasnya. (dod/2nd/bis/1)

Comment

BERITA TERBARU