Belajar dari Semangat R.A. Kartini (Meluruskan Makna Emansipasi Perempuan)

  • Whatsapp

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Pekerja Sosial Pertama Kabupaten Bangka Selatan

Alghi Fari Smith, SST

Selama ini, Kartini diidentikkan dengan pejuang emansipasi, persamaan hak perempuan setara dengan laki-laki. Padahal bukan itu yang diperjuangkan. Pembaca yang budiman, tidak ada yang salah dengan perjuangan Kartini. Toh beliau memang hidup di alam penjajahan yang masih mengungkung erat perempuan. Zaman ketika perempuan masih dianggap rendah sekedar ‘konco wingking’ alias teman di belakang bagi para pria. Maksudnya, perempuan itu tempatnya cuma dapur, sumur dan kasur. Perempuan tidak boleh ikut mengurusi selain ketiga hal itu. Karena urusannya cuma itu, maka kaum hawa tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. tidak ada gunanya. Toh, nanti kembalinya juga bakal ke dapur lagi. Begitulah pemikiran yang berkembang pada saat itu.
Kartini, sebagai seorang perempuan cerdas, tidak terima dengan kondisi ini. Apalagi lingkungan bangsawan Jawa membuatnya sering bergaul dengan perempuan-perempuan yang berasal dari keturunan penjajah Belanda yang dianggapnya mempunyai derajat lebih tinggi. Kartini pun ingin seperti mereka. Hal ini dicurahkan dalam surat yang ditulisnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan menyaingi laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Jadi, pendidikan yang perjuangkan oleh Kartini adalah dalam rangka mempersiapkan perempuan untuk menjadi sosok ibu yang berkualitas demi terciptanya generasi yang berkualitas pula. Inilah yang tidak pernah disinggung oleh mereka yang mengaku sebagai pejuang hak perempuan (para feminis). Sayangnya, seringkali perjuangan Kartini dipelintir, berhenti cukup sampai di sini. Jadilah mereka menjadikan sosok Kartini sebagai sosok pejuang emansipasi yang berusaha memperjuangkan hak perempuan.

Kartono pun Cemburu pada Kartini
Ketika ide emansipasi tak lagi murni, para Kartono (Kaum lelaki) pun berusaha menuntut haknya pula. Sebagai ayah, ia menuntut haknya untuk dihormati oleh istri dan anak-anaknya. Bagaimana pun ia adalah wali bagi anak perempuannya. Ijinnya mutlak diperlukan oleh istri bila akan keluar rumah bahkan untuk berkiprah di hadapan publik alias izin bekerja. Tapi, ketika hak ini semakin memudar oleh emansipasi perempuan yang dibawa kaum feminis, istri dan anak tak lagi mau mengakuinya (para suami) sebagai pemimpin rumah tangga, maka wajar bila kaum Kartono ini juga berhak menuntut.
Sebagai suami, keberadaannya semakin tidak lagi dihargai. Posisinya sebagai qowwam alias kepala rumah tangga dihujat. Istrinya menuntut posisi yang sama, tak mau kalah hanya karena perbedaan jenis kelamin. Maka, muncullah fenomena paguyuban STI alias Suami Takut Istri.
Selain itu juga, dalam ranah publik, Kartono merasa tersaingi dalam mencari pekerjaan yang hari ini semakin sulit didapatkan. Bagaimana tidak, mereka para Kartini “merebut” lahan Kartono dalam mencari nafkah. Padahal, dalam konteks ini seharusnya para Kartono yang diwajibkan oleh agama untuk bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga. Beginilah akibat dari salah kaprah memahami perjuangan yang dilakukan oleh Kartini.

Bahaya Feminisme bagi Kartini dan Kartono
Dari gambaran di atas, masalah sesungguhnya bukanlah pada emansipasi. Bukan pula pada kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Karena jelas di dalam Islam antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pahala dan keridhoan Allah SWT. Masalah utamanya terletak pada pemahaman dan kesadaran perempuan yang masih terjajah oleh ide Kapitalisme dengan anak turunnya bernama feminisme.
Feminisme inilah yang nantinya melahirkan istilah emansipasi bagi perempuan. Dengan adanya pemahaman keliru tersebut, para Karono meresponnya secara aktif. Meskipun tidak sedikit kaum pria ini juga menjadi antek dan aktivis feminisme itu sendiri. Tujuannya jelas yaitu untuk semakin melanggengkan dominasi Kapitalisme dan Sekularisme dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Bahaya feminisme selanjutnya, yaitu mendorong perempuan untuk menjadi wanita karir dengan mengabaikan haknya sebagai seorang ibu. Bagi mereka, kebahagian itu diukur dengan seberapa banyak materi, harta kekayaan yang diperoleh. Pemahaman tersebut lahir dari paham sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang justru akan menguntungkan para pemilik modal alias para kapitalis. Mereka yang memiliki perusahan dan modal besar memiliki market (pasar) sumber daya manusia (SDM) alias karyawan yang begitu melimpah dari kalangan “kartini”.
Para pengusaha konglomerat lebih cenderung merekrut tenaga kerja perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Alasannya simple, yaitu karena perempuan tidak banyak tuntutan dan lebih bersikap “manis”. Kalaupun ada yang anarkis ketika menuntut haknya kepada perusahaan, entah itu menuntut kenaikan gaji maupun cuti hamil, keanarkisan mereka tidak brutal seperti karyawan laki-laki.
Bahaya yang paling ekstrim dari feminisme adalah ketika para perempuan memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak (keturunan). Hal ini telah terjadi di beberapa negara barat, bahkan di salah satu negara perempuan dijadikan sebagai “bank sperma”. Mereka tidak ingin menikah dan juga tidak ingin pula punya anak, akhirnya mereka ada yang menjadi lesbian ada pula yang hanya sekedar ingin mendapatkan kepuasan seksual dari para Kartono. Kalaupun mereka hamil, kehamilan tersebut tidak mereka inginkan sehingga bayi yang tidak berdosa dikandungannya diaborsi (digugurkan).
Akibat feminisme, banyak anak-anak yang ditelantarkan ibunya dan para suami diterlantarkan istrinya. Para ibu/ istri lebih cenderung mengejar karir dibandingkan mengurusi, mendidik dan membimbing anak-anaknya untuk menjadi anak yang sholih dan sholiha.
Pembaca yang budiman, bagaimana mungkin kita mau menyamakan perjuangan Kartini dengan perjuangan untuk emansipasi perempuan alias memperjuangkan ide feminisme? Sedangkan antara keduanya justru bertolak belakang. Perjuangan Kartini untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan Kartono itu, karena untuk bekal para prempuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan mendidik anak-anaknya sedangkan ide feminisme justru merusak rumah tangga dan tatanan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Habis Gelap Terbitlah Terang
Pemikiran Kartini itu terpengaruh oleh ajaran Al-Qur’an yang sempat dipelajarinya dalam tempo singkat. Ini dari penuturannya yang terus menerus mengulang kalimat “Minazh zhulumati ilan nuur” (habis gelap terbitlah terang). Dalam surat-surat warisan Kartini, kalimat berbahasa Arab itu diperolehnyadari bacaan Surat Al Baqoroh ayat 257 yang artinya, “Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
Pemahaman Islam Kartini juga tampak dari perubahan sikapnya; dari semula menjadi pemuja peradaban barat menjadi mengecamnya teramat pedas. Pernah suatu ketika, Karitini dengan tegas menolak tawaran beasiswa ke Belanda untuk sekolah. Bahkan dengan penuh harga diri, ia tulis surat untuk sahabatnya di Belanda itu bahwa ia tak hendak lagi menjadikan mereka sebagai panutan. Perjuangannya adalah di sini, di tanah Jawa Indonesia untuk mendidik perempuan-perempuan disekitarnya. Selain itu, sikap Kartini berubah dari membenci kitab suci Al Qur’an karena dianggap terlalu suci dan tidak dimengerti maknanya, menjadi memuji Islam sebagai agama yang layak menjadi pedoman hidup. Dari penentang keras poligami, menjadi menerima dan bahkan mengamalkannya ( Kartini adalah istri ketiga dari suaminya).
Pembaca yang budiman, disinilah kita perlu memahami bahwa sesunnguhnya Kartini sejatinya memperjuangkan nilai-nilai Islami yang diyakininya. Sayangnya, hari ini perjuangan Kartini disalahartikan oleh para feminis sebagai bentuk perjuangan mengusung ide kesetaraan gender alias emansipasi perempuan, dimana perempuan harus setara dan bahkan melebihi laki-laki dalam semua bidang kehidupan.

Andai Kartini Tahu
Betapa Islam yang menjadi agamanya itu sudah mempunyai konsep tentang perempuan secara ideal. Betapa semua yang ia perjuangkan sudah tercantum dengan gamblang dalam kitab suci al-Quran. Betapa yang ia rindukan tentang perempuan yang berpendidikan untuk mencipta generasi terdidik sudah pernah terterapkan.
Generasi selevel Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Muslim, Abu Hanifah dan masih banyak jutaan lain ilmuwan yang mengguncang dunia dengan karya-karyanya, adalah hasil didikan dari sosok ibu yang berkualitas dan terdidik. Sosok laki-laki yang sebagian tersebut di atas adalah sosok yang sangat memuliakan perempuan.

Politisasi Kartini
Pembaca yang budiman, Kartini terlanjur dijadikan titik tolak perjuangan kesetaraan perempuan Indonesia, sejak Abendanon membukukan surat-suratnya. Doktrin itu melekat sampai kini. Tidak ada satu pun yang mengkritik, apalagi meluruskan sejarah, mengapa Kartini yang dijadikan pahlawan pejuang hak-hak perempuan? Mengapa bukan tokoh perempuan yang lain? Padahal, tanpa menafikkan kartini, jila ukuran emansipasi adalah kiprah perempuan yang sukses di segala bidang, maka sebenarnya banyak perempuan di masa lalu yang memiliki kiprah tak kalah dan bahkan lebih hebat dibandingkan Kartini. Ternyata, penulis mendapatkan informasi dari berbagai sumber bahwa ada dugaan, kepopuleran Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia telah di setting oleh kolonial Belanda.
Tujuannya jelas untuk mengaburkan perjuangan kartini yang sesungguhnya. Kartini pasti sedih bila ia menyaksikan bagaimana para perempuan hari ini salah memahami perjuangannya. Bagaimana tidak, sosok kartini disamakan dengan perempuan hari ini yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami.

Islam dan Khilafah Memuliakan “Kartini”
Bila ada yang mengatakan konsisi perempuan hari ini terpuruk dan tertinggal dari laki-laki karena tidak adanya emansipasi perempuan (kesetaraan gender), maka itu adalah pernyataan yang keliru dan menyesatkan. Pembaca yang budiman, perlu kita ketahui bahwa kondisi perempuan hari ini yang terperosok hingga ke lumpur kehinaan, secara resmi telah lama terjadi, yaitu sejak tahun 1924. Ada apa di tahun 1924, tepatnya 3 Maret?
Pada saat itu, terjadi malapetaka bagi kaum muslimin, yaitu diruntuhkannya Kekhilafahan yang menjadi satu-satunya payung dan benteng terakhir untuk menjaga kewibawaan dan harga diri kaum muslimin termasuk perempuan oleh Mustafa Kemal di Turki.
Ketiadaan Khilafah menyebabkan harga diri perempuan dengan sah diinjak-injak dengan dalih kesetaraan. Perempuan ditarik ke sektor publik dengan jargon emansipasi. Pabrik dan jalanan penuh sesak oleh perempuan. Padahal, rumah adalah tempat ternyaman bagi perempuan untuk beraktivitas dibandingkan dengan pabrik yang penuh dengan kebisingan itu. Selain itu, berawal dari rumahlah perempuan dapat melahirkan generasi emas dan para pejuang. Inilah sejatinya akar masalah dari berbagai masalah yang dihadapi oleh para “Kartini”.
Pembaca yang budiman, solusi atas permasalahan “Kartini” adalah dengan kembali kepada Islam dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber inspirasi dan motivasi perjuangan kita. Bagi para Kartini, mari kembali kepada kodrati sebagai perempuan, yakni menjadi ibu dan pendidik anak-anak. Di dalam Islam posisi “Kartini” (perempuan, red) sangat mulia. Jadi, sebenanya perempuan hari ini tidak memerlukan jargon emansipasi perempuan yang justru menjadi bagian masalah para “kartini”. (****).

Related posts