Bulan Ramadhan adalah Bulan Kesabaran

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Benny A.F.

Alhamdulillah wa syukurillah kita bergembira karena saat ini kita masih merasakan atmosfer Ramadhan, dua pertiga Ramadhan sudah kita lalui, rasanya baru saja kita memasukinya dan tidak lama lagi kita pun akan berpisah dengannya. Tentunya waktu yang tersisa tinggal beberapa hari lagi harus kita maksimalkan dengan sebaik-baiknya dan berupaya sungguh-sungguh agar ketika Ramadhan berlalu kita mendapatkan tujuan utama di syariatkannya berpuasa yakni menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Aamiin.
Adalah sebuah anugerah yang besar ketika seorang hamba menjumpai bulan Ramadhan yang diberkahi ini, karena ia akan memetik sekian banyak faedah yang besar jika ia benar-benar memanfaatkan bulan yang agung ini untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Diantara faedah yang besar itu adalah diraihnya kesabaran, baik dalam melakukan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan maupun didalam menghadapi taqdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba. Ketiga hal ini yang mengumpulkan seluruh ajaran agama Islam ini tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran.
Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadhan ini dan di sisa umurnya. Dan salah satu pelajaran besar yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, bahwa Nabi yang sangat penyayang –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.
Nabi Saw bersabda: “Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun”. (HR Imam Ahmad & Imam Muslim)
Dalam hadist ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati bulan Ramadhan sebagai bulan kesabaran, hal itu dikarenakan terkumpul dalam bulan Ramadhan seluruh jenis kesabaran; sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang berat:
1. Didalam bulan Ramadhan terdapat ibadah puasa, shalat Taraweh, membaca Alquran, kebaikan, Ihsan, dermawan, memberi makan, dzikir, do’a, taubat, istighfar dan selainnya dari berbagai macam ketaatan-ketaatan, dan semua ini membutuhkan kesabaran, agar seseorang bisa melakukannya dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama.
2. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap menahan lisan dari dusta, menipu, sia-sia, mencela, mencerca, teriak, debat, menggunjing, mengadudomba, mencegah anggota tubuh lainnya dari melakukan seluruh kemaksiatan, dan semua ini tertuntut di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Sedangkan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan ini membutuhkan kesabaran, sehingga seorang hamba sanggup menjaga dirinya agar tidak terjatuh kedalamnya.
3. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap meninggalkan makan, minum dan semua yang terkait dengannya, sedangkan nafsunya menginginkannya. Demikian pula menahan diri dari apa yang Allah bolehkan berupa mengikuti syahwat yang halal dan kelezatan yang mubah, seperti bersetubuh dan pendahuluannya, dan semua ini jiwa tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran, maka kesimpulannya Ramadhan mencakup seluruh jenis kesabaran.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Dan jiwa itu memiliki dua kekuatan: Kekuatan berbuat dan kekuatan menahan diri. Sedangkan hakekat sabar adalah menjadikan “kekuatan berbuat” terarah kepada perkara yang bermanfaat dan menjadikan “kekuatan menahan diri” sebagai bentuk menahan diri dari perkara yang membahayakannya.”
“Dan diantara manusia ada orang yang kekuatan sabarnya dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan dalam keistiqomahan melakukannya, lebih kuat daripada kesabarannya dalam menghindari sesuatu yang membahayakannya, sehingga ia sabar terhadap beratnya ketaatan, namun tidak sabar terhadap tarikan hawa nafsunya yang mengajak kepada perbuatan yang terlarang.”
Beliau juga mengatakan “Sebaliknya diantara mereka ada yang kekuatan kesabarannya dalam menghindari perkara-perkara yang menyelisihi Syari’at, lebih kuat daripada kesabarannya dalam menghadapi beratnya ketaatan. Namun, ada juga diantara mereka yang tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi beratnya melakukan ketaatan dan tidak pula memiliki kesabaran dalam dalam menghindari sesuatu yang membahayakannya. Dan manusia paling utama adalah orang yang paling sabar diantara mereka, di dalam dua jenis kesabaran tersebut di atas sekaligus. Banyak diantara manusia yang sabar menanggung beratnya shalat malam, baik ketika cuaca panas ataupun dingin, dan sabar dalam menanggung beratnya puasa, namun ia tidak sabar menahan matanya dari melihat sesuatu yang haram dilihat.”
Banyak diantara manusia yang sabar menahan matanya dari melihat gambar yang haram dilihat dan menoleh kepadanya , namun ia tidak sabar dalam memerintahkan manusia kepada kebaikan maupun melarang mereka dari berbuat mungkar, jihad melawan orang kafir dan orang-orang munafik, bahkan ia adalah orang yang paling lemah dan paling tidak tidak mampu bersabar terhadapnya.
Satu hal penting yang tak boleh kita lupakan dalam bersabar. Seringkali kita temui kesalahpahaman di tengah-tengah umat Islam bahwa mendiamkan kezhaliman yang tengah berlaku bahkan terus-menerus berlangsung dianggap sebagai bentuk kesabaran. Anggapan ini telah meletakkan kesabaran tidak pada tempatnya. Hal ini sama sekali kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya yang meniscayakan kesabaran tidak ada batasnya. Disamping sabar, Allah juga memerintahkan kepada kita untuk melakukan aktivitas amar makruf nahi munkar. Artinya, mendiamkan kemunkaran dan meninggalkan para pelakunya tidak termasuk dalam aktivitas sabar karena justru Allah memerintahkan kita untuk mencegah kemungkaran baik dengan lisan, tangan (kekuasaan), maupun dengan hati dan itu adalah selemah-lemahnya iman.
Oleh sebab itu, tidak sepatutnya kita berdiam diri dan mengklaim bahwa kita adalah pelaku kesabaran ketika melihat keharaman merajalela atau saat menyaksikan hukum-hukum Allah tidak diamalkan. Sikap seperti ini bukanlah wujud dari kesabaran, melainkan bentuk dari kelemahan. Rasulullah SAW telah meminta perlindungan kepada Allah dari sifat yang demikian. Beliau bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah dari sifat lemah, dan malas, dari sifat kikir, bingung, kesedihan, dilanda utang, dan dari paksaan orang yang kuat.’ Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW juga bersabda, ‘Tidak, demi Allah kalian harus menghentikan orang yang dzalim, kalian harus membelokkan mereka (dari kedzaliman) menuju kebenaran, dan kalian harus menahan mereka dalam kebaikan atau Allah akan mengunci hati sebagian dari kalian disebabkan oleh sebagian yang lainnya dan Allah akan melaknat kalian sebagaimana telah melaknat Bani Israil.”
Dengan demikian, melaksanakan amar makruf nahi munkar meskipun dihadapkan pada penentangan ataupun cacian dari orang-orang yang suka mencaci merupakan suatu keniscayaan. Disamping memupuk kesabaran, amar makruf nahi munkar tetap harus ditegakkan. Sikap seperti inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabat ketika mempertahankan keimanan mereka dalam menghadapi penyiksaan kafir Quraisy di awal penyebaran Islam di bumi Mekkah hingga kemenangan berhasil diraih umat Islam kala itu. Kesabaran mereka juga diiringi dengan keistiqomahan dalam menentang kemunkaran. Mereka bersabar sekaligus berjuang dalam menegakkan kalimatullah demi diterapkannya Islam secara kaffaah. Oleh karena itu, selain terus belajar bersabar dalam menghadapi segala masalah dan cobaan yang Allah ujikan kepada kita, di waktu bersamaan kita juga harus terus menyeru kebenaran dan mencegah kemungkaran. Tidak berdiam diri melihat kemungkaran terutama terhadap kezhaliman yang telah mencampakkan hukum-hukum Allah hingga meniadakan peran Dzat Yang Maha Pengatur dalam kancah kehidupan. Inilah aktivitas yang dilakukan Rasulullah SAW dahulu dan ini pulalah aktivitas utama yang seharusnya umat Islam lakukan saat ini. Bukankah beliau SAW adalah suri teladan terbaik kita? Wallahu a’lam bi ash showab.

Related posts