Boeing 737- Max 8 Dilarang, Harga Tiket Pesawat Bakal Lebih Mahal?

  • Whatsapp

Lion Air Miliki 10 Unit
Kadishub Ingatkan Maskapai

PANGKALPINANG- Pemerintah Republik Indonesia resmi melarang operasional  penerbangan Boeing 737 MAX 8, pasca jatuhnya pesawat Lion Air dan Ethiopia Airline beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan hanya memberikan jangka waktu satu minggu larangan terbang untuk keperluan pemeriksaan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Babel, KA. Tajuddin meminta agar larangan penggunaan pesawat yang dikeluarkan pemerintah pusat jangan sampai mempengaruhi harga tiket pesawat menjadi lebih tinggi.

Ia mewanti-wanti, agar pihak maskapai untuk tidak beralasan karena larangan tersebut sehingga membuat tiket pesawat dari dan ke Pangkalpinang menjadi lebih mahal, padahal rute lebih pendek dibandingkan kota lainnya.

“Di Indonesia yang memiliki Boeing 737 MAX 8 adalah Lion Air 10 unit, Garuda 1 unit, totalnya ada 11 pesawat yang di larang terbang,” kata Tajuddin, akhir pekan lalu.

Dia menilai, pihak maskapai tentunya sudah mempertimbangkan dan mengantisipasi terkait larangan ini dengan menyiapkan armada lainnya.

“Saya rasa pihak airline sudah mengantisipasi agar tidak berpengaruh terhadap pelayanan penerbangan,” imbuhnya. “Harga tiket di kita ini sudah mahal, padahal dekat dengan Jakarta, makanya saya minta maskapai penerbangan untuk tidak menaikan kembali harga tiket, imbas dari pelarangan terbang sementara Boeing 737 MAX 8,” tambah Tajuddin.

Dia belum bisa memastikan apakah pelarangan terbang sementara Boeing 737 MAX 8 berpengaruh atau tidak terhadap pelayanan penerbangan di Bandara Depati Amir Pangkalpinang.

“Kemungkinan sedikit banyaknya berpengaruh, terutama Lion yang paling banyak memiliki pesawat jenis ini, tetapi kita harapkan tidak demikian,” pungkasnya.

Sebelumnya, dilansir dari Kantor Berita Antara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mempertegas larangan terbang bagi seluruh pesawat terbang B737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak 14 Maret 2019.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti dalam keterangannya menegaskan bahwa larangan beroperasi ini berlaku sampai dengan ada pemberitahuan lebih lanjut dengan mempertimbangkan terpenuhinya keselamatan penerbangan.

Langkah tersebut ditempuh dengan memperhatikan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC) yang diterbitkan oleh FAA pada 13 Maret 2019 perihal Updated information regarding FAA continued operations safety activity related to the Boeing Model 737-8 and 737-9 (737 MAX) fleet dari Federal Aviation Administration.

“Demi terpenuhinya keselamatan penerbangan di Indonesia, kami memutuskan untuk melarang terbang seluruh pesawat Boeing 737-8 MAX yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak 14 Maret 2019”, katanya.

Larangan beroperasi ini dikecualikan bagi penerbangan B737-8 MAX yang bertujuan non-komersial, tidak membawa penumpang, dan penerbangan ferry dalam rangka kembali ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat terbang. Keselamatan penerbangan menjadi hal terpenting dalam pelayanan penerbangan. “Bagi kami, keselamatan merupakan ‘no go item’ yang tidak dapat ditawar,” katanya. (nov/ant/6)

Related posts