BK Sebut Siswanto Penerima Narkoba

  • Whatsapp

Dijerat Pasal Berlapis UU Narkotika

PANGKALPINANG – Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengunjungi Lapas Narkoba tempat ditahannya oknum anggota DPRD Babel Siswanto alias Yung Yung yang tertangkap BNNP Kalbar, April bulan lalu.
Kedatangan pihak BK yang dikomandoi Haryadi, bermaksud memastikan peran keterlibatan Siswato dalam peredaran bisnis barang haram tersebut, guna mengambil langkah selanjutnya di internal DPRD Babel.
Dari hasil kunjungan itu, BK mendapati oknum dewan yang kini berstatus tersangka tersebut diduga terlibat sebagai penadah narkoba, lantaran Siswanto ditangkap saat menerima 3 paket sabu.
Namun BK melihat keanehan dari hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) BNNP Kalbar, yang menjerat Siswanto dikenakan Pasal 112 dan 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
“Kami sudah mendatangi BK DPRD Kalbar, BNNP Kalbar dan Lapasnya. Dan kami, sudah menanyakan kronologis penangkapan itu. Pasalnya akan kami kroscek dan BAP-nya sudah. Dan sudah menemui Siswanto. Tapi, untuk kepentingan penyidikan tidak bisa kami ungkapkan untuk diketahui kebenarannya. Tapi BAP dengan pernyataan Siswanto itu berbeda, makanya masih kami kaji lagi,” kata Ketua BK DPRD Babel Haryadi ketika dikonfirmasi wartawan, Selasa (16/5/2017).
Usai menemui Siswanto itu katanya, BK DPRD akan bersidang di ruang BK dan segera menyampaikan hasilnya kepada pimpinan dewan.
“Tapi intinya, kami sudah mendapat pasal yang ditetapkan, barang bukti dan kronologis penangkapannya dan mereka sudah menjelaskannya secara terbuka,” imbuh legislator Dapil (Daerah Pemilihan) Kota Pangkalpinang ini.
Berdasarkan pengakuan kepada BK kata Haryadi, Siswanto membantah jika disebut-sebut ia sebagai pengedar barang haram tersebut. BK juga masih mempertanyakan langkah BNNP yang menetapkan pasal pengedar narkotika kepada Siswanto.
“Dia penerima saja. Karena kalau pengedar, ancaman hukuman lima tahun sampai hukuman mati. Tapi kita masih menggunakan praduga tidak bersalah dan sore ini (kemarin-red) didatangi oleh pengacara. Kami masih menggunakan praduga tidak bersalah karena menunggu kasusnya sampai ke pengadilan. Dan beliau juga ada hak pembelaan. BK sudah menyelidiki dan membuat berita acara dan nanti akan kami sampaikan kepada pimpinan,” tuturnya.
“Kami harap masyarakat Bangka Belitung menggunakan praduga tidak bersalah,” pungkasnya.
Seperti diwartakan sebelumnya, Siswanto diamankan BNNP Kalbar karena diduga memiliki paket sabu. Dari surat pemberitahuan BNNP Kalbar kepada DPRD Babel, diketahui Wasekjen Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat tersebut tertangkap pada tanggal 21 April 2017 pada pukul 12.07 WIB.
Dalam penangkapan tersebut setelah dilakukan penyelidikan Siswanto dikenakan pasal 112 dan 114 undang-undang Narkotika (Narkoba) nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika oleh penyidik. (ron/6)

UU 35/2009 tentang Narkoba:

Pasal 112
(1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Pasal 114
(1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau
menyerahkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Related posts