Budaya Literasi Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di Masa Covid

  • Whatsapp
Penulis: KURNIAWATI, S. E
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka, Babel

Sudah hampir enam bulan lamanya masa pandemi Covid-19 belum juga ada kelihatan tanda-tanda berakhir. Justru sebaliknya, di Indonesia penyebaran Covid-19 semakin meningkat. Angka peningkatan terkena Viru Corona mengalami kanaikan yang sangat signifikan setiap harinya. Hal ini membuat kondisi perekonomian kita semakin mengalami kesulitan. Begitu juga dengan kegiatan pembelajaran disekolah juga mengalami masalah, sehingga solusi yang tepat sampai saat ini, untuk mengatasi masalah pendidikan masih melakukan pembelajaran jarak jauh secara online.

Tentu selama menjalani pembelajaran jarak jauh secara online banyak sekali tantangan ataupun kekurangan, baik itu yang dialami oleh siswa maupun guru. Misalnya daerah pedalaman yang tidak ada sinyal HP, hal ini tentu membuat pembelajaran jarak jauh mengalami kendala yang sangat besar, ekonomi orangtua yang lemah yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan untuk membeli kuota internet, keterbatasan orang tua menggunakan teknologi (Gaptek) dan lain sebagainya. Ketika dievaluasi selama masa pandemi Covid-19, bagaimana peran aktif siswa dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara online, Apakah seluruhnya siswa aktif terlibat dalam melakukan pembelajaran online? Apabila siswa tidak aktif dalam melakukan pembelajaran online dalam hal ini, siswa sudah pasti ketinggalan materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Selama covid -19 bagaimana pula kesadaran para siswa untuk tetap melek dan melakukan literasi?

Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata – khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis  yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya. UNESCO menjelaskan, kemampuan literasi merupakan hak setiap orang, dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang “multiple Effect” atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas. Cara yang digunakan untuk memperoleh literasi adalah melalui Pendidikan. Pendidikan dan kemampuan literasi adalah dua hal yang sangat penting dalam hidup kita. Kemajuan suatu negara secara langsung tergantung pada tingkat melek huruf di negara tersebut. Orang berpendidikan diharapkan untuk melakukan tugasnya dengan baik. Secara historis, Menurut Prof. Dr. Tarwotjo M.Sc sebagaimana dikutip oleh Asul Wiyanto dalam pengantar bukunya yang berjudul “Terampil Menulis Paragraf”, produk dari aktivitas Literasi berupa tulisan, adalah sebuah warisan intelektual yang tidak akan kita temukan di zaman prasejarah. Dengan kata lain, apabila tidak ada tulisan, sama saja kita berada di zaman prasejarah.

Baca Lainnya

Tulisan merupakan bentuk rekaman sejarah yang dapat diwariskan dari generari ke generasi, bahkan hingga berabad-abad lamanya.     Tulisan merupakan bukti dari jejak rekam sejarah peradaban manusia yang berupa peristiwa, pengalaman, pengetahuan, pemikiran, dan ilmu pengetahuan. Tulisan dapat menembus dan menelusuri lorong-lorong ruang dan waktu di masa lampau. Seandainya saja di zaman ini tak ada lagu tulisan atau orang yang mau menulis, niscaya kita akan kembali ke zaman pra-sejarah. Namun  faktanya, justru peradaban kita saat ini bisa dikatakan sebagai peradaban tulisan atau peradaban teks. Terbukti dari banjir informasi yang kita terima setiap hari dari berbagai media baik cetak maupun elektronik, sebagian besar berbentuk teks atau tulisan. Singkat kata, tulisan telah mengisi seluruh ruang kehidupan manusia modern di era globalisasi seperti saat ini. Dalam dunia pendidikan khususnya, tulisan mutlak diperlukan. Buku-buku pelajaran maupun buku bacaan yang lainnya merupakan sarana untuk belajar para peserta didik di lembaga-lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampi perguruan tinggi. Tanpa tulisan dan membaca, proses transformasi ilmu pengetahuan tidak akan bisa berjalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan, budaya membaca, serta menulis di kalangan masyarakat. Oleh karenanya, kita harus terus berupaya mendorong serta membimbing para generasi muda termasuk pelajar dan mahasiswa untuk membudayakan kegiatan Literasi.

 

Pentingnya Budaya Literasi di Sekolah bagi Siswa

Ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan dari hasil membaca. Yakni dengan membaca, kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan. Misalnya, membaca koran atau majalah. Membaca juga kita bisa mendapatkan hiburan seperti halnya apabila kita membaca Cerpen, novel. Dengan membaca mampu memenuhi tuntutan intelektual, meningkatkan minat terhadap suatu bidang, dan mampu meningkatkan konsentrasi.

Menurut Lerner (1988:349), kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini, memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini, terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini, menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Melihat begitu rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia tentu ini, akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang tahun ini, akan menghadapi MEA (Mayarakat Ekonomi Asean), sehingga masyarakat Indonesia akan sangat sulit untuk bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain di Asean. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia biasa kita mulai dari sekolah, yang mana sekolah itu merupakan tempat/lembaga yang dirancang untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa yang tentunya kegiatan itu tidak terlepas dari aktivitas membaca. Maka dari sinilah pentingnya mengembangkan budaya membaca di sekolah. Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti melalui pembiasaan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai merupakan payung bagi keberlangsungan Gerakan Literasi Sekolah yang dirintis oleh Satria Darma untuk dijadikan sebuah program nasional.

Budaya literasi telah banyak diterapkan di sekolah-sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, serta meningkatkan mutu pendidikan. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai pengembangan dari Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti pada Anak. Awal peluncuran GLS sendiri dilakukan secara simbolis dengan memberikan buku-buku paket bacaan yang didistribusikan di berbagai sekolah sebagai tonggak budaya literasi. Namun, walaupun pemerintah telah meluncurkan gerakan tersebut, tetap saja guru dan pihak sekolah harus pandai dalam menyesuaikan dan merencanakan program budaya literasi di sekolah. Untuk menerapkan budaya literasi di sekolah diperlukan beberapa prinsip. Prinsip-prinsip yang ditekankan adalah sebagai berikut.

 Sekolah yang menerapkan  program literasi berimbang menyadari bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Sehingga diperlukan berbagai strategi membaca dan jenis teks yang bervariasi pula. Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran pada mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.

Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan agar tercipta kondisi kelas yang kondusif dan menyenangkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk kegiatan yang bermakna dan kontekstual. Misalnya, ‘menulis surat untuk wali kota’ atau ‘membaca untuk ibu’ adalah contoh-contoh kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada siswa. Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun juga merayakannya melalui budaya literasi di sekolah. Buku-buku yang disediakan untuk bahan bacaan siswa perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar siswa dapat dikenalkan pada pengalaman multikultural sebanyak mungkin. Setelah berpegang pada prinsip-prinsip tersebut, selanjutnya adalah penerapan budaya literasi di sekolah. Banyak terdapat bentuk-bentuk penerapan budaya literasi di beberapa sekolah di Indonesia, seperti berikut ini.

Untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah, khususnya di kelas pada kalangan siswa, diperlukan suatu tindakan yang salah satunya melalui program 6M. Program 6M sendiri terdiri atas tindakan mengamati (observe), mencipta (create), mengomunikasikan (communicate), mengekspresikan (appreciate), membukukan (post), memamerkan (demonstrate). Pada program ini, siswa dibiasakan untuk mengaktifkan siswa dalam mengembangkan keterampilan yang dimilikinya agar siswa lebih peka, peduli, kritis, kreatif, dan jujur. Program ini, telah diterapkan di beberapa sekolah dasar di Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aulia Akbar, budaya literasi yang diterapkan melalui program 6M di sekolah, khususnya sekolah dasar, siswa dapat lebih membiasakan diri dalam mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Semakin besar siswa sadar akan pentingnya budaya literasi, maka semakin besar peluang siswa untuk mampu bersaing di era modern.(***).

Related posts