Berobat, Warga Cukup Bayar dengan Sampah

  • Whatsapp

Mungkin masyarakat Toboali belum banyak yang mengenal Bank Sampah Pondok Mandiri. Bank sampah yang didirikan sejak 26 Desember 2016 lalu telah berhasil memiliki nasabah bank sampah mencapai 159 orang yang tersebar di Toboali.

Bahkan satu dari nasabahnya telah berhasil menabung sampah senilai Rp499 ribu rupiah. Bukan itu saja, bank sampah yang digawangi oleh Roby Andrian dan Gito ini telah mampu melaksanakan sepuluh program mulai dari berobat bayar sampah, bimbel pondok mandiri (belajar bawa sampah), tabungan hari raya (THR), Kakus (kotak amal khusus sampah), pinjam uang bayar sampah (jamu basah), alat pembayaran dari sampah, arisan sampah, apotek pondok mandiri, from trash to gold hingga butik daur ulang.

“Berawal dari keinginan kita untuk mengelola sampah, kita mencoba belajar untuk mengelola sampah secara efektif, coba buka di internet, berkomunikasi dengan tim kuning Pemkab Basel, dan akhirnya kita berdiskusi dengan Ketua TP PKK Basel Ekawati Justiar, kemudian kita laksanakan HPSN tahun 2016 lalu, yang awalnya baru terbentuk 5 bank sampah di Basel,” ujar Robi didampingi Gito dan aktivis peduli sampah Bank Sampah Pondok Mandiri, Minggu (26/2/2017).

Keinginan Roby dan Gito tak hanya membangun bank sampah yang sekadar membeli dan menjual sampah saja, tetapi keberadaan bank sampah mampu memberikan nilai edukasi kepada masyarakat.

“Seperti bimbel pondok mandiri, mengajarkan siswa untuk membawa sampah pada saat bimbel, ada inovasi dan kreasi dengan berobat membayar sampah. Kita bekerja sama dengan dokter di Toboali, warga cukup membayar dengan sampah dan bisa berobat dengan dokter yang telah bekerja sama dengan kita, begitu juga dengan delapan program lainnya, hanya program from trash to gold yang belum maksimal berjalan,” kata Gito.
Di sisi lain, kata Roby, Bank Sampah Pondok Mandiri juga membina beberapa pengrajin di Toboali yang hasil kerajinannya bisa ditukarkan dengan sampah.

“Kita melakukan butik daur ulang, kita survei dan bina pengrajin, kita fasilitasi, bantu bahannya, dan hasil kerajinannya kita jual dengan menukarkan sampah. Seperti Minggu lalu, kita ajak masyarakat memilah sampah, menukarkan sampah mereka dengan air fusui. Karena pada dasarnya sampah itu bernilai, tinggal bagaimana kita dapat mengelola dengan baik sampah organik anorganik,” jelas Robi.

Ia juga menyebutkan, beberapa waktu lalu komunitas sampah di Sungailiat Bangka pernah melakukan studi banding pengelolaan sampah ke Bank Sampah Pondok Mandiri. Saat ini, Bank Sampah Pondok Mandiri sekretariat di Kampung Padang. Sedangkan pusat edukasinya terletak di Lapangan Bola Kampung Bukit dan gudang penampungan di Teladan Toboali.

Roby dan Gito mengaku, atas jerih payahnya mengumpulkan sampah mereka tidak digaji. “Ini murni karena kesadaran kita untuk mengolah sampah dengan baik dan bagaimana memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat memilah sampahnya,” ujar Roby yang merupakan tenaga kontrak di Satker Pengelola Sanitasi Provinsi Babel Kemenpera RI ini.

Hal senada dikatakan Gito, para pelaku Bank Sampah Pondok Mandiri tidak pernah berbicara frofit. Semuanya karena keinginan bersama untuk mewujudkan pendidikan pengelolaan sampah yang baik dan benar.

“Berbicara profit jauh sekali, yang utama adalah sosial dan edukasi kepada masyarakat, keuntungan yang didapat dari menjual sampah ini, kita kembalikan ke kas Bank Sampah, dan Alhamdulillah, setiap kegiatan yang kita lakukan, kita tidak pernah meminta bantuan. Hasil dari pengelolaan sampah kita masukan ke kas dan kita gunakan untuk kegiatan kita. Secara rutin setiap minggu kita menjemput sampah di rumah nasabah kita, dan kita mendapatkan bantuan dari Pemkab Basel 1 unit motor sampah dan mesin kompos,” kata Gito yang bekerja sebagai PNS di BKD Basel ini.

Ketekunan keduanya, mengelola Bank Sampah Pondok Mandiri cukup diakui. Selain sering diundang menjadi narasumber baik di sekolah maupun di lingkungan komunitas, Gito juga pernah diundang menghadiri Jambore Pengelolaan Sampah Nasional oleh Kementrian Lingkungan Hidup.

Sedangkan Roby diundang Presiden RI untuk mengikuti pertemuan Gerakan Masyarakat Sehat Nasional. “Saat ini, ada sekitar 40 warga binaan kita yang melakukan pemilahan sampah. Ada disabiltas serta masyarakat sosial, mereka cukup membuka plastik pada minuman, dan itu harganya Rp1000 rupiah perkilogramnya,” terang Roby.

Ia berharap, masyarakat Basel semakin menyadari bahwa mengelola sampah dengan benar selain sangat bermanfaat juga mampu menciptakan lingkungan yang bersih. “Tinggal dipilah di rumah, kemudian sampah di tabung, agar ada keuntungannya. Organik dikelola dengan bio pori, dan anorganik ditabung di bank sampah, bermanfaat bagi keluarga, dan lingkungan kita bersih dan sehat. Mari kita mulai dari sekarang,” seru Roby seraya menyebutkan saat ini Bank Sampah Pondok Mandiri sedang mengikuti Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Sinopik 2017 di Kemenpan RB RI.(raw/3).

Related posts