Bersama Membimbing Anak Belajar Selama Masa Covid-19

  • Whatsapp
Rusbeto, S.Pd.SD
Guru SD Negeri 16 Toboali, Bangka Selatan, Babel

Tidak ada yang tidak mungkin, segala sesuatu diluar dugaan bisa saja terjadi, kapan pun dan dimana pun. Salah satunya adalah kemunculan Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19) di akhir tahun 2019, tepatnya di bulan Desember, di Kota Wuhan, China.

Di awal tahun 2020, virus ini mulai menyebar ke negara-negara lain. Amerika Serikat, Spanyol, Brasil, Italia, Iran, dan beberapa negara lainnya ikut tertular dengan jumlah korban yang tidak sedikit. Dan pada bulan Maret 2020, negeriku tercinta Indonesia pun ikut tertular. Saat ini covid-19 telah menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat, sehingga World Health Organization(WHO) menetapkan wabah ini sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020.

Masa inkubasi covid-19 yang kurang lebih dua minggu menyebabkan sulitnya mendeteksi orang yang telah terpapar virus ini. Sehingga ketika orang yang telah terpapar berinteraksi dengan orang lain, terlebih dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya, maka dengan cepat virus ini menyebar kepada orang lain.

Penularan melalui kontak antar manusia yang sulit diprediksi akibat kegiatan sosial yang tidak bisa dihindari menjadi faktor penyebab utama menyebarnya Covid-19. Selain itu, belum ditemukannya obat penawar dan membludaknya jumlah pasien membuat rumah sakit dan paramedis kewalahan, sehingga banyak pasien yang tidak tertangani dengan baik, yang menyebabkan jumlah kematian terus meningkat. Bahkan beberapa dokter dan perawat pun ikut menjadi korban.

Baca Lainnya

Sulitnya penanganan wabah ini, membuat para pemimpin dunia menerapkan kebijakan yang super ketat untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Salah satunya adalah social distancing yang selanjutnya diganti dengan istilah phisycal distancing, yaitu salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus corona dengan menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Ketika menerapkan phisycal distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita Covid-19.

Selain itu, ada beberapa penerapan phisycal distancing lainnya yang umum dilakukan, yaitu bekerja dari rumah (work from home); belajar di rumah secara online bagi siswa sekolah dan mahasiswa; menunda pertemuan atau acara yang dihadiri orang  banyak,  atau melakukannya secara online lewat konferensi video atau teleconference; tidak mengunjungi orang yang sedang sakit, melainkan cukup melalui telepon atau video call.

Penerapan physical distancing ini, tentu memberikan dampak diberbagai bidang kehidupan, salah satunya adalah di bidang pendidikan. Sekolah ataupun perkuliahan terpaksa diliburkan sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Namun, proses pembelajaran tetap harus dilakukan secara mandiri di rumah melalui media online atau daring (dalam jaringan).

Bagi sebagian siswa belajar mandiri tidaklah mudah dilakukan, terutama bagi mereka yang belum memiliki sarana dan prasana yang memadai. Apalagi bagi mereka yang tinggal di pedesaan dengan keterbatasan jangkauan internet dan ekonomi yang lemah sulit membeli paket internet/pulsa atau bahkan tidak memiliki hp untuk dapat berkomunikasi dengan guru atau pun teman sekolahnya dari rumah, dan rendahnya kemampuan dalam  penguasaan perangkat teknologi. Hal ini akan menimbulkan dilema dan permasalahan baru dalam menerapkan belajar mandiri.

Selain itu, belajar mandiri tentunya memberikan nuansa baru dalam proses pembelajaran, dimana biasanya para pelajar belajar di kelas bersama guru di sekolah diganti dengan belajar mandiri di rumah. Bagi pelajar sekolah menengah pertama sampai perkuliahan mungkin tidak begitu masalah, karena mereka lebih bisa mandiri. Apalagi di dukung dengan adanya media atau sarana yang memadai, seperti handphone ataupun laptop yang bisa mengakses internet.  Akan tetapi, bagi siswa sekolah dasar belajar mandiri di rumah ini, tentu saja memberikan nuansa yang sangat berbeda. Di mana peran guru di sekolah diganti dengan  orang tua ataupun saudara dalam menemani dan membimbing mereka belajar di rumah. Nah, hal inilah yang menjadi fokus penulis dalam tulisan ini.

Seiring dengan merebaknya Covid-19, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Komisi X  DPR RI  meminta lembaga penyiaran publik TVRI memberikan slot tayang untuk program belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19. Sejak April lalu, TVRI telah menyiarkan program belajar dari rumah yang dimulai dari pukul 08.00-23.00 WIB. Melalui siaran TVRI ini, diharapkan turut membantu proses pembelajaran di rumah. Dalam aktivitas tersebut tentunya pendampingan dari orang tua sangatlah diperlukan, karena dikhawatirkan mereka mengubah channel lain yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran ataupun muncul siaran-siaran negatif yang berdampak buruk bagi anak.

Jika anak belajar di rumah didampingi, dibimbing, dan diperhatikan dengan baik oleh orang tua, baik kedua-duanya ataupun salah satunya, tentu hasil yang diharapkan akan lebih maksimal. Hubungan antara orang tua dengan anak pun menjadi lebih akrab. Namun, jika sebaliknya, tentu hasilnya akan berbanding terbalik.

Biasanya ketika anak berangkat ke sekolah, orang tua pun berangkat kerja. Sekarang semuanya harus berada di rumah. Anak tidak sekolah dan orang tua pun tidak bekerja. Akan tetapi, kebersamaan ini tidak menjamin bahwa orang tua dapat membimbing  anaknya dalam belajar di rumah dengan baik.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang tua tidak dapat mendampingi ataupun membimbing anak belajar di rumah dengan baik. Adakalanya orang tua punya kesibukan lain. Misalnya, seorang ibu yang sibuk mengurus anak-anaknya yang lain, terutama jika ada anak kecil, mengerjakan pekerjaan rumah, dan lain sebagainya. Selain itu, kadang kala orang tua tidak memiliki kemampuan dalam mengajar, baik dalam hal penguasaan materi ataupun cara yang tepat dalam membimbing anak belajar. Tentu dibutuhkan cara yang tepat dan kesabaran agar anak merasa asyik dan betah belajar bersama orang tua. Namun, faktanya tidak sedikit orang tua yang dapat mengontrol emosinya dengan baik ketika anak sulit belajar ataupun malas mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Permasalahan tersebut juga diperparah dengan kondisi orang tua yang belum bisa menggunakan hp sebagai media penunjang anak belajar dari rumah.

Dalam penerapan belajar dari rumah ini, terkadang tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya sebagian menuntut anak harus keluar rumah untuk membeli pulsa/paket internet. Apalagi tugas harus dikumpulkan secara online. Tidak sedikit orang tua yang tertipu. Kadangkala ketika tugas hendak dikumpulkan secara online dengan menggunakan hp atau laptop ternyata banyak dari mereka menjadikan hp/laptop untuk bermain game. Tentu ini menjadi tantangan baru bagi orang tua.

Namun sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan adanya orang tua yang mengeluh, yang merasa tidak sanggup, bingung, pasrah, bahkan ada yang enggan mendampingi anak belajar di rumah. Padahal kalau dibandingkan dengan peran guru yang hampir setiap hari Senin-Sabtu, dari mulai pukul 07.00–13.00 WIB selalu mendidik, membimbing, dan mengajarkan anak-anak, tentu tidak akan sebanding. Kita tahu selama ini, tidak sedikit orang tua yang melaporkan guru ke pihak berwajib hanya karena masalah sepele dalam memberikan hukuman terhadap anak mereka di sekolah. Bahkan, ada yang melakukan tindakan kekerasan terhadap guru hanya karena tidak terima anaknya di jewer atau sanksi ringan lainnya.

Patutkah tindakan orang tua di atas dilakukan? Bagi orang tua yang hanya membimbing anak tak lebih dari sepuluh anak sekaligus di rumah, tentu tak akan menyamai beban guru dalam mengajar dan mendidik anak di kelas dengan kisaran 24-32 siswa per kelas. Tentu kesulitan guru jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, orang tua diharapkan harus bisa memahami kesulitan para guru dalam mendidik dan mengajar anak-anak mereka di sekolah. Sehingga tidak asal menyalahkan dan menyerahkan pendidikan anak hanya pada guru di sekolah saja.

Nah, di masa Covid-19 ini, orang tua diberikan kesempatan yang lebih dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Tentu setiap anak terkadang mengalami berbagai masalah saat belajar. Oleh karena itu, orang tua berperan penting dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Misalnya ketika anak tidak tertarik untuk belajar, maka orang tua berperan agar bisa membuat anaknya menjadi tertarik untuk belajar dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selanjutnya, ketika anak sulit memahami pelajaran, maka orang tua harus membimbing anak agar mudah memahami pelajaran. Ketika anak mengalami kendala dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, terutama yang berkaitan dengan psikomotorik, maka orang tua harus turut membantu menyelesaikan atau membantu menyiapkan keperluan yang dibutuhkan. Ketika anak belajar melalui media internet/TV, maka orang tua harus turut mendampingi anak. Permasalahan lainnya yang mungkin terjadi pada anak ketika belajar di rumah, maka orang tualah yang berperan penting dalam membantu mengatasi permasalahan tersebut.

Mari kita bersama-sama orang tua dan guru mendidik dan membimbing anak-anak kita belajar  di rumah selama masa Covid-19 ini, dengan baik, agar mereka menjadi generasi penerus bangsa yang unggul. Akhirnya, setiap apa yang kita alami pasti memiliki hikmah yang tersembunyi. Kita  tidak boleh mengeluh dan pasrah, melainkan harus tetap berjuang, berusaha, dan berdoa agar musibah ini cepat berlalu. Setiap musibah yang diberikan pasti ada solusinya dan hikmahnya. Semoga pendemi Covid-19 cepat berlalu. Aamiin. (***).

Related posts