Bersama Kita “Pacak” Melawan Covid-19

  • Whatsapp
Rusmin
Penulis Buku Tinggal di Toboali

Hingga hari selasa (12/5/2020) kemarin, sedikitnya 1007 warga yang terinfeksi Covid-19 wafat. Dan semenjak diumumkan 2 Maret lalu, sedikitnya 14, 747 warga bangsa yang terkonfirmasi infeksi Covid-19 dengan jumlah pasien yang sembuh telah mencapai angka 3.063 pasien. Sementara pasien yang dirawat mencapai angka 10.679 pasien. DKI Jakarta adalah Provinsi yang paling tinggi angka warga yang positif Covid-19 sebanyak 5.375 orang.

Dampak dari virus Covid 19 ini, sedikitnya 4 Provinsi dan sebanyak 77 Kabupaten dan Kota di Indonesia telah mengaplikasikan Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB). Dalam ilmu kebijakan publik, setiap kebijakan harus mempertimbangkan segala aspek. Kebijakan menghentikan beberapa aktivitas harus diikuti dengan kebijakan lain. Misalnya, kebijakan libur sekolah, harus dipikirkan bagaimana mengisi waktu libur. Jangan sampai, waktu libur sekolah digunakan untuk berkunjung ke satu tempat, baik itu wisata atau ke daerah ibu kota Provinsi. Pemutusan penyebaran virus sangat penting, namun memastikan masyarakat tetap bisa menjalani hidup juga tak kalah penting dan urgensial.

Read More

Pendemi Covid -19 sangat berdampak kepada sektor ekonomi masyarakat dan bangsa Indonesia yang menurun. Ekonomi global dipastikan melambat, menyusul penetapan dari badan PBB WHO yang menyebut dampak virus Covid 19 sebagai pendemi yang mempengaruhi dunia usaha. Bahkan Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini akan tertekan di level 2,1%. Pendemi Covid 19 berimplikasi buruk dan kurang menyenangkan bagi perekonomian dunia dan Indonesia, karena terjadi bersamaan dengan menurunnya harga komoditas dan gejolak pasar keuangan.

Di Indonesia, pemerintah mencoba melakukan berbagai upaya untuk menekan dampak virus Corona bagi perekonomian bangsa dan masyarakat. Beberapa stimulus diluncurkan, bahkan Presiden Jokowi meminta semua pihak untuk melakukan sosial distancing, termasuk Work From Home hingga langkah kebijakan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar.

Dari fenomena dan diskursus di atas, tampaknya kita semua sebagai elemen bangsa harus bersiap menghadapi situasi yang akan terjadi. Untuk itu, semua elemen bangsa, mulai dari Presiden hingga rakyat jelata harus bersatu padu. Harus dalam satu irama dalam menghadapi virus Corona ini. Tak perlu lagi ada narasi yang berbalut pencitraan yang berselancar di ruang-ruang publik. Pemilihan Presiden masih jauh. Masih empat kali Bulan Ramadan lagi. Masih empat tahun lagi. Masih 2000 hari lagi. Masih 48 bulan lagi. Masih jauh. Bahkan teramat sangat jauh.

Tak perlu lagi ada akrobatik kata-kata yang berkeliaran di dunia maya dan media sosial yang berbungkus pencitraan. Ini bukan soal politik. Ini tentang kemanusiaan. Ini tentang hak hidup. Tentang hajat hidup publik. Tentang hak sehat warga bangsa yang wajib dilindungi dan terlindungi oleh negara. Di depan mata kita dan kekinian, rakyat butuh aksi nyata dari para pemimpin bangsa dan daerah untuk bersama-sama mencari solusi terbaik dalam melawan virus Corona.

Rakyat butuh solusi dan solusi yang dapat menghentikan penularan virus Corona, sehingga kehidupan (perekonomian) masyarakat kembali normal seperti sediakala. Masyarakat bisa bekerja, berkarya dan berpenghasilan sebagaimana sedia kala. Rakyat tidak butuh narasi yang berbungkus pencitraan dari pemimpin. Kita tahu, bahwa bangsa ini bangsa besar. Itu adalah sebuah aksioma. Diakui bangsa-bangsa luar. Diakui dunia internasional. Bangsa yang mampu bangkit dari ketertindasan kaum imperialis yang menjajah. Bangsa yang mampu meraih kemerdekaan dengan semangat patriotisme. Semua itu bisa diperoleh karena semua elemen bangsa bersatu padu melawan jahatnya kaum Kolonialisme yang menjajah dan menghisap darah Ibu Pertiwi.

Belajar dari sejarah dan pengalaman para pendahulu kita, sudah saatnya kita mengadopsi kerja nyata dan aksi nyata dari para pendahulu kita dalam mengusir kaum penjajah dari Ibu Pertiwi dengan cara semua elemen bangsa bersatu padu dengan menghilangkan ego sektoral. Apalagi merasa paling hebat dan pintar serta cerdas. Kini saatnya Presiden hingga kaum jelata di negeri yang gema ripah loh jinawi ini bersatu padu dan bekerja sama melawan virus Covid-19 dengan terus mengaplikasikan semua arahan protokol kesehatan yang telah disepakati bersama. Mulai dari menjaga kesehatan dengan mencuci tangan hingga pengaplikasian sosial distancing. Saatnya bersatu padu dan saling bersinergi serta bekerja sama.

Penulis sangat percaya aroma persatuan dan kebersamaan kita sebagai bangsa menjadi jalan terang bagi kita, untuk menaklukan penularan virus Corona ini. Dengan catatan tentunya semua pihak bekerja dengan ikhlas, membangun empati antar sesama, dan tentunya tidak mengekploitasi situasi untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Penulis yakin kita “pacak” (bahasa Toboali: Bisa) melawan virus Corona. Sangat pacak. Mengusir kaum penjajah dari Bumi Pertiwi saja kita mampu. Dengan semangat kebersamaan dan bermodalkan spirit persatuan bangsa, ayo kita “pacak” melawan virus Covid-19 dari Bumi Pertiwi. Dan kita “pacak”.(***).

JustForex

Related posts