by

Belajar Maju dari Jerman

-Opini-101 views

Oleh: Sry Artha Paramita Manullang
Au Pair Jerman 2015/Tenaga Kerja Sosial Berkebutuhan Khusus di Hamburg/Alumni S1 Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Medan/Tinggal di Hamburg, Jerman

Berbicara tentang Jerman, tentu akan membuat siapa saja terkagum-kagum, termasuk Penulis yang sudah empat tahun menetap di negara kedua BJ Habibie ini. Tingginya kepedulian negara Jerman terhadap perkembangan teknologi dan pendidikan, membuat banyak orang yang tertarik merajut mimpi di negeri yang berada di pusat Eropa ini. Apalagi biaya pendidikan yang tergolong murah per semesternya yakni sekitar 300€ atau setara dengan Rp4.800.000. Selain mencakup pendidikan per semester, biaya tersebut juga sudah termasuk biaya transportasi, bahkan mengunjungi beberapa museum juga. Hal itu sangat hemat, karena umumnya, orang akan menghabiskan 100€ untuk biaya transportasi saja. Bisa kita bayangkan keuntungan yang didapatkan para mahasiswa disini.
Program jaminan hidup untuk mahasiswa pertahunnya sekitar 800 € atau setara 130 juta. Uang tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan biaya apartemen selama tinggal di Jerman dalam jangka setahun. Bagi mahasiswa yang ingin menambah pengalaman atau menambah uang saku, mereka bisa mengambil kerja pada musim libur akhir semester. Artinya, selama perkuliahan berlangsung, para mahasiswa akan fokus belajar. Akan tetapi, jika akhir pekan dan musim libur tiba, mereka bisa menambah uang saku. Yang pasti pendidikan murah di Jerman bisa menjadi dorongan yang kuat bagi orang yang haus akan ilmu.
Berbicara tentang Jerman yang memiliki luas 357.000 km² atau setara dengan setengah luas Pulau Kalimantan ini sangatlah menarik. Dari utara sampai ke selatan terbagi dalam 16 negara bagian dengan jumlah total penduduk sebnayak 82 juta jiwa (2017). Angka ini tergolong lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Pulau Jawa sekitar yang mencapai lebih dari 149 juta jiwa di tahun yang sama.
Tiap tahunnya banyak penduduk asing yang menginjakkan kaki di Jerman, bahkan banyak dari Indonesia. Apalagi sekarang ini banyak program yang disediakan bagi mereka yang mau belajar budaya atau juga bagi mereka yang belajar bahasanya. Program yang bisa diperhitungkan adalah program Au Pair. Program ini sangat menarik, karena kita bisa belajar bahasanya bahkan secara langsung kontak dengan keluarga asli Jerman.
Program ini adalah program andalan yang sering dimanfaatkan banyak orang, karena pelamar tidak perlu lagi merogoh kantong untuk memikirkan biaya makan, tempat tinggal dan kursus. Fokusnya adalah menjadi bagian dari salah satu keluarga di Jerman. Dalam artian kita turut andil melakukan kegiatan dalam rumah, menjaga dan mengajari anak-anak pemilik rumah sampai orang tuanya pulang dari tempat kerja. Orang Jerman memegang budaya disiplin, menghargai dan menerapkan pola kerja bagi Aupair yaitu 38 jam per minggu.
Hal baiknya adalah ketika kita berkomunikasi dengan mereka, kita sudah belajar untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jerman kita. Bahkan tak disangka-sangka uang saku yang mereka berikan kepada kita lebih dari cukup, bahkan bisa ditabung jika ingin melanjutkan kuliah atau jalan-jalan keluar negeri. Sebagai informasi, program ini tetap menerapkan libur selama 30 hari selama setahun dan akhir pekan.
Kemudian, Jerman memiliki kekuatan ekonomi yang besar dan stabil. Kedisplinan dan sikap menghargai waktu menjadi salah satu motto mereka. Tak jarang mereka selalu mempergunakan waktu dengan baik. Program wajib pajak yang hingga 45 persen dari total pendapatan tetap membuat mereka belajar disiplin dan profesional bekerja. Hal ini tidak jauh dari kehidupan masa tua yang telah dijamin kelangsungannya. Jaminan kesehatan yang tetap diperhatikan juga membukitkan kelangsungan hidup penduduk Jerman menjadi lebih lama.
Berbicara tentang Jerman, banyak hal yang bisa ditiru, termasuk dalam pengelolaan sampah yang mana perlu dicontoh oleh Indonesia. Negara Jerman bisa dikatakan sukses dengan pemisahan sampah berbagai macam warna tempatnya yang pada akhirnya memudahkan warga pada pengenalan jenis sampahnya. Sesuai dengan warnanya, tempat sampah warna coklat dikhususkan untuk sampah yang berbahan organik seperti sisa bahan makanan, sisa bahan sayuran, bahkan dedaunan.
Tong sampah warna biru untuk segala sesuatu yang berasal dari kertas, contohnya buku-buku atau majalah bekas dan karton. Tempat sampah warna kuning untuk bahan-bahan kemasan, seperti kemasan shampo, kemasan kecap, kemasan minuman serta kemasan makanan. Untuk tempah sampah warna hitam digunakan untuk bahan-bahan atau alat-alat rumah tangga yang sulit untuk dipisahkan contohnya popok bayi, bahan makanan yang sudah hancur dalam kemasan dan peralatan rumah tangga.
Untuk benda-benda lain seperti gelas, alat elektronik serta perabotan rumah tangga seperti sofa, tempat tidur disediakan tempat khusus untuk pembuangannya. Begitu juga untuk sampah gelas yang biasanya dipinggir jalan sudah disediakan bak besar yang terbuat dari besi. Dalam hal ini, jenis gelas dibagi lagi dalam warna yaitu hijau, hitam, coklat. Pemisahan itu terdengar begitu memusingkan, tetapi dalam hal ini banyak keuntungan diperoleh. Misalnya dari tempat sampah warna kuning, dalam pengolahan kembali atau daur ulang bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan-kebutuhan sehari seperti keranjang, tempat sampah, dan tempat bunga. Berbeda dengan di Indonesia, dimana masyarakat akan membakar semua sampah yang membahayakan kesehatan manusia akibat karbon monoksida yang dihasilkannya. Selain itu, hal itu juga akan mencemari lingkungan. Kegiatan pemilahan sampah ini tetap aktif dilakukan warga Jerman sebagai upaya hidup sehat dan sadar akan lingkungan yang tinggi.
Untuk barang-barang lain yang tidak ingin dibuang, telah disediakan tempat atau ruangan kecil dengan tulisan take and give. Dalam hal ini, warga yang ingin menyumbangkan pakaiannya seperti sepatu-sepatu atau barang-barang lainnya bisa diletakkan di ruangan kecil tersebut. Kemudian, orang- orang akan berlalu lalang untuk mengambilnya.
Program pengelolaan sampah tersebut sangat mampu mengurangi produksi sampah dan bahkan sangat berguna untuk membantu orang-orang yang masih membutuhkan. Negara Jerman adalah negara yang suka membaca buku. Tak heran kalau berada didalam angkutan umum, mereka selalu hening sambil membaca buku. Mereka juga sangat suka menyumbangkan bukunya. Untuk memacu minat para penggemar, disediakan tempat duduk dan tempatnya dibuat semenarik mungkin.
Dalam era globalisasi, banyak hal yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti memulai sesuatu dari diri kita sendiri, membuang sampah pada tempatnya, memilahnya, tidak membakar plastik, belajar mematuhi peraturan yang ada, merencanakan progran pendidikan yang baik dimasa depan, membayar pajak. Tentunya masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk Indonesia yang baik, proses ini tidak berdampak secara langsung tetapi tahap ini akan terus berproses untuk indonesia yang lebi baik.
Mari kita mulai dari diri sendiri, mari kita melihat negara-negara yang maju yang terus belajar mematuhi peraturan. Bukan karena mereka terpaksa, tetapi karena mereka sadar semua ini untuk kemajuan yang lebih baik kedepannya, untuk kehidupan diri sendiri dan para generasi penerus. Semoga Indonesia segera menyusul Jerman menjadi negara maju.(***).

Comment

BERITA TERBARU