Berburu Belut di Sawah Kemuja

No comment 409 views

Tiga bocah Desa Kemuja, dengan riang sambil bermain berkubang lumpur berburu belut di persawahan, kemarin, Minggu (7/5/2017). (Foto: Lutfi)

Wisata Edukasi Anak & Kearifan Lokal

Hari Minggu, biasanya dimanfaatkan masyarakat urban untuk bersantai, membersihkan rumah, jalan-jalan hingga berwisata. Berbeda dengan masyarakat desa, yang memanfaatkan hari libur pergi ke kebun atau bertani. Jika anak-anak urban bermain ke arena permainan, anak desa justru memancing atau menangkap belut.
Hal ini seperti dilakukan anak-anak di Desa Kemuja, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Menangkap belut atau biasa disebut masyarakat desa itu dengan kata Murek Belut atau Lenjing, sudah menjadi tradisi sawahan. Bahkan, tidak hanya anak-anak saja yang suka bermain kubangan lumpur di areal persawahan Desa Kemuja saat mencari belut, orang dewasa pun sering terlibat.
Mukmin (36), warga Kemuja malah mengaku hampir setiap hari Minggu ia bersama keponakan dan anak-anak desa mencari belut di areal persawahan. Menurutnya, menangkap belut gampang-gampang susah.
“Kita ramai-ramai, basah-basahan berusaha mencari belut di dalam tanah atau lumpur kadang dapat kadang tidak. Karena menangkap belut ini susah-susah gampang, karena kalau sudah dapat juga, kadang lepas lagi, karena tubuhnya yang licin,” ungkap Mukmin saat ditemui di persawahan Desa Kemuja, Minggu (7/5/2017).
Pegawai Dinas Pangan Kabupaten Bangka ini menceritakan, ia sering menangkap belut karena hobi dari sejak kecil. Seperti memancing, menurutnya ada seninya juga dalam menangkap belut ini.
“Kita tidak tahu, ada apa gak ada belut, jadi pakai raba-raba. Kadang pakai umpan juga dengan ikatkan di tali nilon, masuk ke lubang, syukur-syukur dimakannya,” urainya.
Mukmin menjelaskan, mencari belut ini merupakan salah satu kearifan lokal yang masih dilestarikan sebagian besar masyarakat desa. Anak-anak desa sambil bermain air, sering memanfaatkan waktu libur sekolahnya dengan mencari belut dan memancing ikan.
“Kadang lumayan dapatnya, belut ini mengandung protein hewani yang tinggi, masaknya digoreng, bisa juga dibakar seperti lele, pokoknya makyuss lah,” ujarnya.
Selain menangkap belut, masyarakat desa juga kerap memanfaatkan waktu libur dengan mencari uyep atau udang kecil di sungai-sungai yang mulai mengering. Bahkan biasanya kegiatan itu dilakukan ibu-ibu dan anak perempuan.
“Kalau air sungai mulai kering, biasanya banyak yang nanggok (menangkap) ini, uyep atau udang yang jadi incaran para ibu dan anak perempuan. Uyep ini bersembunyi di dedauan ramon atau tumbuhan air lainnya,” katanya.
Diuraikan Mukmin, menanggok ini biasanya menggunakan sauki besar atau terkadang juga tudung saji plastik yang lubangnya kecil-kecil supaya udang tidak lepas.
“Sekali nanggok (tangkap) banyak yang dapat, kalau lagi musim, bisa sampai ratusan kilo uyep atau udang kecil didapat, bisa untuk dikonsumsi sendiri, namun banyak yang dijual juga,” tukasnya.
Uyep atau udang kecil yang tinggi protein ini biasanya dimasak untuk dibuat bakwan udang, campuran lempah darat dan pakanan lauk lainnya.
“Lumayan murah harganya, biasanya dijual per kaleng susu atau canting dijual Rp4000 hingga Rp6000, atau bisa juga per bungkus kantong plastik,” imbuhnya.
Sama halnya dengan berburu belut, menanggok uyep ini merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Bangka, terutama di Desa Kemuja. Ada gerakan seni dalam mencari uyep ini.
Karena itu, Mukmin berharap, mencari belut dan uyep selain untuk mengisi waktu libur, dapat dijadikan wisata edukasi bagi anak-anak. Sebab selain bermain, kegiatan ini juga mengandung unsur wisata atau kesenangan bagi anak-anak untuk lebih dekat dengan alam dan lingkungan.
“Kita berharap kegiatan ini tidak punah, dan terus dilestarikan, apalagi sering dilakukan masyarakat desa kita, bisa untuk wahana edukasi juga,” tukasnya. (Lutfi)

No Response

Leave a reply "Berburu Belut di Sawah Kemuja"