Belajar di Kelas Awan, Inovasi Pembelajaran Kontemporer untuk Siswa

  • Whatsapp

Oleh: Deddy Kurniawan, S.Kom
Guru Multimedia SMK Negeri 1 Kelapa

Baca Juga

AWALNYA, judul tulisan yang ingin penulis buat adalah dengan menyebutkan nama aplikasi kelas awan yang dimaksud. Namun, untuk menghindari perspektif beragam pada orang yang membaca artikel popular hanya sampai di judul. Akhirnya saya menuliskan judul seperti di atas. Walaupun pada isi tulisan ini akan disebutkan nama aplikasi belajar di kelas awan. Setidaknya ini merupakan bentuk dari kehati-hatian dalam menulis di era gratisnya harga sebuah perundungan.

Tanpa inovasi, bersiap-siaplah untuk mati. Kalimat ini tepat untuk kita jadikan prinsip bahwa kehidupan itu pada hakikatnya memang berjalan dinamis. Kaum milenial seumuran penulis tentu ingat dengan yahoo sebagai pelopor web dan mesin pencari yang pernah berjaya di awal mula internet menetaskan eksistensinya didunia. Kala itu, google belum sama sekali mengaumkan gaungnya. Tahun 1990-an, Yahoo begitu familiar dikalangan milenial. Sebagian besar email yang kita miliki saat itu pasti dibuat dengan menyandingkan nama yahoo dibelakangnya. Mau chatting juga tinggal membuka aplikasi yahoo messanger. Apalagi dengan kebutuhan membaca berita, tinggal buka web Yahoo dan berita yang realtime selalu ditampilkan Yahoo hanya dalam hitungan detik.

Sepertinya, Yahoo terlalu nyaman dengan situasi ini, sehingga mereka minim akan inovasi. Perlahan tapi pasti, Google yang saat itu baru berembrio mulai menampakkan pertumbuhan yang pesat. Tahun 1998 merupakan kelahiran Google. Ibarat bayi, google bisa dikatakan sebagai bayi ajaib. Yahoo merupakan satu-satunya mesin pencari yang unggul belasan tahun yang lalu namun Google mengalahkannya di kisaran tahun 2006 sampai hari ini. Tampilan Google yang ringkas dan sederhana namun fitur yang ditawarkan untuk pencarian web sangat holistik membuat pengguna setia Yahoo beralih ke Google karena keunggulannya.

Bagaimana nasib Yahoo? Sungguh merana. Yahoo pun harus menelan pil pahit saat ‘mahkota’ kebanggannya sebagai penyedia layanan email nomor satu diambil alih perusahaan yang semula sempat ditawarkan pada Yahoo untuk dibeli, Google. Butuh contoh lain? Lihatlah bagaimana nokia runtuh dan blackberry rebah. Kita hidup di era teknologi informasi, era digitalisasi, era internet 4.0 yang mana perubahan terjadi bukan lagi dalam hitungan masa yang panjang. Cukup satu dua tahun saja terlewati, hal baru terkait teknologi sudah banyak terjadi.

Contoh di atas cukup menggambarkan bahwa inovasi merupakan syarat mutlak untuk tetap memiliki eksistensi. Dibidang pendidikan pun demikian, guru tanpa melakukan inovasi dalam pembelajaran yang dikelolanya tentu berimbas pada kualitas pembelajaran di kelas yang semakin meredup bahkan di tingkat paling parah bisa menjadi mati suri. Kita bisa melihat kemirisan ini dari hasil kualitas pendidikan yang dilakukan setiap tahun atau beberapa tahun oleh organisasi internasional yang berfokus pada pendidikan. Lihatlah bagaimana kualitas hasil pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun, jalan di tempat bukan? Atau meminjam jargon Syahrini, kualitas hasil pendidikan di Indonesia masih maju mundur cantik. Kadang maju sedikit, sering pula mundur sedikit. Tak pernah berlari kencang. Aduh!!!!

Hasil tes PISA Tahun 2018 baru saja dirilis di laman resminya beberapa pekan kemarin. Iya, sudah bisa ditebak kok bahwa Indonesia masuk dalam kategori negara yang tak berkembang signifikan dari tahun ke tahun. Kendati hasil tes PISA berfokus pada reading dan literacy siswa kelas menengah, setidaknya ini bisa menjadi renungan bagi guru akan urgensinya melakukan inovasi dalam memberikan pengalaman belajar siswa. Bentuknya seperti apa? Yang jelas apapun bentuknya, guru harus menggunakan teknologi dan internet bersama dengan siswa dalam kegiatan pembelajaran, karena dunia berkembang jauh lebih luas, tak lagi sebesar daun kelor. Sekarang bukan lagi zamannya menyuruh siswa menghafal definisi, rumus, atau apalah-apalah yang sejenis dengan itu. Hai teman sesama guru, era kontemporer ini, substansi belajar siswa lebih diarahkan agar memiliki pola pikir kreatif dan problem solving. Ya, ini adalah bekal hidup era internet 4.0 yang sedang kita jalani.

Lalu, pembelajaran tak lagi wajib dilakukan didalam kelas karena fundamental dari pembelajaran itu sendri merupakan suatu proses bukan berfokus pada tempatnya. Terlebih untuk sekolah kejuruan tempat penulis mengabdi ini, SMK Negeri 1 Kelapa dan sekolah kejuruan lainnya pun sama saja, dalam kurun waktu 3 tahun siswa menempuh studi di sekolah menengah vokasi ini, siswa wajib melakukan kegiatan praktik kerja industri di dunia usaha/dunia industri dengan waktu yang relatif lebih kurang satu semester. Dalam kurun waktu itu, sekolah kami mengharuskan guru-guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran kepada siswa-siswa seperti biasanya. Sekali lagi, ini bukan masalah tempat tapi proses pembelajarannya, sehingga kami utamanya penulis menggunakan aplikasi google classroom untuk belajar dengan siswa-siswa penulis. “Nak, selama kalian Prakerin (Praktik Kerja Industri), kegiatan pembelajaran kita lakukan di kelas awan”, begitu kata penulis.

Tentu ada banyak aplikasi kelas awan yang berseliweran di internet. Penulis memilih google clasroom karena beberapa pertimbangan. Setiap siswa yang memiliki Akun Google pribadi, akun google langsung dapat terkoneksi dengan aplikasi google classrom dan dapat digunakan secara gratis. Selain guru, sekolah dan organisasi non profit lainnya juga dapat memanfaatkan google classroom secara gratis. Google Classroom juga terintegrasi stabil dengan fitur Google lainnya. Dua fitur Google lain yang sering digunakan untuk menunjang pembelajaran kelas awan ini adalah Google Dokumen dan Google Drive. Terakhir, belajar menggunakan google classroom tak hanya dapat dilakukan dengan menggunakan laptop/komputer saja, namun juga dapat dilakukan dengana menggunakan smartphone dengan mengunduh aplikasinya terlebih dahulu di palystore maupun appstore.

Bagaimana cara menggunakannya? Jika penulis jelaskan di sini sudah pasti tulisan ini akan seperti sinetron yang memiliki banyak episode. Tutorial penggunaan Google Classroom dengan mudah akan kita temukan di internet. Secara singkat, Google Classroom membuat kegiatan pemberlajaran tidak berbatas pada tempat. Fitur tugas, kolaborasi, pemberian materi dalam bentuk teks, audio, video, dan pranata luar serta bentuk evaluasi yang relatif lengkap difasilitasi dengan baik oleh Google Classroom. Penulis sebagai pengajar dapat membuat kelas, memberikan tugas, mengirim masukan, dan melihat semuanya siswa yang hadir dimanapun penulis berada.

Inilah salah satu inovasi pembelajarannya yang penulis lakukan berbasis internet 4.0. Transformasikan kegiatan belajar anda sebagai guru dengan siswa di kelas awan. Kita semua bisa melakukannya. Sekarang saatnya anda mencoba. (***)

Related posts