Budaya Coret, Sisi Lemah Karakter Pelajar

  • Whatsapp

Oleh: Abrillioga
Siswa SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan

Fenomena sosial di kalangan Pelajar yang baru usai menamatkan jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat berupa aksi coret-mencoret baju seragam sekolah sebagai bentuk selebrasi dan kegembiraan terhadap kelulusan, merupakan salah budaya tahunan pelajar yang seakan wajib untuk dilakukan. Hal ini menjadi penanda bahwa dengan melakukan konvoi dan aksi mencoret seragam barulah dikatakan sah lulus.

Kegiatan seperti disebutkan di atas, merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan oleh Pelajar di seluruh penjuru negeri Bumi Pertiwi ini. Bahkan ini telah menjadi bagian tradisi yang tidak boleh untuk dilewatkan bagi pelajar yang baru usai menamatkan pendidikan sekolah menengah atas atau sederajat.

Jika kita kritis dan mengevaluasi lebih kedalam, sejujurnya aksi kegiatan coret seragam sekolah bukan menunjukkan sisi dimana embel atau atribut sekolah yang sudah tak lagi digunakan, namun perlu kita ketahui disinilah letak sisi lemah mentalitas karakter Pelajar.

Menurut Penulis sendiri, ada beberapa karakter yang bisa kita tangkap dari perayaan coret mencoret dan konvoi ini, seperti diantaranya kecenderungan dalam perayaan yang bersifat kurang baik. Selebrasi atas kesuksesan boleh saja dirayakan, namun perayaan dengan aksi corat-coret rasanya bukan perayaan yang baik. Sebaliknya, merupakan bagian dari perayaan yang berlebih-lebihan dan jauh dari prinsip kebermanfaatan, bahkan bisa membawa dampak buruk. Jika generasi muda kita sudah mulai mentradisikan perayaan buruk ini, maka tentunya akan berakibat buruk bagi kelangsungan hidup di masa yang akan datang. Sehingga, aksi carat-coret ini akan melestarikan sebuah tradisi buruk yang akan selalu diikuti oleh generasi sesudahnya.

Budaya corat-coret sudah pasti selalu melibatkan proses pengerahan massa yang banyak. Tak jarang jika aksi konvoi seringkali menimbulkan tawuran antar pelajar. Hal ini, karena ada upaya sikap menunjukkan kekuatan dari masing-masing kelompok genk pelajar, unjuk kekuatan antara kelompok genk pelajar yang satu dengan yang lainnya. Dan tradisi unjuk kekuatan ini, jika dibudidayakan akan melahirkan tradisi anarkisme kolektif antar kelompok. Sehingga akan melahirkan pengembangan karakteristik generasi muda yang kurang baik.

Jika kegiatan perayaan aksi coret dan konvoi ini sudah berlangsung sejak lama, namun perlu juga kita perhatikan dari segi konteks dan waktunya. Dulu, kala perayaan ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa empati karena telah berhasil menyukseskan pendidikan sekolah menengah atas atau sederajat yang dinilai telah mengenyam pendidikan tinggi. Tetapi jika kita sinkronisasikan dengan era sekarang justru penamatan pendidikan jenjang sekolah menengah atas atau sederajat dinilai sangat rendah. Dewasa ini banyak sekali orang yang telah berhasil menamatkan pendidikan tinggi seminimalnya ialah sarjana strata tingkat satu (S1).

Oleh sebab itu, Penulis rasa aksi budaya coret dan konvoi sebaiknya untuk tidak dilakukan, adakalanya bagi Pelajar yang baru usai menamatkan pendidikan menengah atas untuk belajar lebih giat mempersiapkan diri menghadapi ujian UTBK atau SBMPTN yang dinilai jauh lebih bermanfaat dan berguna sebagai penentu masa depan. Penulis rasa, pelajar sekarang lebih enjoying atau terbilang begitu santai terhadap tes UTBK untuk masuk ke perguruan tinggi, padahal tanpa belajar yang giat tak akan mungkin mendapatkan hasil yang maksimal.

Kemudian daripada itu, ada baiknya kita berusaha perlahan-lahan untuk menggeserkan budaya yang salah ini agar tidak menjadi tradisi, sebab hal ini akan menunjukkan sisi lemah dari mentalitas seorang Pelajar. Mulailah untuk tidak membenarkan kebiasaan, tetapi kebiasaan harus dibenarkan. Dengan menanamkan sikap “include” bagi tiap diri kita seorang pelajar atau sikap penyadaran, maka kita akan dapat menentang sendiri norma yang dirasa salah dan tak layak untuk dilakukan. Proses inilah yang nantinya akan membentuk karakter yang cerdas, kreatif dan berwawasan, sehingga generasi muda dapat berpikir mana kegiatan yang membawa dampak positif atau negatif.(***).

Related posts