Bentuk Taubat, Tunduk Syariat

No comment 419 views


Oleh: Mahbub Zarkasyi

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar”. (TQS. Annisa [4]: 146)

 

Mahbub Zarkasyi

Sebagai manusia biasa yang tak ma’sum, kita tak luput dari khilaf, salah dan dosa. Seringkali kesalahan dan dosa-dosa manusia menjadi hijab antara seorang hamba dengan penguasa langit dan bumi serta hari pembalasan. Bisa jadi mereka diberikan harta yang berlimpah dan kedudukan yang tinggi, namun hatinya kosong dari keimanan. Hati-hati, jangan-jangan itu adalah istidraj dimana manusia diberi kenikmatan dunia, sehingga mudah bagi Allah untuk mengazabnya di akhirat nanti atas kekufurannya.

Mewaspadai Dosa
Banyak kesalahan dan dosa di sekitar kita yang sangat mungkin kita terlibat di dalamnya. Ada dosa kepada Allah secara langsung, dosa kepada diri sendiri dan dosa karena berinteraksi dengan orang lain.
Yang pertama, Dosa kepada Allah secara langsung seperti berbuat syirik dimana seorang muslim yang bersekutu dengan bangsa Jin. Bentuknya pun beragam, berobat, minta kekayaan menyembah selain Allah, menggunakan jimat yang diisi dengan jin, minta pertolongan Jin dalam mencari sesuatu, meruqyah dengan mengusir jin atas bantuan jin lainnya dan lain-lain. Selain itu, dosa kepada Allah secara langsung bisa berupa meninggalkan ibadah yang telah di fardukan kepada kita seperti, kafir; tidak mendirikan shalat; tidak menunaikan shaum ramadhan dengan sengaja tanpa uzur syar’i; tidak membayar zakat (seperti zakat fitrah, zakat harta, pertanian, perdagangan, peternakan, dll); tidak menunaikan ibadah haji padahal ia mampu menunaikannya.
Yang kedua, Dosa yang perlu diwaspadai adalah dosa terhadap diri sendiri. Banyak kaum muslim termasuk ahli ibadah juga lalai terhadap dosa ini. Seorang muslim wajib menutup aurat, bagi seorang laki-laki tidak halal memperlihatkan auratnya yaitu dari pusar sampai lutut kepada yang bukan mahramnya. Namun, tak jarang kita menyaksikan kaum muslim yang tak malu ketika berolahraga di tempat umum menggunakan celana pendek di atas lutut. Begitu juga seorang muslimah yang diwajibkan menutup aurat yaitu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya dengan mengulurkan kerudung hingga kedada dan mengulurkan Jilbab keseluruh tubuhnya. Terlepas ia diganggu atau tidak walau mengumbar aurat, namun ketika ia hidup dikehidupan umum bersama manusia lainnya yang bukan mahramnya, maka ia akan ditimpakan dosa. Selain berpakaian, akhlaq seorang muslim kepada orang tua dan manusia lainnya harus dijaga dengan standar syariat islam. Juga terkait makanan dan minuman, banyak kaum muslim yang tak peduli apa yang dimakannya halal atau haram. Memang, sebagian besar kaum muslim masih menjaga diri dari zat yang telah diharamkan seperti khamr dan babi. Namun, banyak lagi yang tak peduli harta yang didapatkan walau dari jalan yang diharamkan seperti jalan ribawi, rasywah (suap-menyuap), dan harta yang diperoleh dari jalan transaksi fasad (rusak) lainnya.
Dan dosa yang ketiga yaitu dosa dalam berinteraksi kepada manusia lainnya. Dalam aspek pergaulan, kawula muda biasa berinteraksi dengan lawan jenis dengan khalwat (berduaan) atas nama pacaran dan lain sebagainya. Apalagi dalam kehidupan yang bebas saat ini, ikhtilath (campur baur tanpa ada kepentingan yang dibenarkan syariat) seolah menjadi suatu keharusan, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meralangnya. Tempat-tempat prostitusi pun bertebaran dimana-mana; Dalam aspek ekonomi terlibat ribawi dan lembaga keuangan ribawi pun dilegalkan; Aspek politik, seperti kepemimpinan orang-orang kafir terhadap kaum muslim, mereka tak peduli lagi. Bahkan mencari-cari dalil untuk berdalih mendukung mereka. Kepemimpinan di negeri kaum muslim oleh pemimpin-pemimpin muslim, tak mendasarkan pada syariat Islam banyak yang tutup mata; apalagi aspek peradilan, hukuman yang diberlakukan hampir tak menyentuh syariat islam, malah berhukum dengan hukum penjajah yang mereka banggakan. Bila dosa individu yang dilakukan oleh ia sendiri, maka ia menanggung dosanya sendiri. Bagaimana dengan dosa seorang yang memberi jalan kepada kemaksiatan, mereka yang berkuasa membiarkan kemaksiatan, mereka yang berkuasa melegalkan bahkan memaksakan untuk kaum muslim bermaksiat kepada Allah? sungguh dosa orang-orang yang bermaksiat akan menimpa orang-orang yang memberikan kebijakan dan membiarkan kekuasaannya diam atas kemaksiatan.

Mari Bertaubat
Kita makhluk yang tak maksum atas menuruti hawa nafsu mendzalimi dirinya sendiri hingga melampaui batas dan pelanggaran terhadap syariat-Nya tentu banyak dosa yang telak kita lakukan. Tak perlu kita berputus asa terhadap rahmat-Nya. Allah SWT telah berjanji sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an al-Kariim sebagaimana firman-Nya,
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus-asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (TQS az-Zumar [39]: 53).
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidaklah membenci hamba-Nya kecuali hamba-hamba-Nya yang tetap ingkar dan terus dalam kekafirannya. Namun, ampunan-Nya jauh lebih besar dan luas, karena Dia adalah Maha Pengampunan, Maha Penerima taubat hamba-Nya yang bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Maka tidak sepantasnya kita berputus asa dari ampunan yang merupakan rahmat dan kasih-sayang-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh mendahului qadha Allah SWT dengan menyatakan kepada pelaku dosa termasuk kepada diri kita sendiri berputus asa bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni dosa kita. Sabda Nabi SAW dari Jundab ra,
“Sesungguhnya pernah ada seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Lalu Allah SWT berfirman kepada orang itu, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku dengan menyatakan bahwa Aku tidak akan mengumpuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengumpuni dia dan membatalkan amal kamu.’” (HR Muslim).
Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani menjelaskan mengenai hadits tersebut, bahwa Allah SWT membatalkan pahala seluruh amal orang itu karena murka terhadap orang tersebut. Pasalnya, dia telah menghalangi seseorang dari luasnya rahmat dan ampunan Allah SWT, dan dia tidak menyukai untuk hamba-Nya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri (dalam hal ini ampunan Allah SWT, pen). (Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani, Mukaffirat ad-Dzunub wa Mujibat al-Jannah, I/8).
Sungguh luasnya ampunan Allah SWT hingga Dia tidak memperdulikan dosa-dosa yang telah dilakukan oleh hamba-hamba-Nya walaupun seluas langit dan bumi dan kemudian memohon ampunan-Nya. Namun, taubat yang sesungguhnya adalah orang yang berdosa kemudian bertaubat dengan tidak menyekutukan Allah SWT dengan selain-Nya.
Rasulullah SAW bersabda yang dituturkan dari Anas bin Malik ra, “Allah SWT berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu berdoa dan berharap kepada diri-Ku. Aku pun telah mengampuni dosamu dan aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, andai dosa-dosamu setinggi  langit, lalu kamu memohon ampunan kepada diri-Ku, Aku pasti akan mengampuni kamu atas dosa-dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, andai kamu mendatangi Aku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu kamu datang kepada diri-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan apa pun, Aku pasti akan mendatangi kamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR at-Tirmidzi).

Tunduk Syariat
Kita tentu tidak asing dengan Nama ‘Umar ibn al-Khaththab ra. Kita pun tau bagaimana beliau ketika masih menjadi bagian dari musyriqin Quraisy. Bagaimana beliau begitu keras menentang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam hingga membawa pedang untuk membunuhnya. Bagaimana beliau memukul adik kandungnya Fatimah binti Al-Khaththab ra yang didapati telah masuk Islam dan sedang mempelajari dan Al-Qur’an. Namun, ketika beliau masuk Islam langsung tunduk pada Syariat. Begitu juga dengan sosok Khaliq bin Walid ra, tentu kita sangat mengenal beliau. Begitu juga ketika beliau menjadi Amirul mu’minin, khalifah kedua pengganti Abu Bakar Asysyiddiq, tiada hukum yang diterapkan kecuali didasarkan kepada hukum Syariat. Begitu juga beliau diingatkan ketika keliru dalam menetapkan/membatasi mahar kaum wanita, beliau langsung tunduk pada Syariat Allah.
Khalid bin Walid pernah mengalahkan perang kaum muslimin dan memukul baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam hingga tanggal giginya. Tapi, ketika beliau masuk Islam, beliau selalu terdepan berperang menjaga Islam dan menebar dakwah Islam ke dada manusia di negeri-negeri lainnya. Atau sosok Wahsyi ketika menjadi pasukan musyriqin Quraisy yang telah membunuh penghulu syuhada, pamannya Rasulullah yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Namun, ketika masuk Islam beliau bergabung di dalam pasukan kaum muslimin dan berhasil membunuh nabi palsu Musailamah al-Kazzab.
Pelajar berharga bisa kita ambil dari cerita shahabat yang telah berzina. Apa yang mendorong mereka untuk mengakui kesalahannya walau harus dirajam sampai mati? Tiada lain, karena dorongan aqidah dan tunduk syariat. Bentuk taubat atas perbuatan zina yang telah mereka lakukan, mereka menuntut untuk diterapkan syariah Allah atas diri mereka dan penebus dosa mereka.
Kita pun diwajibkan tunduk pada syariat Allah, karena di hari pembalasan nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan kita dengan standar Syariat Islam. Setiap diri adalah pemimpin atas anggota tubuhnya, maka kerjakan perintah Allah dan jauhi segala larangannya. Begitu juga seorang pemimpin keluarga akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa saja yang menjadi tanggungannya. Maka, tak cukup hanya menjaga diri sendiri, namun ia juga harus menjaga ahlul baitnya untuk taat dan patuh kepada Allah, termasuk pemimpin umat, tentu ia punya tanggung jawab yang lebih besar. Karena setiap kebijakannya akan berpengaruh terhadap prilaku rakyatnya. Ketika ribawi dilegalkan, bayangkan betapa besar dosa riba yang akan ditimpakan kepadanya. Ketika rakyat yang dipimpinnya maksiat, kemudian kekuasaanya membiarkannya, bayangkan dosa yang akan ia tanggung akan semakin besar. Semakin besar kekuasaan yang ia pimpin, maka akan semakin berat hisabnya di akhirat nanti.

Khatimah
Kita sebagai manusia yang tak luput dari dosa sudah sepantasnya banyak bertaubat kepada Allah. Rasulullah SAW yang terpelihara (ma’sum) dari dosa telah mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh memohon ampunan-Nya. Walaupun beliau SAW ma’sum namun tetap bersungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda beliau, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah SWT dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR al-Bukhari).
Maka, mari kita penuhi tuntutan Syariat Islam apapun posisi kita. Bila kemaksiatan yang banyak diinvestasikan, maka dosa akan di tanggung. Begitu juga sebaliknya, bila seluruh kepemimpinan dan kekuasaan kita dalam rangka tunduk dan patuh terhadap syariat Allah, maka investasi pahala berlipat ganda akan kita raih. Wallahu a’lam. [] MziS.(****).

No Response

Leave a reply "Bentuk Taubat, Tunduk Syariat"