by

Budaya “Dak Kawa Nyusah” Berujung Gaya Hidup Praktis

-Berita Kota-200 views
Pedagang makanan berbuka puasa di salah satu lokasi di Pangkalpinang, Selasa (14/5/2019). (foto: Nurul Kurniasih)

 

Entah memang sudah budaya “Dak Kawa Nyusah” (tak mau bersusah-susah) atau memang tuntutan zaman di era teknologi 4.0, dimana semua gaya hidup serba praktis dan mudah.

Apalagi di bulan ramadan dengan cuaca panas, membuat sebagian orang malas keluar rumah untuk membeli keperluan berbuka. Ditambah ibu-ibu yang merangkap menjadi wanita karir, sehingga tidak punya waktu banyak untuk membuat aneka kudapan untuk berbuka puasa.

Didukung dengan ketersediaan produk hingga keterampilan banyak orang dalam mengolah makanan, membuat banyak pilihan bagi masyarakat untuk menikmati aneka menu berbuka hingga makan malam.

Di setiap jalan di Kota Pangkalpinang, dipenuhi lapak-lapak yang menjual aneka menu berbuka, mulai dari minuman segar, wa campur, es buah, sup buah, minuman ala Thailand yang dikenal dengan Thai Tea, hingga aneka kue, makanan manis makanan asin dan lauk-pauk serta sayuran yang sudah di masak dengan berbagai rasa dan pilihan.

Hampir di setiap ruas jalan pula, lapak-lapak ini dikerumuni pembeli ketika jam pulang kerja ataupun jam ngabuburit sebelum berbuka. Tak heran jika beberapa ruas jalan yang ada menjadi sedikit macet.

Kemudahan lainnya, juga ditawarkan pelaku usaha melalui jejaring sosial, menjual aneka makanan secara online dengan jasa siap antar, menambah lengkap budaya Dak Kawa Nyusah bagi kalangan masyarakat Babel.

“Daripada keliling nyari yang dituju panas-panas ditambah puasa, mendingan pilih yang langsung nganter ke rumah aja, praktis,” sebut Risa, warga Pangkalpinang, yang merasa terbantu dengan adanya pedagang online.

Begitu halnya dengan Yati, ibu rumah tangga yang juga pekerja swasta ini memilih membeli makanan jadi untuk menu berbuka, karena waktu yang ia miliki untuk memasak sangat sedikit.

“Masak terkadang enggak habis sekali makan, kalau beli kan porsinya sedikit dan banyak macemnya, jadi dak repot-repot masak, apalagi bawang mahal ni, mendingan beli masakan jadi,” ulasnya.

Selain itu, ia juga terkadang memboyong keluarganya untuk berbuka di resto atau kafe, yang menyediakan menu berbuka, walaupun sedikit lebih membutuhkan isi kantong namun kata dia, sesekali boleh saja menikmati momen bersama keluarga.

Berbeda dengan zaman dahulu, dia menambahkan disaat semua kebutuhan belum serba ada, para orangtua zaman dulu, sering membuat makanan atau cemilan untuk berbuka.

“Zaman dulu nyari uang susah, jadi kalau harus dihabiskan untuk membeli yang jumlahnya sedikit, itu sayang sekali, jadi ya solusinya buat sendiri, kan lebih hemat, dapetnya lebih banyak, bisa dimakan berkali-kali oleh keluarga besar,” terang Tri.

Yati mengisahkan, dulu sering membantu ibundanya, membuat cemilan berbuka, seperti bubur dawat, bubur sum-sum, pempek dan aneka kue-kue lainnya.

“Kami kan keluarga besar, 7 bersaudara, kalau mau beli sudah berapa duit yang dikeluarkan,” imbuhnya.

Zaman itu, kata Tri, belum ada jualan online yang menjamur seperti sekarang, sehingga membuat sebagian orang harus pintar dan rajin dalam mengelola keuangan serta membuat berbagai cemilan.

Namun warga lain yaitu Asih memiliki pendapat berbeda. Meskipun hidup di zaman modern, ia juga masih menyempatkan diri untuk memasak dan membuat berbagai cemilan untuk menu berbuka.

“Kalau beli, tampilannya saja yang kadang terlihat enak, ketika dimakan ya masih lebih buat sendiri, sudah tau kualitas dan rasa, walaupun memang banyak menu yang dijual enak-enak, tapi kalau enggak bikin sendiri, rasanya gak sah,” kisahnya, yang paling suka membuat makanan khas Bangka, pempek.

“Kalau beli pempek paling tidak 10 biji, makannya sekali duduk, kalau beli ikan mentah 10 ribu, ditambah sagu, sudah bisa menikmati pempek untuk dua hari, memang sih agak ribet membuatnya, tapi bagi saya lebih hemat,” kata Asih yang mengaku memiliki pendapatan pas-pasan.

Di zaman now ini, memang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, ingin menikmati segala kemudahan dengan berbagai pilihan, menjadi hak masing-masing masyarakat, tetapi kemudahan ini bisa menjerumuskan lebih jauh Budaya Dak Kawa Nyusah.(nov)

Comment

BERITA TERBARU