Belajar dari Cerita Alqamah

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi

Ramadhan tahun ini mari kita jadikan bulan untuk muhasabah diri. Bagaimana sikap kita kepada orang tua tentu banyak PR yang harus diperbaiki. Apalagi di zaman hidup kita tidak dalam suasana kehidupan Islam maka perlu banyak meluangkan waktu untuk menuntut ilmu. Sudah ada cerita yang namanya sering dijadikan contoh bagaimana seorang ahli ibadah yang saat sakaratul maut sulit mengucapkan kalimah tauhid ‘laa ilahaa illallah’. Beliau yaitu Alqamah yang di akui ibunya sebagai ahli ibadah dan dekat dengan Rabbnya namun tak mendapatkan ridho ibunya. Alqamah yang hidup se zaman dengan Rasulullah, tidak mendapatkan ridho ibunya hanya karena lebih mengutamakan istrinya dari pada ibunya.
Bagaimana keutamaan seorang ibu? Mari simak sebuah hadist dari Abu Hurairah ra berkata seorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Yaa Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Jawabnya Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Jawabnya Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Jawabnya Rasulullah, “Ayahmu”. [HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah]
Hari ini kita lihat banyak seorang laki-laki bila telah menjadi seorang suami tak lagi berbakti pada kedua orang tuanya. Mereka sibuk dengan keluarga barunya, hanya mementingkan istri dan anak-anaknya hingga mengabaikan kedua orang tuanya. Atau sibuk dengan pekerjaannya hanya demi menyenangi dan membahagiakan keluarga barunya. Padahal ibunyalah yang paling berhak terhadap seorang laki-laki walaupun telah menjadi seorang suami. Jadi seorang laki-laki walaupun sudah mempunyai istri dan anak, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya terutama ibunya.
Yuk simak peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tentang seorang laki-laki yang bernama Alqamah. Dia adalah seorang laki-laki yang shalih. Kemudian Alqamah ditimpa sakit parah hingga menjelang ajal, beliau dalam keadaan tak bisa mengucapkan kalimah tauhid. Kemudian peristiwa sakaratul maut Alqamah terdengar ke telinga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang disampaikan sahabat yang mulia Bilal bin Rabbah ra. kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menanyakan keberadaan kedua orang tuanya, “Apakah Alqamah masih memiliki Ayah dan ibu?” kemudian Bilal menjawab, “Ayahnya sudah meninggal, namun ia masih memiliki seorang ibu yang sudah tua renta”. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata, “Baiklah Bilal, temuilaj ibu Alqamah dan aku titipkan salamku untuknya. Apabila ia masih mampu berjalan, maka dia bisa menghadapku. Apabila ia memang tak bisa maka aku yang akan kesana”. Kemudian sang muadzin Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun berangkat menunaikan amanah Rasulullah dan menyampaikan sebagaimana pesan Rasulullah. Kemudian dijawab ibu Alqamah, “Biarlah aku yang pergi menemui Rasulullah”. Kemudian ibu Alqamah dengan menggunakan tongkatnya menemui Rasulullah dengan mengucapkan salam dan kemudian dibalas salamnya oleh Rasulullah.
Kemudian Rasulullah pun menanyakan perihal keadaan Alqamah kepada ibu Alqamah, “Bisakah ibu menceritakan keadaan Alqamah yang sebenarnya? Kenapa ia nampak kesulitan untuk mengucapkan “Laa ilaha illallah”Setau saya Alqamah adalah hamba yang rajib beribadah lagi taat”. Dengan tegas ibu Alqamah menjawab “itu karena saya yang murka kepadanya”. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menanyakan lagi perihal seorang ibu yang hingga murka kepada anaknya yang shalih, “Mengapa engkau murka kepada Alqamah?”. Kemudian dijawab ibunda Alqamah, “Ini karena Alqamah lebih mementingkan istrinya dibandingkan dengan aku ibunya. Alqamah telah menyakitiku. Ia berani menentangku demi untuk menuruti keinginan dari istrinya. Jawab ibu Alqamah.
Kini Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengerti mengapa Alqamah yang taat beribadah dalam keadaan sakaratul maut sulit mengucapkan “laa ilaha illallah” tersebut karena ibu Alqamah telah murka kepada anaknya. Sesaat kemudian, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memanggil Bilal dan menyuruhnya untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk Alqamah. Mendengar hal tersebut ibu Alqamah kemudian bertanya, “Yaa Rasulullah, mengapa engkau membakar anakku didepan kedua mataku? Bagaimana perasaanku nanti saat melihatnya? Ibu mana yang tega melihat anaknya dibakar tepat didepan matanya”.
Meski Ibunda Alqamah murka kepada anaknya, namun kasih sayangnya tidak tega jika Alqamah harus dibakar hidup-hidup. Rasulullah menjawab, “Wahai ibunda Alqamah, sejatinya siksa dari Allah diakhirat sangatlah kejam. Amal yang telah Alqamah kerjakan selama ini tidak dapat diterima oleh Allah karena murka yang engkau berikan. Kebaikan yang selama ini Alqamah lakukan dengan ikhlas tidak mampu menahannya dari siksa api neraka”. Jika engkau memang ingin Alqamah selamat dari api neraka, maka engkau harus memaafkan dan merelakan apa yang telah Alqamah lakukan”.
Mendengar hal tersebut, ibunda Alqamah pun kemudian memaafkan dan merelakan anaknya karena ia tak sanggup jika harus melihat Alqamah terbakar dan disiksa dalam api neraka. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh ibunda Alqamah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun meminta Bilal ra untuk mendatangi rumah Alqamah dan memeriksa apakah Alqamah sudah dapat mengucapkan kalimah tauhid atau belum. Ketulusan rasa maaf dan rela dari seorang ibu akan anaknya telah terbukti. Bilal ra yang telah sampai didepan pintu rumah Alqamah mendengar bahwa Alqamah telah mengucapkan kalimah “Laa ilaha illallah” dengan lancar dan wafat dalam keadaan yang baik.
Bilal ra pun masuk kedalam rumah tersebut dan menceritakan sebab Alqamah sulit untuk mengucapkan kalimah tauhid. Amal yang selama hidup Alqamah lakukan ternyata tidak mampu membendung murka dari ibunya sendiri. Setelah selesai mengurusi jenazah Alqamah hingga menguburkannya kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berwasiat kepada para sahabat dan seluruh kaum muslimin tentunya bahwa,
“Wahai seluruh sahabat Muhajirin dan Anshar, siapa saja yang lebih mengutamakan istrinya daripada ibunya maka ia terkena laknat Allah, Malaikat dan manusia semuanya. Bahkan Allah tidak menerima ibadahnya kecuali jika benar-benar bertaubat kepada Allah dan berbuat baik kepada ibunya dan meminta ridlonya. Sebab ridla Allah terpaut dengan ridla ibu dan murka Allah juga dalam murka seorang ibu.

Khatimah
Dari peristiwa di atas yang juga sering kita dengan dalam ceramah, tausiyah, kultum maupun khutbah-khutbah di bulan Ramadhan ini, harusnya kita sudah bisa ambil pelajaran berharga. Kita sibuk beribadah, berbuat baik dan beramal shalih lainnya, tanpa ridha seorang ibu, maka amal tersebut tidak mampu menyelamatkan kita diakhirat nanti sebagaimana wasiat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam diakhir cerita di atas. Hadist diawal tadi dari seorang shahabat yang bernama Muawiyah ibn Haydah ra dijawab Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam 3 (tiga) kali lebih utama seorang ibu dari seorang Bapak. Dan disana dikatakan hanya ibu dan bapak, yang berarti keutamaan istri setelah mengutamakan kedua orang tua.
Allahu’alam bishawab. []MZiS

Related posts