Bendera Rasulullah dan Kaum Muslimin

No comment 897 views

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Mahbub Zarkasyi

Bendera kaum muslim sebagaimana bendera Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam itu berwarna hitam dan putih sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas r.a.:“Bendera (liwâ’) Rasulullah –shallallâhu ’alayhi wa sallam- berwarna putih, dan panjinya (râyah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak)
Bendera Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam dan kaum muslim tersebut kalimat ‘Laailaha Illallah Muhammad Rasulallah’sebagaimana dituturkan Imam At-Thabrani dan Abu Syaikh dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas, bahwa bendera Rasulullah SAW bertuliskan “La ilaha Illa Al-Allah Muhammad Rasul al-Allah”. (Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu-Abu Syaikh: hal. 155, no. 426). Riwayat senada juga dituturkan at-Thabarani dari Buraidah al-Aslami, dan Ibnu ‘Adiy dari Abu Hurairah. Sedangkan khath (tulisan)-nya adalah khath yang masyhur di masa Rasulullah SAW, yakni khathMakkiy (khath Makkah) dan Madaniy (khath Madinah). Ini didasarkan pada keterangan yang disampaikan oleh Ibnu an-Nadim (al-Fahrist: hal. 8).
Saat ini,di bulan Rajab lagi rame kaum muslim di Indonesia membawa bendera hitam dan bendera putih yang bertulis arab, dari Aceh sampai Papua marak pawai yang membawa bendera tersebut. Bendera Hitam tersebut dalam ukuran sangat sempat mewarnai akivitas Aksi Bela Islam 212 menyusuri jalan-jalan tempat berkumpulnya massa hingga mengitari Monas. Bendera yang sering kita bacakan di sela-sela Shalat tarawih dimana di akhirat nanti kaum muslim bernaung di bawah bendera tersebut yang artinya“…semoga nanti pada hari kiamat kami dalam satu barisan di bawah bendera Liwaa’ Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam…”.

Bendera Al-Liwa’ dan Ar-Rayah
Bendera kaum muslim sebagaimana hadist di awal tadi berwarna Putih yang disebut Al-Liwa’ dan bendera hitam yang disebut Ar-Rayah. Sebagaimana dijelaskan ulama besar Indonesia KH. Hafidz Abdurrahman dalam tulisan beliau menjelaskan dengan panjang lebar dan terperinci tentang bendera ini. Al-Liwaa’ , secara harfiah, juga berkonotasi al-‘alam. Bentuk jamaknya alwiyah dan alwiyaat. Liwa’ adalah panji yang diberikan kepada Amir (panglima tentara, bisa juga komandan detasemen). Sedangkan ‘Alam adalah Liwaa’ (panji) yang digunakan sebagai tanda untuk berkumpulnya pasukan. Ahli bahasa menyatakan, al-‘alam adalah panji yang diikatkan di ujung tombak. Az-Zubaidiy berkata, al-‘alam adalah rasm at-tsaub (baju resmi) yang di pinggir-pinggirnya diberi garis-garis. Sedangkan Ar-Raayahsecara harfiah bermakna al-‘alam (panji). Bentuk jamaknya adalah raayaat. Kata ar-raayah, sebagaimana dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib saat Perang Khaibar, bermakna al-‘alam (panji). Ar-Raayah juga bermakna sejenis bendera yang diikatkan di leher. Bendera kecil disebut dengan ruyaih. Bentuk kata kerjanya adalah: rayaitu rayaan, wa rayyiitu, taryatah.
Al-‘Allamah al-Qalqasyandi telah mendefinisikan al-a’laam (bendera) sebagai berikut, “Ia adalah ar-raayaat (panji) yang dibawa oleh wakil (pengganti) Sultan yang diletakkan di atas kendaraannya.”. Kadang-kadang al-a’laam digambarkan dengan al- ‘ashaaib (serban), bentuk jamak dari ‘ashabah, yang maknanya adalah al-alwiyah. Lafadz ini diambil dari kata ‘ashabah ar-ra’s (serban kepala), sebab ar-raayah biasanya dikenakan di ujung tombak bagian atas. Kadang-kadang dilukiskan dengan as-sanaajiq (panji-panji), bentuk jamak dari as-sinjaq. Ini adalah bahasa orang Turki, yang bermakna ath-tha’n (tikaman).
liwaa’ adalah panji yang menunjukkan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan’. Ar-Raazi berkata, “Liwaa’ adalah panjinya pemimpin perang (Amir), sedangkan Alwiyah adalah al-mathaarid (tombak pendek) tanpa panji dan bendera.” Al-Mathraziy berkata, “Raayah adalah bendera pasukan yang diibaratkan dengan induk peperangan. Ar-Raayah lebih kecil daripada al-liwaa’.” Al-Abadiy juga berkata, “Raayah adalah (al-’alam) bendera kecil, sedangkan Liwaa’ adalah bendera besar. Pada masa kita sekarang ini, Raayaat dan Alwiyaat disebut dengan al-a’laam, al-bunuud, dan al-bayaariq.” Sedangkan Raayah dinamakan seperti itu, sebab dipasang di bagian atas tombak. Sedangkan tombak adalah alat untuk menikam. Ini merupakan penamaan yang bersifat majaziy (kiasan). Al-Abadi berkata, “Ath-Thurisiy berkata, Raayah adalah panji yang diserahkan kepada pemimpin perang, di mana seluruh pasukan berperang di bawah kepemimpinannya dan akan mempertahankannya hidup atau mati.”
Abu Bakar ibn al-‘Arabiy berkata, “Liwaa’ berbeda dengan ar-raayah.Liwaa’ adalah bendera yang diikatkan di ujung tombak, kemudian dililitkan di gagang tombak. Sedangkan ar-raayah adalah bendera yang dipasang di ujung tombak dan dibiarkan hingga berkibar ditiup angin.” Ada juga yang menyatakan bahwa Liwaa’ berbeda dengan Raayah. Liwaa’ adalah bendera yang berukuran besar, sedangkan ‘Alam adalah tanda yang menunjukkan di mana posisi Amir (pemimpin pasukan). Adapun Raayah adalah bendera yang diserahkan kepada pemimpin pasukan’ (Fath al-Baariy: VI/126-127; ‘Umdatul Qaari lil-‘Aina: XII/47; ‘Uynul Ma’bud li al-Abadiy: VII/254).

Rajab: Mengenal Liwa’ dan Rayah
Terang benderanglah tentang bendera kaum muslim, kaum muslim sebagai umat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam memiliki dua bendera yaitu al-Liwaa’dan ar-Raayah. Maka wajar banyak kaum muslim terlibat dalam mengkampanyekan bendera Rasulullah dan kaum muslim ini. Banyak momentum besar kaum muslim yang terjadi pada bulan seperti peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pada bulan Rajab, penentuan awal tahun Hijriyah di ambil tahun tersebut juga peristiwa institusi resmi pembawa bendera Al-Liwa’ dan Ar-Rayah di runtuhkan hingga kaum muslim terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara bangsa.
Bendera kaum muslim yang sangat populer di kalangan mujtahid, ahli tafsir, ahli hadits, dan lain-lain.Penghulu para ‘ulama tafsir yang terkenal sangat faqih, yakni Imam Ibn al-‘Arabiy telah menyatakan, “Liwaa’ berbeda dengan Raayah.” Jumhur ‘ulama hadits juga telah membedakan antara Liwaa’ dengan Raayah. Imam Tirmidziy telah menjelaskan perbedaan keduanya dalam bab tersendiri yang diberi nama, al-Alwiyah, dan pada bab lain dengan sub judul, ar-Raayaat. Ini menunjukkan Liwaa’ dan Raayah adalah dua hal yang berbeda (Jaami’ at-Tirmidzi: IV/197).
Ini didukung dengan riwayat al-Waqidiy yang menjelaskan tentang al-liwaa’ al- a’dzam (bendera terbesar) dalam Perang Uhud, “Al-Liwaa’ al-A’dzam diserahkan kepada Mush’ab bin ‘Umair ra, sedangkan Liwaa’ al-Aus (bendera suku Aus) diserahkan kepada Usaid bin al-Hudlair, sedangkan Liwaa’ al-Khazraj (bendera suku Khazraj) diserahkan kepada Sa’ad atau Hubab.” (Al-Maghazi li al-Waqidi: I/225). Tatkala menjelaskan hadits yang menuturkan Perang Badar, Imam Ibnu ‘Abdil Baar menyatakan, “Al-Liwaa’ diserahkan kepada Mush’ab bin ‘Umair, sedangkan ar-raayah al-waahidah (panji pertama) diserahkan kepada ‘Ali, panji kedua diserahkan kepada seorang laki-laki dari suku Anshar –keduanya berwarna hitam dan berukuran kecil–, sedangkan bendera suku Anshar diserahkan kepada Sa’ad bin Mu’adz.” (Ad-Durur li Ibn ‘Abdil Barr: hal. 102)

Khatimah
Setiap muslim sudah seharusnya menjunjung tinggi bendera Rasulullah dan kaum muslim ini. mensyiarkan bendera yang terdapat kalimat tauhiddan kesaksian kaum muslim atas kerasulan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam menjadi kalimat pemisah antara iman, Islam dan kekufuran. Maka jelas bahwa bendera dan panji agung ini termasuk syi’ar Islam yang wajib dijunjung tinggi, dibela dan dibersihkan dari berbagai stigma negatif kaum Kafir dan sekutunya dari kaum Munafik, yang menstigmanya sebagai bendera teroris, stigma tersebut jelas kebatilannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Demikianlah (perintah Allah) dan siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu.”(TQS. Al-Hajj [22]: 32)
Kaum muslim harus segera bangun dan sadar dan kembali menuju kemenangan sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam firman-Nya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. Al-Nûr [24]: 55)
Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [] MziS.(****).

No Response

Leave a reply "Bendera Rasulullah dan Kaum Muslimin"