Bonus Demografi Jadi Tantangan Bidang Pendidikan

  • Whatsapp
Gubernur Babel beserta istri dan pejabat pusat saat acara sarasehan nasional di Pangkalpinang, Jumat (13/9/2019).(foto: Nurul Kurniasih)

PANGKALPINANG- Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo menegaskan Indonesia menghadapi tantangan dalam memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan akan didapatkan Indonesia pada 2030 mendatang yakni masalah pada bidang pendidikan dan kesehatan.

Hasto menyebutkan, dalam lima dekade terakhir telah memasuki transisi demografis yang ditujukan dengan tingkat kelahiran dan tingkat kematian yang tinggi menujukan tingkat kelahiran dan tingkat kematian rendah.

“Kita mencapai suatu kondisi dimana, bonus demografi masuk untuk indonesia itu capai nasional, cuma kalau bicara capaian per- provinsi disparitasnya tinggi sekali, ada mau masuk belum, awal juga belum, ada tengah, ada yang sudah mau lewat, tetapi tidak kaya juga,” kata Hasto saat menghadiri sarasehan nasional di Pangkalpinang, Jumat (13/9/2019).

Dia menyebutkan, di Indonesia ada 7 provinsi yang capai bonus demografinya tinggi, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Bali, DIY, Jawa Tengah, Kalimantan Timur (Kaltim). Untuk tantangan di bidang pendidikan dan kesehatan angka kematian bayi harus diturunkan dengan cara menurunkan ibu hamil di tingkat bidan.

“Pendidikan itu menjadi tantangan utamanya, jika penduduk bnyak usia produktif tapi pendidikan rata-rata 8,6 tahun gimana?, ” ujarnya mempertanyakan.

Oleh karena itu, sumber daya manusia lanjut Hasto, harus ditingkatkan dan dipersiapkan, serta lapangan pekerjaan juga harus memadai, agar angkatan kerja ini bisa terserap.

Di bidang Kesehatan, sebutnya, juga terdapat stunting di dalamnya dimana untuk mengatasi ini perlu keterlibatan banyak pihak.

“Beda halnya dengan kasus stunting (gangguan pertumbuhan kronis pada anak-red) yang butuh waktu yang lama untuk menurunkan stunting, menurun angka kematian ibu atau bayi bisa lebih cepat,” tukasnya.

Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas RI, Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia akan memanfaatkan bonus demografi sebaik-baiknya melalui peningkatan SDM.

“Caranya adalah jumlah anak diturunkan menuju dua tetapi jangan terlalu dilepas sehingga kemudian terjadi seperti beberapa negara di eropa barat maupun Jepang turun drastis,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut dia, harus menjaga keseimbangan antara jumlah penduduk dengan kualitas penduduknya sehingga kami dari perencanaan adalah TFR-nya itu di jaga 2045 dikisaran 2 hingga 2,1.

Dia menyarankan setiap keluarga cukup memiliki dua anak, dan sekarang tampaknya mungkin dimodifikasi menjadi dua anak ideal. “Penekanannya bahwa jumlah anak tetap harus dikendalikan diturunkan sehingga stunting turun,”terangnya.(nov/10)

Related posts