Bilur Bilur Luka Mantan Pengantin

No comment 104 views

Karya Rusmin

Lelaki setengah baya itu tampak geram. Matanya terus mendelik ke arah televisi hitam putih yang bersandar di atas buffet tua rumahnya. Suara reporter terus bergemuruh lewat suara televisi yang melaporkan tentang kejadian sebuah aksi bom bunuh diri di sebuah tempat keramaian. Segemuruh nuraninya marah. Sebuah gebukan tangan menghantam meja tuanya. Bruukk. Suaranya amat keras dan mematahkan kaki meja. Emosi nuraninya tak tertahan.

Lelaki itu lalu keluar dari dalam rumah. Masih dengan menahan marah yang amat luar biasa dan mengkristal di sekujur tubuhnya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menggigil menahan amarah yang amat sangat luar biasa. Sementara di atas langit sejuta bintang ikut bersedih. Kerlipnya terdiam. Tak bergerak. Cahaya rembulan pun seolah enggan bercahaya. Seolah ikut merasakan penderitaan nurani lelaki itu. Desis angin ikut terhenti.

Lelaki itu seolah teringat kembali dengan masa silamnya yang kelam. Bahkan teramat kelam yang membuat dirinya kini harus sebatang kara. Menjauh dari dunia pergaulan antar sesama manusia. Menyendiri dalam rimbunnya hutan kampung yang amat ganas. Dan itu sudah tiga tahun dilaluinya dengan segala duka. Dengan segala resikonya usai keluar dari penjara.

“Aku harus siap menghadapi ini semua,” desisnya saat memulai melangkah ke rimba kampung setelah bebas dari penjara. “Aku harus melawan mereka.”

Dulu lelaki setengah baya itu adalah orang terpandang. Bahkan amat terpandang di kampungnya. Kehidupan keluarganya pun amat harmonis bersama dengan istri dan sang anak semata wayang. Mereka dianggap sebagai representasi keluarga bahagia bagi warga kampung. Malah keluarga kecil itu beberapa kali menerima penghargaan dari kabupaten sebagai keluarga teladan.

Namun perkenalaannya dengan sekelompok orang yang berjuang di jalan kebenaran atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih, telah melenakannya. Tidak usahlah diceritakan bagaimana dan apa penyebabnya sehingga lelaki itu bisa bergabung dengan kelompok itu. Yang jelas masuk surga adalah narasi yang selalu digelorakan pimpinan dan pengikut kelompok hitam itu kepada orang yang akan direkrutnya. Meski awalnya lelaki itu tidak percaya dengan kelompok ini.

“Mana ada orang melakukan teror dan membunuh orang tak berdosa masuk surga?” pikirnya.
Tapi lelaki itu terlena bahkan amat terlena dengan frasa masuk surga yang dinarasikan secara simultan oleh pimpinan dan pengikut kelompok itu. Dirinya terlena dengan uraian tentang surga. Membuatnya mulai jauh dari kehidupan normatif sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anak dan istrinya.

Usaha elektronik di pasar pun terbengkalai. Tak terurus. Dirinya sibuk ikut kegiatan kelompok barunya yang selalu mendengungkan tentang surga dan surga. Berhari-hari dia meninggalkan rumah dan keluarga bersama kelompoknya. Dan setiap ditanya sang istri, lelaki itu selalu menjawab dengan kalimat surga.

“Aku sedang mencari surga Bu,” jawabnya yang membuat sang istri terdiam. Dan sebagai istri tentu saja bangga suaminya sedang merebut jalan untuk menuju surga di akhirat.

Perilaku sang suami yang jarang pulang bukan hanya membuat istrinya khawatir. Namun sebagai istri dia perlu menanyakan yang sebenarnya apa yang dilakukan sang suami bersama kelompoknya. Apalagi dalam kamar, tumpukan buku tentang merakit bom dan jihad berhamburan memenuhi kamar. Dan yang membuatnya ingin mengkonfirmasi langsung kepada suaminya adalah usai suaminya pulang, selalu terdengar aksi pengeboman. Sebagai istri tentu saja amat khawatir. Jangan-jangan suaminya terpengaruh dalam jaringan teroris.

Apalagi semenjak bergabung dalam kelompok itu, suaminya sudah jarang berkumpul dengan para tetangga. Ke masjid pun hanya waktu tertentu. Bahkan kadang amat jarang. Suaminya lebih sibuk dengan urusannya di depan laptop.

“Pak. Saya ingin kejujuran dari Bapak,” kata istrinya ketika lelaki itu pulang tengah malam.
“Soal apa?” tanya lelaki itu penuh curiga.
“Apakah Bapak ikut dalam kelompok teroris yang melakukan pengeboman di kota?” selidik istrinya.
Lelaki itu kaget setengah mati. Jantungnya hampir copot.
“Saya sedang mencari surga, Bu,” jawabnya.
“Apakah dengan cara membunuh manusia yang tak berdosa?” tanya istrinya.
Dia hanya terdiam. Tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya. Malam makin hening. Rembulan makin menjauh.

Kelompok hitam yang diikutinya hari itu sukses melakukan aksi teror di sebuah mall kota. Penghuni kota ketakutan. Aparat keamanan disiagakan. Petinggi negeri pun mengecam keras aksi terkutuk itu.

“Kami mengutuk keras perbuatan tak berperikemanusian itu. Dan kepada aparat keamanan saya perintahkan untuk mengusut kasus ini. Dan kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali di negeri cinta damai ini,” ujar petinggi negeri yang disiarkan secara langsung oleh media televisi.

Dan seperti biasanya, usai melaksanakan lagi aksinya lelaki setengah baya itu pulang ke rumah saat orang-orang mulai ke pembaringan. Ia tidak sempat menemani anak dan istrinya. Selalu pulang tengah malam.

Namun tiba-tiba saja lelaki itu kaget setengah mati saat melihat orang-orang berkumpul di halaman rumahnya. Sejumlah aparat keamanan tampak berjaga. Sementara sebuah mobil ambulance terparkir di depan rumah.
Sejuta pertanyaan menggumpal dalam jiwa menyambut kepulangannya. Dadanya berdegup kencang. Langkahnya pun terburu-buru bak koruptor yang dikejar KPK.
Lelaki itu bergegas melangkah menuju rumah. Sejumlah warga menyongsongnya. Kesedihan tampak dari wajah-wajah para tetangganya. Mulai dari tetangganya, Pak RT hingga pejabat kabupaten berada di rumanya. Rumahnya ramai bak pasar malam.
“Ada apa ini, Pak?” ujarnya dengan sejuta tanya kepada orang-orang yang berkerumun di halaman rumahnya.
“Mohon Bapak bersabar dan tawakal atas semua ini,” jawab Pak Lurah dengan nada suara menghibur.
“Iya. Tapi apa yang terjadi dengan keluarga saya yang sebenarnya Pak?” tanyanya lagi penuh kebingungan.
“Istri dan anak Bapak menjadi korban bom di mall tadi siang,” ujar Pak Lurah. Mendengar itu dirinya langsung roboh di tanah.

###

Usai menjalani masa tahanan kurang dari lima tahun, lelaki itu kembali ke kampung halamannya. Lelaki itu bertekad untuk melawan aksi teroris sekaligus sebagai bentuk penyesalan yang teramat dalam terhadap kematian istri dan anaknya yang menjadi korban keganasan bom yang pernah dirakitnya. Lelaki itu terus bergerilya dari kampung ke kampung. Dari kota ke kota, dari lembah ke gunung. Dari sungai ke laut, dirinya terus mengkampanyekan tentang aksi melawan teroris.

“Menjadi pelaku bom bunuh diri bukanlah jalan menuju surga,” kampanyenya dengan suara bak orator. Menggelegar.

“Itu adalah dosa besar karena membunuh orang-orang tak bersalah. Melenyapkan nyawa manusia bukanlah tindakan terpuji,” ujarnya dengan nada garang.

Lelaki itu tertegun. Terbangun dari kisah duka. Kisah lama yang amat kelam. Bahkan teramat hitam dalam catatan sejarah perjalanan hidupnya di dunia ini.
Suara desis anjing liar yang mengejar mangsanya di hutan kecil samping rumah, mengejutkannya. Sementara suara reporter di televisi masih terus bergemuruh menyiarkan siaran langsung.

Lelaki itu masih terdiam di halaman rumahnya. Sediam alam raya. Pandangannya masih nanar. Teramat nanar. Tatapan matanya penuh kebencian yang mengalir dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ada kebencian yang belum tertuntaskan. Sementara desis suara anjing hutan masih mendengus mencari mangsa hingga cahaya mentari tiba. Toboali, Bangka Selatan. (**)

No Response

Leave a reply "Bilur Bilur Luka Mantan Pengantin"