Beda Antara Perkataan & Perbuatan

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Muat Lebih

Peringatan untuk Pemimpin

Mahbub Zarkasyi

Hidup tidak dalam kehidupan Islam saat ini, menyebabkan banyak kemunduran dari segi akhlak. Kemunduran akhlak muncul di segala bidang. Salah satu diantaranya yaitu banyak orang yang mengatakan sesuatu, namun ia tidak melakukannya. Maksudnya, mereka menetapkan sesuatu aturan kepada orang lain, namun ia pun tidak mentaatinya. Seorang pemimpin atau yang dituakan mewajibkan kepada yang di pimpin atau yang lebih muda melaksanakan sesuatu, tetapi ia malah terbiasa tidak melaksanakan hal tersebut. Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala telah menyampaikan kebencian dan kemurkaan-Nya atas orang yang mengatakan sesuatu yang ia tidak mengerjakannya.
Di keadaan yang lain, seorang penegak hukum menegakkan hukum kepada kaum yang lain, namun tidak menegakkannya kepada kaumnya. Di keadaan yang lebih sering lagi terjadi, hukum seperti mata pisau. Tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Maksudnya, ketika orang-orang besar, petinggi negeri dan orang-orang kaya yang melanggar hukum, maka hukum itu tidak ditegakkan, sebaliknya ketika rakyat jelata dan kaum yang lemah lainnya melanggar hukum, maka hukum ditegakkan setegak-tegaknya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyampaikan hadist memperingati pemimpin yang memerintahkan seseorang untuk melaksanakan kebaikan, namun ia pun melalaikannya.
Hal ini diabadikan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam hadits sebagaimana dituturkan Usamah ibn Zaid ra, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum. Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. Sebaliknya, aku juga melarang kemungkaran tapi aku menerjangnya.’” (HR Bukhari dan Muslim).
Betapa banyak hari ini, seorang pemimpin dan penegak hukum yang memerintahkan kepada rakyatnya sesuatu hingga memberi sanksi bagi yang melanggarnya. Sebagai contoh fakta suatu kaum dilarang menggunakan fasilitas umum, namun kaum lain yang bagian dari kaumnya diizinkan untuk menggunakan fasilitas tersebut. Kadang seringkali terjadi suatu kaum yang membela diri atas kedzaliman malah dihukum sedang pelaku kedzaliman dibiarkan bahkan dibela. Ada juga fakta para penegak hukum yang memberi sanksi kepada pelanggar lalu lintas, tetapi ia pun melanggar aturan tersebut, dan tidak diperlakukan sama. Atau seorang penegak hukum yang menutup mata berlalunya pelanggar lalu lintas dari keluarga/kaumnya, namun memberi sanksi bagi kaum lainnya.
Di dalam sebuah organisasi, partai, ormas, sekolah, kampus dan lain sebagainya, seorang pemimpin disana mewajibkan pengikutnya untuk disiplin. Ketika pengikutnya tidak tepat waktu atau melanggar aturan organisasinya, maka akan di marah, dimaki, bahkan di sanksi. Sedangkan ketika yang tidak tepat waktu adalah sang pemimpin atau sang pemimpin melanggar aturan organisasi lainnya, seolah sang pemimpin kebal hukum. Seolah aturan tak berlaku bagi para pemimpin atau teman dekatnya dalam sebuah organisasi. Sungguh murka Allah dan ancaman Allah akan perbuatan mereka sangat besar.
Rasulullah Sahalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menunjukkan murkanya atas penegak hukum yang diberlakukan kepada orang yang lemah dan mentolerir bagi kaum yang terhormat di sisi mereka. Hal ini, sebagaimana hadist dari Aisyah ra berikut, Bahwa orang-orang Quraisy sedang digelisahkan oleh perkara seorang wanita Makhzum yang mencuri. Mereka berkata: Siapakah yang berani membicarakan masalah ini kepada Rasulullah saw.? Mereka menjawab: Siapa lagi yang berani selain Usamah, pemuda kesayangan Rasulullah saw. Maka berbicaralah Usamah kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Apakah kamu meminta syafaat dalam hudud Allah? Kemudian beliau berdiri dan berpidato: Wahai manusia! Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kamu ialah, manakala seorang yang terhormat di antara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Namun bila seorang yang lemah di antara mereka mencuri, maka mereka akan melaksanakan hukum hudud atas dirinya. Demi Allah, sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya. (Shahih Muslim No.3196)

Peringatan untuk Mubaligh

Tidak hanya kepada para pemimpin dan penegak hukum, peringatan keras juga Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada para Mubaligh sebagaimana firman-Nya, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Selain ayat di atas, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda sebagaimana hadits dari Anas bin Malik ra. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Saat malam Isra’ Mi’raj aku melintasi sekelompok orang yang bibirnya digunting dengan gunting dari api neraka.” “siapakah mereka”, tanyaku kepada Jibril. Jibril mengatakan, “mereka adalah orang-orang yang dulunya menjadi penceramah ketika di dunia. Mereka sering memerintahkan orang lain melakukan kebaikan, tapi mereka lupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca firman-firman Allah, tidakkah mereka berpikir?” (HR. Ahmad, Abu Nu’aim dan Abu Ya’la. Menurut al-Haitsami salah satu sanad dalam riwayat Abu Ya’la para perawinya adalah para perawi yang digunakan dalam kitab shahih).
Selain firman Allah Subhanahu Wata’ala dan Hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di atas, masih banyak lagi ayat dan hadist lainnya yang menunjukkan pengingkaran keras terhadap orang yang punya ilmu, tapi tidak mengamalkan ilmunya. Makanya, Allah Subhanahu Wata’ala pernah melaknat kaum Yahudi dan bila kaum muslim yang bersikap seperti ini, maka mereka termasuk orang yang mewarisi salah satu sifat orang Yahudi yang di cap sebagai orang-orang yang mendapatkan murka Allah disebabkan mereka berilmu namun tidak beramal. Lihat hari ini, banyak mereka di atas mimbar berkhutbah sesuai dengan orderan penguasa atau kaum yang membayarnya. Mereka memelintir hukum-hukum Allah sesukanya demi memperoleh harta dunia yang sedikit dan kedudukan dunia yang fana. Maka benarlah Islam mengelompokkan suatu kaum yang berilmu dengan sebutan Ulama Su’.
Di dalam hadist di atas dimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam perjalanan Mi’rajnya beliau menyaksikan orang-orang yang bibirnya digunting. Gunting tidak sembarang gunting, namun gunting dari neraka. Panasnya tidak terkira, tajamnya juga pasti kita tak kan mampu membayangkannya. Malaikat Jibril pun menjelaskan kepada baginda tentang siapa mereka, yaitu mereka yang mengabarkan suatu kewajiban, namun mereka melalaikannya. Mereka yang menetapkan suatu perkara, namun mereka melepaskan diri dari keterikatan kepadanya.

Kehidupan tidak di dalam Negara dengan sistem Islam memang besar potensi terjadi pelanggaran terhadap Syariah Allah. Manusia tidak takut mengatakan sesuatu namun mereka tidak mengerjakannya. Manusia saat ini, banyak yang melupakan azab pedih terbenam di dalam nerakanya Allah bila melanggar syariat-Nya. Tidak diterapkannya Syariat Islam menambah penyebab manusia tidak hawatir akan azab Allah tersebut. Begitu juga sebaliknya, atas kebajikan-kebajikan dunia, manusia banyak mengerjakannya hanya mengharapkan mashlahat dunia saja dan melupakan ganjaran Syurga Allah. Akhirnya, kebaikan pun tak didasarkan kepada Syariat, namun hanya persangkaan manusia saja.
Allah Subhanahu Wata’ala pun telah mengingatkan untuk selalu ingat dan terikat pada yang Allah tetapkan sebagaimana firman-Nya, (Dan) Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan (hukum) akan ada pilihan (hukum lain) tentang urusan mereka. (TQS al-Ahzab [33]: 36)

Khatimah

Wahai kaum muslimin, takutlah kepada Allah. takutlah akan azab yang pedih dari Allah Subhanahu Wata’ala. Sungguh kehidupan dunia bila tidak distandarkan kepada Syariah Islam, merupakan kesenangan yang menipu. Hawatirlah akan fitnah dunia. Rindulah kalian semua kepada janji Allah yang akan memberikan kenikmatan Syurga seluas langit dan bumi.
Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya. Mari kita jaga lisan kita untuk untuk selalu berbicara kebenaran. Kemudian, dengan kebenaran yang kita sampaikan, kita mengikatkan diri kepadanya. Sehingga kita tidak termasuk kedalam golongan kaum yang mendapat ancaman-ancaman azab Allah sebagaimana diuraikan pada ayat-ayat dan hadist-hadist di atas. Perbanyak melakukan amal-amal Shalih dan bergaul dengan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Aamiin… aamiin… yaa Rabbal’aalamiin.(****).

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. [] MZiS

Pos terkait