Benteng Toboali, Wisata Sejarah Minim Pendidikan

No comment 614 views

Juru Pelihara Benteng Toboali dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, Adi saat membersihkan tanaman di sekitar benteng peninggalan Kolonial Belanda abad ke-18. (Foto: D. Irawan)

Ribuan Pengunjung Datang Hanya Selfi

Salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yakni Benteng Toboali, kini kian banyak dikunjungi wisatawan. Benteng yang terletak di Kelurahan Tanjung Ketapang, persisnya di belakang Kantor Polsek Toboali ini, menjadi tempat favorit pengunjung di Kecamatan Toboali lantaran letaknya yang sangat dekat.
Hanya butuh waktu 10 menit saja dari Toboali, pengunjung sudah bisa tiba di benteng itu. Posisinya yang tinggi di atas bukit kecil atau sekitar belasan meter dari permukaan laut, menambah strategis letak Benteng Toboali. Benteng ini merupakan benteng pertahanan peninggalan sejarah Kolonial Belanda abad ke-18, persisnya pada tahun 1825 silam.
Begitu tiba di bawah benteng, kita akan menaiki 17 anak tangga. Di sebelah kanan tangga juga terdapat roket zaman Belanda berdiri tegak. Saat menaiki anak tangga terakhir, barulah kita memasuki kawasan Benteng Toboali.
Wartawan harian ini saat menaiki anak tangga, Sabtu (29/4/2017) pagi, bertemu dengan Juru Pelihara Benteng dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, Adi yang sedang membersihkan tanaman. Ia mempersilahkan harian ini mengisi buku kunjungan.
Menurut Adi, luas bangunan benteng ini mencapai 4000 m². Sementara kawasannya mencapai 40.000 m². Dibandingkan beberapa tahun lalu, kondisi Benteng Toboali saat ini terlihat lebih bersih dan terawat. Meski, Benteng ini hanya tersisa bangunan ditumbuhi lumut hijau yang sudah tidak beratap lagi.
Di sekelilingnya pun tumbuh beberapa pohon berukuran besar menambah sejuk suasana di sana. Di sebelah selatan terdapat bangunan tiga ruangan dengan panjang 32 meter dan lebar 9 meter dengan ketebalan dinding mencapai 40 – 50 cm. Rata rata ruangannya berukuran 4 x 5 meter.
Masih kata Adi, ruang pertama dikabarkan sebagai ruang kantor administrasi. Sementara ruang kedua dan ketiga adalah gudang makanan dan mesiu. Sebagiannya digunakan sebagai barak prajurit. Persis berhadapan dengan ruangan ini juga terdapat bangunan dengan ukuran tak berbeda, hanya bentuk yang sedikit berbeda.
Adi menjelaskan ruang tersebut digunakan para perwira saat kolonial dulu. Dan di sebelahnya terdapat dua ruang tahanan dengan ukuran 2 x 3 meter. Terdapat pula lubang-lubang di beberapa bangunan yang digunakan prajurit mengintai maupun untuk menembak.
Menuruni anak tangga ke sebelah timur, pengunjung akan bertemu bangunan yang berisi 12 barak. Dulunya, bangunan ini digunakan para prajurit Kolonial untuk mempertahankan benteng. Di bagian selatan juga terdapat pohon besar yang akarnya sudah menempel di bangunan. Bentuk akar yang cantik, menjadi spot foto bagi para pengunjung.
Namun sayang, dalam pantauan wartawan harian ini, peninggalan bersejarah ini tidak dilengkapi dengan papan informasi tentang sejarah serta bangunannya. Sehingga pengunjung yang datang tidak hanya sekadar berkunjung dan foto-foto saja, tetapi akan pulang dengan membawa pengetahuan atau pendidikan tentang sejarah Benteng Toboali ini. Seharusnya pada saat memasuki kawasan ini, sudah terpasang papan denah serta informasinya.
Senada dikatakan Adi, harusnya sebelum memasuki kawasan juga terdapat land mark berukuran besar.
“Memang harusnya begitu, ada tulisan besar Benteng Toboali, kemudian dipasang papan denah, dengan penjelasan dan informasi tentang bangunan dan ruangan. Bagaimana keberadaan kolonial belanda pada saat itu, bagaimana sejarah dibangunnya Benteng ini. Saya pikir tidak butuh anggaran besar hanya untuk membuat land mark dan papan denah dan informasi. Mungkin Pemkab Basel (Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan-red) juga bisa membuatnya tanpa harus menunggu anggaran Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Begitu juga hendaknya dibangun toilet bagi pengunjung, karena pengunjung Benteng ini dalam satu bulannya mencapai ribuan warga,” kata Adi.
Dijelaskan dia, sebenarnya ada 4 meriam yang terdapat di benteng ini. Dua diletakan di depan Polsek Toboali, sedangnya dua lainnya tak diketahui kini berada dimana. “Letak benteng ini strategis sekali, di belakangnya ada pantai, pemandangan dari posisi yang tinggi memang bagus. Ada juga di bangunan yang sudah ditumbuhi akar pohon itu menjadi spot foto bagi pengunjung dan memang pengunjung datang hanya foto-foto lalu pulang, karena fasilitas pengunjungnya belum ada,” imbuh Adi.
Ketua Komunitas ‘Kemane Ge Yo Pangkalpinang’ (KGY), Subandi menyarankan agar pemerintah membangun plang penunjuk arah ke Benteng Toboali ini untuk memudahkan pengunjung dari luar Bangka Selatan datang ke situs ini.
“Saya sudah keempat kali ke sini, kita harus bangga punya tempat bersejarah seperti ini, dijaga kebersihannya, dan harus ada plang nama penunjuk arah, plang nama Benteng Toboali. Dijelaskan sejarahnya, jangan tembok saja berdiri tegak. Saya juga pemandu jika lagi bawa tamu, kita rencana mau ke Bukit Desa Nangka. KGY ini komunitas yang mengekplore sekaligus mempromosikan objek wisata. Kita sudah ke Batu Betumpang,” ujar Subandi saat berkunjung ke Benteng Toboali dan bertemu Rakyat Pos.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Bangka Selatan (Kadisparpora Basel) Haris Setiawan mengungkapkan, Benteng Toboali dibawah langsung Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel sehingga renovasi bangunan itu merupakan tanggung jawab BPCB tersebut. Tapi sebelumnya, Sekretaris Dinas Parpora Toni Pratama mengatakan pihaknya akan membangun land mark tulisan “Toboali” di Benteng Toboali, sebelum perhelatan City on Fire 2 tahun ini. (dedy irawan)

No Response

Leave a reply "Benteng Toboali, Wisata Sejarah Minim Pendidikan"