by

Bidadari yang Menyembunyikan Sayapnya (Spesial Hari Ibu)

-Cerpen-290 views

Karya: R Sutandya Yudha Khaidar

Tahun ini aku menancapkan kaki berkalung usia dewasa. Masih menanak beribu-ribu harapan dan cita-cita. Beberapa diantaranya telah masak terkabul. Di sudut waktu dipinggir malam yang sunyi dan tanpa bintang.
Bersama sebuah buku berjudul ‘Bila Esok Ibu Tiada’ karangan Nagiga Nur Ayati aku kembara lembarannya. Khasanah terpampang memanjakan mata serta hati. Pikiranku menukik mengupas, mengurai teks-teks hasil kerja si pegarang.
Angin malam seakan memberikan ramuannya kepadaku untuk membantu memahami isi bacaan. Halaman per halaman berganti sisi hingga senarai kalimat menghantam tabir tebal benakku. “Sudahkah kado doa terangkai ikhlas buat Ibumu”.
Kalimat tersebut memaksaku tergagap, aku berhenti sejenak. Aku tak pernah lupa mendoakan ibu. Hanya saja momentum malam ini memaksa ingatanku berkelindan menerobos belantara kasih sayang seorang ibu. Sosok ibuku muncul kepermukaan menyeret cerita.
Sudah hampir setahun ini aku terpisah jauh dengan sosok ibuku. Semenjak kuliah aku memilih hidup sendiri di Kota Solo. Tempat dimana aku menuntut ilmu sekarang. Aku hidup sendirian di kost kecil yang hanya berukuran 3×4 meter. Tiada kehangatan dari seorang ibu yang jauh disana.
Aku tiba-tiba tersadar dari kebodohanku. Sebulan ini aku sangat sibuk, hingga aku melupakan kewajibanku. Aku jadi jarang menghubungi ibuku yang berada jauh di kampung. Aku selalu sibuk dengan kegiatanku di sini.
Bagaimana keadaan ibu? Aku pun tak tahu kabarnya. Tiga hari yang lalu aku bertindak bodoh, sontoloyo, goblok, tidak masuk di akal, atau apalah kata yang sejenis untuk mengungkapkannya. Aku sudah tega tak menjawab panggilan telepon dari ibuku. Pasti ia merindukan aku, putranya yang telah lama pergi untuk mengenyam yang namanya bangku universitas. Aku pun bertanya-tanya, bagaimana diriku bisa sekeji ini? Entah kenapa aku jadi seperti ini? Sedangkan pengorbanan ibu sangat besar untuk menyekolahkanku hingga aku bisa kuliahdi kota ini.
Keluargaku bukan orang yang berada. Ayahku hanyalah seorang pegawai negeri sipil biasa dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Bagaimana pengorbanan mereka untuk membahagiakan aku dan juga adikku sangatlah tiada terkira banyaknya.
Bagaimana keseharian ayahku yang membanting tulang untuk menafkahi keluarga. Mengurusi urusan birokrasi yang tiada henti, dimarahi oleh atasannya yang lebih tinggi, dikritik oleh masyarakat yang tak puas dengan kinerja birokrasi, padahal ia hanya mengikuti perintah dari para petinggi birokrasi yang se-enak hatinya sendiri. Juga bagaimana lelahnya ibuku yang rela mengurusi urusan rumah tangga dari pagi buta hingga malam yang sunyi menyapa.
Di sini, di sudut kamar yang sunyi ini aku hanya bisa menahan kerinduanakan mereka. Merasakan betapa dinginnya malam tanpa hangatnya kasih sayang keluarga. Terutama peluk hangat kasih sayang ibu yang teramat aku cinta.
Ingin rasanya aku memeluk beliau yang berada jauh di kampung. Mengucapkan segala kata maaf atas semua rasa bersalahku selama ini. Ingin rasanya aku membalas segalanya yang telah mereka berikan terutama, ibuku. Namun, semua itu sangat sulit ku kira. Pengorbanan dan kasih sayangnya tak kan mampu tertandingi oleh apapun yang ada di dunia.
Aku semakin menyadari betapa mereka, terutama ibuku adalah orang yang paling berharga di dunia ini. Semua tak akan mampu membalaskan jasanya.

Ibu, aku merindukanmu.
Aku ingin memelukmu. Aku ingin menumpahkan segala keluh kesah dan segala air mata kesedihanyang menggenang di pelupuk mata dalam pelukanmu. Karena aku tahu hanya kaulah yang paling mengerti akan diriku. Karena engkaulah segala kasih sayang yang mampu membuat kehangatan dalam hidupku.

Ibu, aku menyayangimu.
Rasa terima kasihku, tak akan pernah bisa membalas semua pengorbananmu. Aku ingin membalas semua ketulusanmu. Namun, aku tak tahu bagaimana caranya. Karena selama hidupku apa yang aku lakukan tak mampu membuatmu tersenyum. Aku hanya bisa membuatmu menangis dengan semua yang kulakukan. Dan semua itu terkadang tanpa ku sadari telah membuatmu menangis.

Ibu, aku mencintaimu.
Izinkanlah aku memelukmu, mencium kakimu. Di mana surgaku ada pada kakimu.
Ibu, sudikah kau memaafkanku?
Memaafkan segala dosa yang telah ku perbuat selama ini. Yang tak pernah luput dari kesalahan.
Ibu, terima kasih atas segala yang telah kau berikan untukku, putramu yang durhaka ini.
Ibu, engkaulah separuh nafasku dan juga hidupku ada pada dirimu.
Ibu, aku mencintaimu.

Di sudut waktu diujung malam yang semakin sunyi dan masih tanpa bintang.
Ku teteskan air mata rindu yang mengalir seakan tak mau berhenti. Ketika, aku menatap dalam-dalam gambar-gambar buram yang kian kusam dalam album yang berwarna hitam jelaga. Ku sentuh gambar-gambar itu dengan jari telunjukku secara perlahan-lahan, dengan menggunakan perasaan yang ku rasa semakin tak keruan. Semakin ku resapi kerinduan itu, semakin deras aliran air di pipiku. Aku rindu akan pelukan seorang wanita perkasa yang telah rela berjuang antara hidup dan matinya hanya untuk melahirkan seorang anak seperti aku. Seorang wanita yang rela bangun lebih awal dan tidur lebih lambat hanya untuk kebahagiaan keluarganya. Ya, itulah ibuku. Ibu yang terkadang aku sakiti dengan ucapan dan tingkahku.

Ibu, izinkan aku memeluk hatimu; Agar aku merasakan apa yang engkau rasakan dari sakit yang tak menangis. Bidadari yang menyembunyikan sayapnya itu engkau, IBU.
“Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak adalah sebuah bentuk kekuatan dan kesucian yang amat sulit diungkapkan.”

Selamat Hari Ibu – 22 Desember 2018

Comment

BERITA TERBARU